Wednesday, 15 February 2012

APAKAH ILMU ITU



Ilmu......?????
Sangat dekat dengan lingkup hidup manusia, ilmu nampaknya bukan lagi sesuatu yang asing bagi kehidupan, ilmu hampir setiap hari di kelolah dengan akal budi yang kita miliki, namun semua dari itu mungkin saya katakan sebagai sebua  manifestasi dari ilmu, ada batasan-batasan tertentu yang di sebut dengan ilmu. Dalam tulisan ini saya tertarik untuk menguraikan sedikit pengetahuan saya tentang ilmu itu sendiri, dan sekaligus dibantu beberapa buku yang saya jadikan sebuah pelengkap dalam bahasan tulisan ini.

            Dalam pergumulan saya dalam dunia pendidikan saya terkadang keliru dalam menginterpretasi ilmu itu sendiri, saya kadang mengartikan sebuah ilmu itu hanyalah kegiatan berpikir yang biasa saja. Namun hakekat ilmu tidak demikian. Ketika saya menyadari bahwa ternyata salah satu jalan untuk mencari kebenaran itu di peroleh melalui jalan ilmu, bukan mutlak sebagai satu-satunya jalan pencarian kebenaran yang dapat kita tempuh. Dari sifat itulah kemudian saya selalu berusaha untuk mengembangkan ilmu pengetahuannya untuk bisa mencapai kebenaran Empirik.

Lalu Apa yang kita sebut dengan ilmu...????
Paling tidak kita mengenal dua macam ilmu pengetahuan, pertama, pengetahuan, yang dalam bahasa inggris kita sebut sebagai Knowledge. Kedua, ilmu pengetahuan atau sering kita singkat sengan sebutan ilmu, yang dalam bahasa inggris sebagai Science. Ilmu itu sendiri dimaksudkan sebagai suatu pengetahuan yang  disusun secara sistematis, serta kebenaranya dapat diperiksa dan di uji kembali orang lain. Terkait dengan bahasan dari awal saya mengatakan bahwa ilmu harus punya batasan barulah disebut sebagai ilmu, batasan yang dimaksudkan adalah ilmu harus mencakup tiga ciri atau syarat yang pertama adalah, Ilmu harus logis, atinya disusun berdasar akal pikiran manusia. Kedua Ilmu harus tersusun secara sistematis. Ketiga harus bersifat obyektif.

Untuk dapat kita lebih mengerti dan paham batasan ilmu itu sendiri saya uraikan ketiga batasan itu;
Ilmu Sebagai Pengetahuan Logis
Ilmu dimakasudkan di sini adalah implikasinya harus benar sebagai pengetahuan yang menjunjung tinggi kebenaran yang bersifat rasional. Ilmu harus diperoleh berdasarkan pada akal pikiran manusia. Dan tugas ilmu untuk menjelaskan segala hal secara masuk akal. Misalkan dalam hal menjelaskan  “Gerhana Matahari” misalanya, ilmu tidak akan menjelaskan kalau peristiwa itu diakibatkan kerena matahari tengah dimakan Sang Btara Kala. Ilmu pasti mengatakan  kalu peristiwa itu gejala alam; karena posisi matahari  sedang tidak dalam kedudukanya yang biasa, maka terjadilah Gerhana Matahari.

Ilmu Sebagai Pengetahuan Sistematis
Sistematis dimaksudkan di sini adalah bahwa ilmu harus diperileh menurut kaidah-kaidah atau aturan-aturan tertentu yang disepakati oleh semua orang yang menggeluti dunia keilmuan. Dunia ilmu adalah dunia tersendiri. Tentu saja aturan-aturan kehidupan-nya pun tersendiri pula  isinya tentu akan  berbeda dengan yang lain. Dan kesemua-nya itu dimaksudkan agar bisa berada dalam jalan yang benar guna menuju kearah tujuan keilmuanya. Aturan-aturan inilah yang selanjutnya disebut Metode Ilmu. Atau sering disebut juga sebegai metode Ilmiah.

