Pribadi yg sukses ketika dia selalu berani untuk mencoba, karena dari mencobalah akan kita ketahui potensi kesuksesan, jika anda gagal untuk mencoba, maka disitulah benih2 kesuksesan diri anda, jika anda berhasil dalam mencoba, maka di situlah letak kualitas anda..sehingga terwujudlah identitas mu dalam mencoba...
Monday, 30 January 2012
Sunday, 29 January 2012
MENGINTIP KEPRIBADIAN & KEBERSAMAAN MAHASISWA RANTAU MELALUI PERBANDINGAN PENGALAMANKU
Kembali lagi tangan ini berkarya, setelah
beberapa bulan meninggalkan kebiasaan saya yaitu menulis
Selamat membaca hati dan pikiran saya
Dipersembahkan
kepada teman2 Kost Patimura 85 C & Teman angakatan progdi sosiologoi 09
Makna etis yang akan hadir
Dalam perkembangan jaman dari tahun ke tahun semakin memaksa
kita untuk masing-masing membekali diri untuk bisa tetap tampil eksis dalam
kompetisi kehidupan. Salah satu bekal yang cukup manjur yang digunakan dalam
kompetis tersebut adalah pembekalan ilmu pengetahuan, yang itu bisa di dapat
dari berbagai macam metode, salah satunya adalah di bangku pendidikan. Dimensi
pendidikan ini memang sangat penting bagi generasi penerus dalam
organisasi-organisasi sosial , itu alasanya bagi banyak orang berusaha untuk
meperioritaskan pendidikan untuk tetap bisa membentengi keturunanya mereka,
karena kenapa, ini lagi-lagi terkait dengan prospek untuk tetap bisa bertahan hidup, dan juga tetap
survaiv.
Dalam
pendidikan memang yang dituntut adalah mutu sebuah pendidikan, agar ini bisa
menjadi basis stimulus mereka sebagai motto perubahan, hal ini jugalah yang
mejadikan sebagian orang melakukan seleksi terhadap pilihan untuk mereka
jadikan ruang share untuk pembekalan diri mereka, itulah yang menjadikan
sebagian orang memilih untuk keluar daerahnya mereka, demi mengejar suatu makna
yaitu mutu. Perlu ada pengakuan bahwa di dalam pencarian bekal tersebut terjadi
persaingan intelektual yang cukup kritis, namun persaingan tersebut di bawa
iringan nilai-nilai normatif yang bersifat formal. Tetapi dari persaingan
tersebut yang juga menjadi sebuah eksperimen terhadap apa yang sudah kita raih
dari bangku pendidikan tersebut.
Sebuah ruang
share tersebut yang disebut dengan universitas, kini menyediakan berbgai macam
penunjang pendidikan yang itu juga menjadi sebuah ruang di mana para mahasiswa
membangun sebuah relasi dengan lingkungan akademik, mereka saling bertukar
pikiran dengan pengalaman mereka masing,-masing yang itu sudah menjadi modal
sosial mereka. Berangkat dari sebuah pengalaman menjadi seorang mahasiswa
rantau, yang hidup berdampingan dengan orang-orang yang berbeda budaya. Dan
pada akhirnya kita akan dipaksa oleh lingkungan untuk bisa membangun
sebuah integrasi dengan teman mahasiswa
yang lainya, dan juga masyarakat setempat, lalu apa yang bisa kita maknai dalam
hal tersebut, ini tidak lain sebagai tempat untuk melakukan sebuah pengenalan
tentang keporibadan kita terhadap lingkungan terbaru. Hal ini terasa dalam
pergumulan saya bahwa di situ jugalah saya sedikit mengerti tentang siapakah
aku sebenarnya, sejauh mana saya melihat kualitas kepribadianku, ketika saya
bisa membangun sebuah relasi yang etis dengan teman se akademik saya. Tidak hanya
itu saat masyarakat melihat sosok saya dan mereka memberikan hasil pengamatanya
tentang kepribadian saya dan kemudian saya rangkum dalam catatan-catan yang
sebut sebagai diariy pengalaman. Penelian tersebut datang dalam waktu yang tak
terduga dan juga tanggapan yang begitu beraneka ragam. Entah itu kritik
apresiasi, pelajaran, semuanya saya hanya memberika satu makna saja itulah yang
saya sebut proses pembentukan saya.
Saya juga
membayangkan pengalaman saudara yang lainya yang hidup di tempat rantau, bahwa
pergumulan saya pun akan hadir dalam proses saudara-saudara, namun yang mungkin
membedakan hanyalah respon terhadap pengalaman tersebut, tetapi setidaknya kita
pasti menemukan paling tidak sejauh mana kemampuan kita mengelolah hal
tersebut. Tetapi saya kembali lagi terhadap asumsi tentang keberadaan kita di
tempat yang saya sebut rantau, bahwa tentunya kita semua punya pesan dari
pertama kita melangka menuju ke tujuan tersebut, pastinya hal tersbut tidak
terlepas dari peran orang tua, mereka memberikan kita berupa harapan yang akan
memacu spirit kita dalam perjuangan tersebut. Entah itu kita pegang erat pesan
tersebut atau nda itu kembali lagi kepada kepribadian si perantau tersebut,
gagal dan berhasil adalah dua hal yang akan pasti hadir dalam kompetisi
kehidupan tersebut, dua hal itu adalah konsekuensi terhadap apa yang kita
lakukan. Jadi berpikirlah sebelum anda bertindak supaya konsekuensi yang ada
raih adalah selalu baik.
Suka Duka
Menjadi seorang mahasiswa bukanlah hal yang sulit, tetapi menyelesaikan
status kemahasiswaan kitalah yang terkadang rumit, standar kelulusan mahasiswa
di seluruh indonesia adalah 4 tahun itu
syarat S1, lalu bagaimana jika melewati syarat tersebut, ini tentunya
memunculkna pertanyaan yaitu mengapa terjadi demikian..???? hemmm tentunya
jawaban yang akan diperoleh pasti beragam, bisa jadi kendala ekonomi, bablas
dalam bergaul akhirinya lalai dalam perkuliahan, malas, dll. Apakah anda
termasuk hehehe mudah-mudahan tidak, kalau saya si masuk yaitu malas tetapi nda
terlalu kok...!!!! tetapi semua itu perlu lagi kita melakukan perenungan saat
kita melakukan sesuatu, apalagi itu sudah melewati koridor tanggung jawab inti,
ini yang seharusnya selalu di ingat bahwa sebgai mahasiswa rantau tanggugng
jawab yang di genggam begitu besar, itu alasanya kita harus selau jelih dalam
memilah apa yang seharusnya dilakukan, kira-kira ini tidak berdampak buruk
dengan tujuan utama kita sebagai mahasiswa.
Memang perlu
juga ada pengakuan bahwa beberapa mahasiswa terlambat dalam menyelesaikan
studinya oleh karena desakan ekonomi yang kurang memadai, sehingga si mahasiswa
kulianya benar-benar sangat dikondisikan oleh finansial (uang), sepengalaman
saya dengan membangun relasi di antara teman-teman mahasiswa, kebanyakan mahasiswa yang kurang mendukunga
ekonominya di level mahasiswa, justru mereka yang memiliki skil akademik yang
luar biasa, ini menjadi sebuah kendala besar juga bagi sebgaian mahasiswa, jika
di satu sisi secara intelektual mereka bisa namun karena terkendala dengan keuangan akhirnya studinya
terkadang tersendat. Tetapi sejauh ini di dalam pergumulan saya teman-teman
yang justru keadaan seperti demikian justur mereka lebih cenderung menujukan
motivasi yang sangat “eksklusif” tetapi bermakna, di sinilah aku kembali sadar
bahwa ternyata uang bukanlah persoalan yang teralu serius, akal masi ada pada
posisi yang tertinggi dalam proses kompetisi kehidupan.
Tetapi suka
duka yang berlaku hampir secara universal di kalangan mahasiswa adalah saat
tanggal tua tiba, di mana masa-masa ini isi kantong pasti sunyi, apalgi jika
kita tidak pandai mengatur keuangan pastinya kesulitan juga, jika suda melawati
tanggal 20 ke atas pastinya mahasiswa suda mulai menyisip ke maisng-masing saku
celananya kira-kira masi ada rece, kumpulin koin satu per satu paling tidak
untuk semangkok indo mie, atau kah 2 lauk sejoli tahu tempe hehehe,, tetapi
jika mahasiswa punya langganan tersendiri enak kan bisa ngutang tanggal muda
baru bayar. Sunggu suka duka yang sangat
asik jika itu dapat terlewati. Tetapi satu makna kebaikan dari teman2 ketika
mereka masi bisa membagi mereka punya sisa uang jika mereke masi punya,
disitulah saya juga menemukan bahwa benar bahwa kitalah mahluk yang paling
sempurna di antara mahkluk yang lain. Rasa ingin berbagai dalam pergumulan tersebut
sangat tampak, apalagi teman 1 kost ataukah kontrakan, pastinya solidaritas
benar-benar terbangun kesan-kesan seperti inilah yang pertama kali selalu
mewakili cerita-cerita mahasiswa saat mereka melepaskan titelnya sebagai
mahasiswa, sungguh sebuah kebersamaan yang sangat indah dan sulit terlukiskan
di pengalaman-pangalaman yang lain. Saat saya menggagas tulisan ini saya sangat
kagum dengan pengalaman yang saya lalui bersama dengan teman-teman se akdemikq
dan juga teman kost PATIMURA 85 C (kalian adalah saudara terbaruku yang sangat
baik)..
Akhir kata dari tulisan
ini adalah railah cita-cita mu seuai dengan harapan mu, dan peganglah kunci
kepribadian mu saat engkau berjuang sehingga tidak mudah terjatuh dalam
kompetisi kehidupan. Semoga teman-teman mahasiswa yang membaca tulisan ini,
menjadi mahasiswa yang benar-benar kritis inovatif dan terampil, salam
perjuangan teman-teman.
Wednesday, 2 November 2011
EMOSI BENAR-BENAR MEMBUNUHMU
Saya sama sekali
tidak memerlukan hal ini
Saya kurang
bijaksana,
Saya seharusnya
menjaga mulut besar saya tetap tertutup
Maka bacalah bibir
saya.