Ilmu Sebagai Pengetahuan Obyektif
Bila ilmu hanya menggantungakan dirinya pada kreasi akal  pemikiran semata, maka obyektifitas kebenaran ilmu dapat dipercaya dan dapat menjadi pegangan setiap orang pasti tidak akan pernah ada. Setiap orang, dengan kepala dan pengetahuanya masing-masing, tampa ada yang bisa mencegah, pasti dapat menyatakan bahwa dirinya seorang ilmuwan yang mempunya kebenran yang benra meskipun kebenaran itu hanya pembenaran dirinya. Ilmu tidak menginginkan hal it, ilmu mau agar kebenran yang ada pada dirinya bisa obyektif sehingga kebenaran ilmu dapat dipercaya dan dapat menjadi pagangan semua orang. Untuk itu ilmu tidak melulu menyadarkan dirinya pada  kebenaran-kebenaran rasional yang diperoleh akal. Lebih jauh ilmu ber paling kepada kebenran yang bersifat Empiris.

Dari bahasan di atas penulis tidak hanya mengkaji tentang batasan-batan ilmu, agar tulisan ini semakin menarik dan mudah di pahami si pembaca saya akan menguraikan juga tentang ruang lingkup sebuah ilmu .
Di atas telah di bahas sebelumnya obyek telahan ilmu terbatas hanya pada obyenk-obyek yang bersifat terbatas. Ilmu hanya membahas segala hal yang dapat terindar, teraba, terasa, terdenga, terkecap dan terlihat oleh panca indera saja. Yang dipelajari ilmu tak lebih sekedar obyek-obyek konkret yang ada pada semesta alam, gunung, laut, binatang, tumbuhan, angkasa lua, hingga termasuk manusia dengan segala perilakunya. Maka yang menjadi bidang kajian ilmu sangat terbatas. Ilmu tidak sampai mempelajari, apa yang berada di luar jangkauan panca indera manusia. Apalagi kalu yang harus dipelajarinya sudah berada diluar jangkauan akal pikiranya. Ilmu misalnya tidak membahas tentang masala kehidupan akhira. Keberadaan surga dan nerak, meskipun alat bantu tehknologi yang digunakan telah begitu canggih, namun tetap takkan bisa dibuktikaan oleh manusia. Bagi ilmu, keberadaan akhirat adalah mister, dan selamnya akan tetap menjadi sebuah misteri.jalan untuk mengetahui dunia lain yang diciptakan Tuhan itu, tak ada jalan lain kecuali melalui pengetahuan agama.

            Ilmu pun tak mungkin mebahas segala pengetahuan yang dihasilkan oleh rasa manusia. Kalupun idera keenam itu tetap diakui sebagai indera manusia, namun indera keenam bukanlah suatu idera biasa. Bagaimana cara indera keenam mendaptkan pengetahuanya, sama sekali tidak diketahui oleh orang lain. Untuk itu pengetahuan yag didapat indera keenam itu tetap bukan sebagai sebuah ilmu. Jadi “konon” Teori Relativitas” bisa Einstein peroleh berkat ketajaman indera keenamny, namun tetap saja, agar teorinya itu bisa diterimah dalam dunia ilmu terlebih dahulu Einstein merubahnya menjadi rumusan-rumusan yang dapat dipahami oleh mas yarakat ilmiah. Dan Einstein pun ternyata menyadarinya. Sehingga kemudian dia merubah teorinya dalam bentuk rumusan-rumusan matematis, sehingga kemudian menjadi “Teori Relativitas” yang kita kenal sekarang yang bisa dipelajari dan diuji oleh ilmuwan-ilmuwan lainya. Karena itulah ilmu tidak bertugas menjadi seorang fotografer yang bisa memotret seluruh alam ray. Ilmu hanya bertugas sebagai penangkap fenomena atau gejala-gejala yang tersembunyi dibalik segala tingkah laku alam yang dapat terindera oleh manusia saja.  Fenomena itu lalu dipelajari dengan harapan kenapa fenomena itu sampai ada.