Dalam dua bulan terakhir ini saya
sempat menghilang dari kebiasaan saya
untuk menulis, itu karena kesibukan benar-benar menegepung diriku, maka
di samping kesibukan saya ini, supaya tidak stress, maka saya meluangkan waktu senggang saya untuk kembali
melahirkan Tulisan, yang itu
menjadi pengalaman yang saya alami
selama ini, yaitu Emosi. Dari sifat inilah saya merassakan saya sering terjatuh
dari komptisi kehidupan yang sudah pasti bagi diriku, itu karena Emosi, jadi
saya akhirnya mengambil topic yaitu EMOSI
BENAR-BENAR MEMBUNUHMU.
Sebuah keyakinan bagi banyak orang
adalah bahwa kehidupan kita akan menjadi luar biasa ketika kita mampu
mengendalikan situasi yang eksternal. Namun banyak sekali bukti yang sebaliknya.
Kualitas kehidupan kita yang sebenarnya
berasal dari respons internal kita. Respon ini datang dari sikap yang berbeda.
Dan tentu saja pengalaman yang dirasakan masing-masing berbeda. Masing-masing
dari kita menentukan kualitas kehidupan kita melalui keyakinan inti yang
memengaruhi perilaku kita.
Untuk mengetahui bagaimana emosi
mempengaruhi kita, ada gunanya untuk memahami apa sesuatu tentang sifat dasar
emosi. Emosi adalah riil gejolak perasaan yang kuat! Perasaan ini adalah reaksi
otomatis yang mencerminkan pengalaman masa lampau kita. Emosi adalah bagian
instingtif dasar (orisinal, primitive,
fundamental) dari wujud kita. Jika anda perna membaca tulisan Julia Bondi yang berjudul Unveiling the
Miysteries Of Sex and Romance (Mengungkap miysteries seks dan Romantisme),
di dalamnya Bondi meyakini bahwa reaksi emosional instingtif terhadap situasi
bisa membantu kita mengenali keyakinan ini yang tidak disadari. “manusia sudah
melakukan revolusi sehingga tidak lagi hanya menjadi mahluk emosional yang
reaktif dan instingtif. Kita sekarang memiliki kekuatan pikiran yan
dikaruniakan oleh Tuhan untuk mengunakan dan memanfaatkan energy emosi kita.
Emosi sebagai respons selalu ada, siap untuk dirasakan. Pengalamn merangsang
semua itu. Demikian juga berpikir mengenai segala susuatu! Kita bereaksi secara
emosional dan penjelasan yang kita berikan kepada diri sendiri untuk mengespresikan
dan mengatasi apa yang kita rasakan secara instingtif , biasa berkembang
menjadi sebuiah keyakinan yang tidak disadari. Dalam beberapa hal, kita
merasakan emosi dan kemudian berusaha memberi alasan untuk menghilangkan setiap
luka”
Karena emosi bersifat dasar atau
instingtif, otak dan pikiran merupakan cara kita untuk berhubungan denganya dan
juga untuk mengarahkanya mereka secara benar. Bereaksi begitu saja
terhadap emosi, tampa memikirkan segala
sesuatu, sering kali bias membuat kita
mengatakan atau melakukan hal-hal yang belakangan kita sesali. Pikiran sadar
membantu kita menghadapi emosi kita secara konstruktif, asalkan kita tidak
mengunakan pikiran kita untuk menilai atau menyangkalnya. Pemikiran yang benar
akan memungkinkan kita untuk mengubah keyakinan batin kita, sehingga kita bisa
menyesuaikan kembali dengan emosi kita secara sehat dan bermanfaat.
Tetapi saya menyadari bahwa memang
kecenderungan orang ketika larut dalam sebuah persoalan, pastinya kesan pertama
yang akan terlihat adalah emosi, hal ini pun tidak asing menurutku, karena
pengalaman saya pun demikian adanya. Namu saya selaku mencoba utntuk terlepas
dari sikap tersebut, aku selalu berusaha untuk tidak terperangkap dalam
belenggu emosi yang berlebihan. Namun saya hanya ingin mengatakan bahwa jangan
sampai dengan emosi dalam diri yang kemudian hidup kita di sulap menjadi sebuah
malapetakan dalam pikiran. Jadi
menurutku sikapilah sebuah masalah dengan lapang dada. Aku selalu ingat sebuah
pesan bahwa kebahagian maupun kesuksesan
sejati sesungguhnya berawal dari timbulnya masalah yang berhasil di atasi
dengan baik.
TIDAK ADA ORANG YANG
BAHAGIA SELAMANYA
JANGAN BERTANYA KEPADA ORANG LAIN APA ITU MAKNA HIDUP, TETAPI TANYAKANLAH TERHADAP DIRIMU TERDAHULU
Orang yang
sedang di lingkari dengan berbagai kegagalanlah yang akan selalu mempertanyakan
apa itu makna hidup, namu pernahka kita berpikir bahwa apa yang telah saya
hidupkan dalam hidup ini, sering ka kita merenungi apa yang telah kita lakukan
sebelumnya. Aku meyakini bahwa hidup ini penuh dengan makna, itu artinya saya
dituntut untuk melakukan hal-hal yang selalu bermakna dalam kehiduan, namun tak
dapat dipungkiri terkadang kita melakukan hal-hal yang konyol, yang dapat
ditertawai, oleh orang lain bahkan diri kita sendiri saat mengingatnya, itu
yang saya sebut sebagai proses. Tetapi sadarkah kita bahwa anda diberikan angerah
oleh Tuhan yaitu akal dan Budi, yang akan kamu gunakan menggali potensi-potensi
kehidupan yang penuh makna ini. Kadang kita mengabaikan hal ini, padahal disitulah
anda memulai langkah awal untuk mencari sebuah harga diri demi makna hidup.
Aku
selalu berpikir bahwa semua tindakan yang kita ucapkan itu akan berimplikasi
pada sebuah makna. Jika kita memahami apa yang disebut dengan berpikir
realistis maka anda akan selalu melontarkan beribu-ribu makna bagi banyak
orang, ingat 1 makna dapat memberikan
banyak kekaguman bagi banyak orang. Saya selalu menyadari bahwa apa yang saya katakana
tidak selau benar namun minimal saya
mengerti apa yang saya lakukan, menurut tidakan awal saya. Meskipun mungkin
kita sudah terlebih dahulu membuat pembenaran-pembenaran diri. Namun itu belum
tentu anda bisa memberikan pemahaman
bagi banyak orang untuk meberikan
komentar atas apa yang anda pikirkan kemudian anda ucapkan, inilah yang sisebut
sebagai hipotesis.
Hadiah
dari kehidupan adalah hidup itu sendiri, maka dari itu sebelum anda sampai
kepada pertanyaan yang mendasar bahwa apakah “makna hidup” itu, terlebihlah
mempertanyakan apa yang anda pahami tentang hidup, karena saya meyakini bahwa
kunci kehidupan bagi manusia, itu ada pada manusia itu sendiri. Jawaban yang
akan anda terimah dari orang lain tentang makna kahidupan itu sendiri, akan
tidak pernah menemukan titik temu yang tepat. Ingt bahwa manusia porsi
kehidupanya semua sama, manusia A dapat Berpikir, B pun demikian, itu artinya
jika anda mempertanyakan kepada mereka, berarti anda telah memberikan
persoalan-persoalan anda kepada orang
yang sama. Memang jika dikaji lebih dalam bahwa manusia memang harus hidup
bersama, jika manusia hidup sendiri maka ia akan binasa, pesan dari kaliamat
itu adalah orang lain disekeliling kita hanyalah sebagai objek untuk menanyakan
tentang gambarn atas diri kita, dengan seolah bercermin dari kegagalan mereka,
keberhasilan mereka, dan kemudian kita melakukan perbandingan-perbandingan atas
apa yang mereka alami, jadi teman,
kenalan saudara, oran tua, yang dekat dengan kita, mereka hanya bisa memberikan
apa yang disebut dengan solusi.
Sunday, 23 October 2011
SAYA BUKAN KOPI,MIE,TELUR, NAMUN AKU ADALAH KEGAGALN ITU SENDIRI
Bangga rasanya bisa kembali melahirkan tulisan baru, silakan di simak,
Seorang
anak mengeluh ke pada ayahnya, tentang kehidupanya, dan ia menanyakan mengapa
hidup ini terasa begitu berat untuknya. Anak ini tidak tahu bagaimana
menghadapinya dan hampir menyerah. Ia sudah merasa lelah dalam berjuang. Setiap
kali ia berhasil dalam menyelasaikan masalahnya, pasti akan timbul lagi masalah
baru. Ayahnya bekerja di warung makan, ayahnya kemudian mengajaknya ke
dapur, ia mengambil panci dan menuangkan
air ke panci tersebut, kemudian ia menyalakan kompor, ia merebus air tersebut.
Setelah air di panci sudah mendidih, lalu ia menuangkan ke gelas yang sudah di
isi dengan bubuk kopi dan juga gula, sisah air itu kebetulan di dapur ada Mie
dan telur, ia skalian menyisakan air itu untuk merebus mie bersama dengan telur.
Anak ini membiarkan ayahnya terus
bekerja di dapur tanpa ia mengeluarkan sepatah kata pun, ia sambil bersandar di
kursi hingga ayahnya selesai. Sekitar 20 menit ayahnya, mematikan kompor,
kemudian ia mengambil mangkok kemudian ia menuangkan indo mie yg telah direbus
itu, dan juga sebutir telur setelah selesai merebus mie dan jg telur, juga ia
menuangkan air panas itu ke gelas yg telah diisi dengan bubuk kopi. Lalu ia
mengantarnya di depan anaknya, kemudian ia berkata “Apa yang kamu lihat Nak..?”
sang anak menjawab Mie, Telur, dan Kopi. Kemudian ayahnya mengajaknya untuk
mencicipi indo mie telur yang telah di sajikanya di meja, kemudian ia kembali berkata, mienya
terasa lembut dan aromanya sangat terasa di tambah telur yang empuk menjadikan
mie ini semakin enak, terakhir ayahnya menyuruh untuk mencicipi kopi yang juga
telah di buatnya, setlah anak ini mencicipi kopi dengan aroma yang sangat khas,
dan nikmat. Setelah itu, si anak bertanya lagi. “apa arti semua ini, Ayah?”
Ayahnya kemudian menerangkan bahwa
ketiganya telah menghadapi kesulitan yang sama, yaitu perebusan. Tetapi
masing-masing menunjukan reaksi yang berbeda. Kopi sebelum di rebus tak
memiliki rasa yang nikmat, dan aroma yang khas dan juga bubuk yang unik, tetapi
setlah direbus, kopi kemudian menyatu dengan air, yang akhirnya mengeluarkan
aroma yang nikmat. Mie sebelum di rebus, keras, dan mudah dipatahkan begitu pun
dengan telur sebelum di rebus ia mudah pecah, tetapi setelah di rebus, isi
telur ini menjadi beku, dari ketiganya “kamu termasuk yang mana”? Tanya ayahnya
. ketika kesulitan mendatangi mu, bagaimana kamu menghadapinya, apakah kamu
Mie, Kopi, atau Telur.?
Bagaimana dengan anda? Apakah anda
adalah Mie yang kelihatanya keras, tetapi dengan adanya penderitaan dan kesulitan,
anda menyerah menjadi lunak dan kehilangan kekuatan. Atau apakah anda adalah
telur, yang awalnya memiliki hati lembut? Dengan jiwa yang dinamis, namun
setelah adanya kesulitan, patah hati, perceraian ataukah pemecatan kamu menjadi
keras dan kaku. Dari luar kelihatan
sama, tetapi apakah anda menjadi pahit dank eras dengan jiwa dan hati yang
kaku.
Ataukah anda adalah bubuk kopi ?
bubuk kopi mengubah air panas, sesuaut yang menimbulkan kesakitan, untuk
mencapai rasanya yang maksimal pada suhu 100 derajat Celsius. Ketika air
mencapai suhu terpanas, kopi terasa semakin nikmat dan membuat keadaan di
sekitar anda juga membaik.
Sikap
kita menghadapi musiba, kegagalan, kekecewaan dan sejenisnya sangat tergantung
sejauh mana pemahaman kita terhadap hakekat yang menciptakan (peristiwa).
Keyakinan terhadap Tuhan bahwa segala peristiwa yang dikehendaki-Nya akan
memberikan hikmah besar terhadap manusia merupakan langkah awal yang baik. Kita
harus yakin bahwa semua peristiwa dan semua mahkluk di alam yang maha luas ini
sudah di atur oleh Sang Maha Kuasa. Dngan demikian kita akan merasa sangat
lemah di hadapan-Nya, mengharap segala pertolongan-Nya, dan bergantung kepada
segala keputusan-Nya.
Musibah
ataupun kegagalan tidak selalu identik dengan kesialan, kedudukan, kesia-sian,
dan peristiwa negative. Tetapi , justru bisa jadi berarti peristiwa yang
membawa pengaruh positif dan pemompa semangat hisup bagi manusia untuk
bercermin diri, dan menata kehidupan ke arah yang lebih baik. Sebagai manusia,
kita harus memaknai musibah denga perspektif yang baik dan benar. Kisah di atas
mengajarkan kita bahwa sebuah musibah kegagalan, yang di ibaratkan air panas,
mengandung hikmah positif bagi manusia sebagai sarana mengukur kekuatan kita
dalam menghadapinya. Di sinilah kualitas
diri akan terlihat apakah dia memiliki mental serta hati yang kuat dalam
kehidupan keseharianya atau tidak. Ada kalimat yang mengatakan bahwa “Manusia
sama saja tatkala sama-sama dilimpahi hikmah, namun ketika cobaan datang
menimpah, saat itulah akan terlihat perbedaan-perbedaanya. Jika kita semakin
yakin dan tegar menghadapi musibah itu, maka semakin berkualitaslah tingkat
diri kita. Demikian pula sebaliknya, jika kita menjadi rapuh dalam menghadapi
musibah maka mengindikasikan kualitas diri kita yang begitu rendah.
Kita seharusnya mengandaikan bahwa hidup ini layaknya uang yang memiliki
dua sisi. Kita tidak luput dari hakekat
hidup yang selau di pertemukan dengan sisi kehidupan yang sulit, dan yang
mudah, semuanya akan selalu hadir dalam mebayangi proses misi hidup ini. Jadi
sesungguhnya sifat hidup ini yang saya maksudkan di atas itu sebenarnya satu
paket. Einstein mengatakan bahwa terpuruk dalam masalah merupakan peluang hebat
untuk kita. Pesan yang ingin
disampaikan adalah bukan berarti saat kita mengalami masa-masa terpuruk, kita
kemudian mengambil keputusan bahwa saya tidak mampu, putus asa, kecewa dengan
gagasan-gagasan sendiri, namun ini mengingatkan kita bahwa hargailah seluruh
perjuangan anda, karena semunya melibatkan hati, pikiran anda, kita tidak
menuntut sebuah keberhasilan, namun kita hanya menuntut berhasil dalam mencoba.
Namun hanya saja tak
semua orang menyadari akan hal itu. Sebagaimana orang akan berhenti manakalah
mengalami sebuah kegagalan. Pada hal, kegagalan itu bukanlah sebuah kesalahan. Jika
kita bisa menyimak dan mengambil pelajaran dari kegagalan , maka bukanya tidak
mungkin kita akan mencapai kesuksesan.
Yang perlu kita lakukan pada saat kita mengalami kegagalan adalah intropeksi
diri. Teliti diri sendiri terlebih dahulu, kenapa bisa gagal .mungkin kita
kurang kerja keras atau mungkin inisiatif, dan seterusnya. Tampa kesedihan juga
kita tidak akan mengerti arti kebahagian. Justru itulah, kesedihan akan membuat
kita bangkit untuk meraih kebahagian. Saat kita dilanda kesedihan, berhentilah
melayani perasaan dan pikiran jika memang ingin terlepas ari belenggu
penderitaan hidup.
Jadi saya bukan Mie,
saya bukan kopi, dan telur tetapi saya adalah “kegagalan itu sendiri”, akulah
sentralanya.
*SEMOGA BERMANFAAT*
Tuesday, 27 September 2011
Kumpulan Pepatah Lucuq....Goooooooo (pokoknya agan ngakak)
1. Bersatu kita teguh, bertiga kita threesome
2. Sepandai-pandainya tupai melompat, pasti disate juga3. Bagai air di daun talas, kurang kerjaan banget ngamatin air di dedaunan
4. Ada gula ada semut. Ada semut disemprot pake Baygon. Ada banyak semut mati
5. Rajin Mangkal, Kaya
6. Air tenang jangan disangka tak ada buaya, tapi ada ikan paus lagi tidur siang
7. Bersatu kita teguh, bercerai kita ke Take Me Out
8. Rajin pangkal pandai, hemat pangkal kaya, yang enaK-enak pangkal paha, rame-rame pangkalan ojek
9. Ada ubi ada talas. Ada Budi ada Anduk
10. Uang cucuran masyarakat jatuhnya ke DPR juga
11. Semut di seberang lautan keliatan, gajah di pelupuk mata kelilipan
12. Cinta ditolak, dukun beranak
13. Jauh di mata, dekat di hati, boros di pulsa.
14. Sedikit demi sedikit lama lama bosan
15. Bagai kejatuhan durian runtuh, baru kali ini ada orang kejatuhan durian malah seneng
16. Air susu dibalas dengan air kopi item, jadi kopi susu deh
17. Bersatu kita teguh, bercerai kita masuk infotainment (motto selebritis)
18. Berat sama dipikul, ringan sama dijinjing, sama-sama berat mending dipaketin aja
19. Air susu dibalas Air Supply
20. Sambil menyelam minumnya tetap teh botol Sosro
21. Sate padang sebelum hujan
22. Buruk rupa, cermin pun disalahkan
23. Ringan sama dipikul, berat minta dibawain
24. Single itu prinsip, jomblo itu nasib
25. Wong ompong nyaring bunyinya
26. Ke bukit sama mendaki, ke lurah bikin KTP
27. Nasir sudah menjadi tukang bubur
28. Dimana ada jalan, disitu banyak mobil
29. Bagai kacang lupa atomnya
30. Bagai buah simalakama, tidak dimakan Ibu mati, dimakan Bapak kimpoi lagi
31. Setinggi-tingginya Bangau terbang, akhirnya jadi kecap juga
32. Buruk muka nggak masuk majalah
33. Ada uang ada barang, nggak ada uang rampok bank
34. Jauh di angkot, dekat naik ojek
35. Air beriak tanda ada yang tenggelam
36. Lebih baik berputih tulang dari pada putih badan karena panuan
37. Besar pasal daripada tilang
38. Tua-tua keladi, udah tua jadi biang keladi
39. Jangan ada janda di antara kita
40. Air beriak tanda ada yang boker
41. Tak kenal maka tak sayang, mau kenalan digampar pacar
42. Ada udang di balik tepung kentucky
43. Bagai telur di ujung handuk
44. Bagaikan Jemuran tertiup angin
45. Malu bertanya, sesat di jalan. Banyak bertanya, dikira wartawan
46. Anjing menggonggong, maling kulkas berlalu
47. Habis kumis, cukur dibuang
48. Malu berak, sesak di jalan
49. Surga anak ada di telapak kaki ibu, surga bapak ada di antara kaki ibu.
50. Sekali melambai, dua tiga banci mengikuti
51. Karena sperma setitik, bengkak perut tetangga
52. Guru kencing jongkok, murid berlari ngintip
53. Ma’ lu bertanya, Ma’ gue yang jawab
54. Maksud hati memeluk Nunung, apa daya keburu digampar Badrun
55. Dimana ada kemauan, di situ ada kemaluan
56. Dunia maya tak selebar monitor
57. Malu bertanya, sesat di jalan. Besar kemaluan, susah berjalan
58. Lebih baik pulang tinggal nama, daripada gagal di malam pertama.
59. Hormatilah wanita, niscaya engkau akan diberikan kehormatannya.
60. Dalam pantat yang sehat, terdapat kentut yang kuat.
61. Bekerja keraslah, karena yang keraslah yang mampu “bekerja”.
62. Bukan salah bunda mengandung, salahkan bapak yang menaruh burung.
63. Tidurlah sebelum kamu ditiduri.
64. Maju perut pantat mundur.
65. Tak ada gadis yang tak retak.
66. Sepandai-pandai menyimpan istri Muda, akhirnya tua juga
67. Tak ada bini, jajan pun jadi.
68. Banyak belajar banyak lupa, sedikit belajar sedikit lupa, tidak belajar tidak lupa.
69.Sambil Menyelam Glagepan, Abis Glagepan Masuk Kuburan
70. Jauh di mata dekat di kaca (moto supir angkot)
Monday, 19 September 2011
MASIKAH NEGARA INI “LAYAK” DI SEBUT SEBAGAI NEGARA HUKUM
Seruan yang sering kali kita dengar dalam media. Baik elektronika,
media cetak, adalah kritik atas nama pemerintah. Seruan tersebut
diekspresikan dengan berbgai cara, ada demonstrasi, via media, dan lain
sebagainya semuanya hanya memiliki cirri yang sama yaitu kritik kinerja
pemerintah. Semua masyarakat mungkin tau bahwa pemerintah memang hadir
untuk menjadi stimulus, pengontrol, kekuatan, untuk mengangkat nama
sebuah bangsa yang di huni oleh masyarakat banyak yang harus memiliki
karisma yang luar biasa di mata dunia itulah salah satu tujuan suatu
bangsa. Yah saya meyakini di tahun-tahun sebelumnya nama Indonesia,
dengan keperkasaan garuda, dan kibaran sang saka, pernah dikagumi oleh
dunia, karena kekayaan yang di miliki, di antaranya kekayaan budaya yang
di lambangkan oleh garuda, yang kemudia di aplikasikan dalam Panca
Sila, kekayaan alam yang begitu terkenal, dan satu lagi yang menjadi
kekaguman di mata dunia adalah Indonesia di kenal sebagai Negara
pluaralisme dan itu mampu di jaga menjadi damai dalam perbedaan, yang
kemudian muncul suatu motto bangsa ini yaitu “Bhineka Tungga Ika”
(berbeda-beda tetapi tetap satu jua).
Saaat kita telah berhasil mendobrak sebuah kekuasaan raksasa, di tahun 1998 di bawah pimpinan seorang jendaral yaitu Soeharto, dengan sikapnya yang sangat represif dan dictator, yang akhirnya menjadikan masyarakat untuk melakukan reformasi kekuasaan pmerintah, karena di nilai system soeharto tidak sesuai dengan nilai-nilai humanisme. Pada saat itu jugalah muncul berbagai gerakan dari berbagai kalangan turun ke jalan, ada Akademisi, Aktivis, Lsm. Yang kemudian menyatukan suara mereka dalam orasi untuk mendobrak kekuasaan raksasa dalam kejayaanya selama 32 tahun memimpin republic ini. Tak sedikit nyawa yang mlelayang dalam tragedy tersebut, tetapi itulah perjuangan dalam melawan rezim, yang di nilai sebagai resim yang penuh tanda Tanya. Mengutip pernyataan dari omm reks, salah satu dosen ilmu Hukum Uksw, mengatakan bahwa melawan sebuah kekuasaan sama dengan “Ingat melawan Lupa” .
Setelah tumbangnya resim soeharto pada tahun 1998, Indonesia memulai membuka lembaran baru, dekonstruksi dalam system kemudian di hidupkan di tata kembali. Dengan keyakinan bahwa kedepan harus jauh lebih baik. Dari gerakan-gerakan inilah yang dilakukan oleh para aktivis, mahasiswa 98 yang kemudian menghasilkan 6 butir agenda penting reformasi di antaranya;
Mungkin saya terlalu pragmatis dalam menilai sebuah scenario yang diperankan oleh elit bangsa ini, namun secara fundamental jika kajian kita memang betul-betul mengarah kepada ranah pengembangan suatu Negara yang dalam tahapanya sedang berkembang yang harus kita terapkan salah satunya adalah sikap pragmatis. Karena saya meyakini bahwa dalam sebuah organisasi yang besar, seperti Negara, dalam mengambil sebuah tindakan, putusan harus penuh dengan strategi yang matang di sinilah paragmatisme akan menampakkan dirinya.
Dengan semaki krtitisnya nasib bangsa ini yang kemudia menarik perhatian bagi para politikus di negri ini, yang kemudian mencoba untuk membandingkan resim harto dengan resim saat ini yang kita kenal sebagai era demokrasi. Beberapa opini yang beredar bahwa ada kerinduan terhadap rezim pak Harto. Bayak pula yang mengatakan bahwa lebih baik milih dictator, dari pada demokratis. Tetapi sebanarnya posisi dua kubu ini adalah dilema jika ditinjau dalam tatanan masyarakat Indonesia. Pemimpin yang demokratis di anggap lamban, dictator diprotes, nah akhirnya timbullah pertanyaan bahwa siapakah sosok pemimpin yang tepat dalam memimpin? Jawaban yang mungkin muncul adalah dua-duanya harus dimiliki seorang peimpin yaitu demokratis dan dictator. Nah ketika jawaban tersebut yang akan muncul maka saya tertarik mengunakan istilah sinergi, bahwa sikap demokratis dan dictator harus bisa bersinergi, tetapi bisakah kita melhat sifat sinergi itu dalam maindseet manusia. Yang mungkin sifat manusia itu bisa kita menilai dari tingka laku, komuikasi (bahasa tubuh) tetapi saya meyakini bahwa manusia tidak satu dimensi, tetapi ada dimensi lain yang paling terpenting. Nah inilah sebuah tanda Tanya yang besar bagi kita semua. Saya yakin jika supremasi hukum betul-betul ditegakkan dalam agenda seorang pemimpin maka saya yakin kedepanya dengan sendirinya akan berubah.
THANKS
Saaat kita telah berhasil mendobrak sebuah kekuasaan raksasa, di tahun 1998 di bawah pimpinan seorang jendaral yaitu Soeharto, dengan sikapnya yang sangat represif dan dictator, yang akhirnya menjadikan masyarakat untuk melakukan reformasi kekuasaan pmerintah, karena di nilai system soeharto tidak sesuai dengan nilai-nilai humanisme. Pada saat itu jugalah muncul berbagai gerakan dari berbagai kalangan turun ke jalan, ada Akademisi, Aktivis, Lsm. Yang kemudian menyatukan suara mereka dalam orasi untuk mendobrak kekuasaan raksasa dalam kejayaanya selama 32 tahun memimpin republic ini. Tak sedikit nyawa yang mlelayang dalam tragedy tersebut, tetapi itulah perjuangan dalam melawan rezim, yang di nilai sebagai resim yang penuh tanda Tanya. Mengutip pernyataan dari omm reks, salah satu dosen ilmu Hukum Uksw, mengatakan bahwa melawan sebuah kekuasaan sama dengan “Ingat melawan Lupa” .
Setelah tumbangnya resim soeharto pada tahun 1998, Indonesia memulai membuka lembaran baru, dekonstruksi dalam system kemudian di hidupkan di tata kembali. Dengan keyakinan bahwa kedepan harus jauh lebih baik. Dari gerakan-gerakan inilah yang dilakukan oleh para aktivis, mahasiswa 98 yang kemudian menghasilkan 6 butir agenda penting reformasi di antaranya;
- Penegakan supremasi hukum,
- Pemberantasan KKN
- Pengadilan mantan presiden Soeharto dan para kroninya,
- Amandemen konstitusi
- Pencabutan dwifungsi TNI/POLRI, serta
- Pemberian otonomi daerah seluas-luasnya.
Mungkin saya terlalu pragmatis dalam menilai sebuah scenario yang diperankan oleh elit bangsa ini, namun secara fundamental jika kajian kita memang betul-betul mengarah kepada ranah pengembangan suatu Negara yang dalam tahapanya sedang berkembang yang harus kita terapkan salah satunya adalah sikap pragmatis. Karena saya meyakini bahwa dalam sebuah organisasi yang besar, seperti Negara, dalam mengambil sebuah tindakan, putusan harus penuh dengan strategi yang matang di sinilah paragmatisme akan menampakkan dirinya.
Dengan semaki krtitisnya nasib bangsa ini yang kemudia menarik perhatian bagi para politikus di negri ini, yang kemudian mencoba untuk membandingkan resim harto dengan resim saat ini yang kita kenal sebagai era demokrasi. Beberapa opini yang beredar bahwa ada kerinduan terhadap rezim pak Harto. Bayak pula yang mengatakan bahwa lebih baik milih dictator, dari pada demokratis. Tetapi sebanarnya posisi dua kubu ini adalah dilema jika ditinjau dalam tatanan masyarakat Indonesia. Pemimpin yang demokratis di anggap lamban, dictator diprotes, nah akhirnya timbullah pertanyaan bahwa siapakah sosok pemimpin yang tepat dalam memimpin? Jawaban yang mungkin muncul adalah dua-duanya harus dimiliki seorang peimpin yaitu demokratis dan dictator. Nah ketika jawaban tersebut yang akan muncul maka saya tertarik mengunakan istilah sinergi, bahwa sikap demokratis dan dictator harus bisa bersinergi, tetapi bisakah kita melhat sifat sinergi itu dalam maindseet manusia. Yang mungkin sifat manusia itu bisa kita menilai dari tingka laku, komuikasi (bahasa tubuh) tetapi saya meyakini bahwa manusia tidak satu dimensi, tetapi ada dimensi lain yang paling terpenting. Nah inilah sebuah tanda Tanya yang besar bagi kita semua. Saya yakin jika supremasi hukum betul-betul ditegakkan dalam agenda seorang pemimpin maka saya yakin kedepanya dengan sendirinya akan berubah.
THANKS
Subscribe to:
Posts (Atom)
.jpg)