Dalam Filsafat hakekat sebenarnya dari ilmu itu sendiri ada tiga
Otologi ( bagaimana memperoleh pengetahuan)
Estimologi (batasan-batasan ilmu)
Aksiologi ( kegunaan ilmu pengetahuan bagi kehidupan manusia)

Referen
Apa Sih Ilmu Itu (Aat Suwanto)

Semoga Bermanfaat













Saturday, 11 February 2012

RAPOR MERAH BUAT KEPEMIMPIAN DI MAMASA (Kajian Infrastruktur Jalan)





Melalui tulisan ini saya mengawali dengan pertanyaan yang mendasar, betapa pentingnya sarana transportasi. Pertanyaan itu adalah apakah kita tidak akan terjebak jika jalan kita tersendat..? pertanyaan tersebut akan menjadi bahasan ini bahwa jalan atau saran transportasi, kini sudah menjadi slah satu kebutuhan sosial yang sangat vital, ibaratkan kalau kita lihat struktur organ tubuh manusia, jalan ibaratkan tempat aliran darah ke masing sendi yang di miliki manusia untuk bisa menghidupkan organ tubuh........




Saya membayangkan jka jalan ibartakan dengan aliran darah, ketika darah tidak lagi jalan ke organ tubuh yang lain, maka tubuh ini akan keos dan akan sakit, begitu juga dengan hal jalan jika jalan suatu daerah tidak terbenahi dengan baik maka sendi-aendi sistem sosial, seperti ekonomi,  budaya, sosio kultural/ politik, pasti akan mengalami kemandekkan atau bisa jadi stagnan skalipun, inilah yang terjadi di sala satu daerah di indonesia yaitu daerah Mamasa, jalan perintis antara polewali mamasa yang sangat memprihatinkan. Bagamana tidak hampir setiap minggu ada longsor, fisik jalan semakin parah, di daerah lain jalanya suda berlapis-lapis  aspal, jalan di mamasa sudah berlapis-lapis lubang jalanya. Sungguh sangat memprihatinkan, masyarakat hanya menjadi penonton aktiv terhadap aktor-aktor yang sedang bersandiwara akan adanya perubahan di daerah ini, benarkah akan ada perubahan ??? perubahan itu pasti, tetapi keefektifan sebuah perubahan belum tentu. Saya termasuk sala seorang penonton dalam ranah tersebut, saya hanya bisa melahirkan sebuah tulisan tentang suasana hati dalam mengamati fenomena tersebut.

Kini Mamasa sudah berdiri sekitar 7 Tahun itu artinya mamasa seharusnya melahirkan tunas baru untuk bisa menjadi nilai tawar tersendiri di level nasional. Tapi bagamna ada tunas benih saja belum ada. Saya pernah berbincang dengan salah seorang anggota DPRD Mamasa lalu membangun diskusi pendek dng beliau, saya kemudian bertanya bagamana tanggapan bapak terhadap kondisi jalan saat ini? Lalu beliau mulai menggagas dari sistem kemudian turun ke struktur hingga, beliau mengatakan bahwa pemerintah sangat berniat untuk merenovasi jln tersebut, tetapi hal itu tidak mudah karena perlu diketahui bahwa kita punya sistem jelas, maksudnya adalah bukan berarti saat Bupati ngomong bahwa jalan akan direnovasi itu langsung jadi namun herarkinya kita harus mendapat persetujuan yg lebih dari atas yaitu gubernur. Dengan penjelasan itu saya kemudian bertanya dengan agak menantang, sya bilang lalu saat kita mengajukan program trsebut kepada gubernur pasti gubernur juga ngomong bahwa masi ada yang  lebih di atas dari saya yaitu mendagri, dan setersunya pertanyaan ini akan mengalir terus hingga sampai pada pemimpin nmr 1. Apakah alasan itu tepat bagi pemerintah ketika ada yang mempertanyakan hala itu. Jika itu adalh alasan yang relevan saya cuma mau bilang bahwa untuk apa ada legitimasi bahwa bupati berhak untuk menentukan program dalam kabupatn. Jika bupati tidak mampu melakukan negosiasi tentang pembangunan yang pokok dalam sebuah daerah, saya rasa gubernur tidak terlalu bego’ amat. Cuma yang diinginkan bagaman startegi politik yang kita mainkan supaya itu terpenuhi. Itu artinya bupati telah menghilangkan esensi kepemimpinanya sebagai orang nomor satu dalam kabupaten jika ia gagal melakukan negosiasi terhadap pembangunan yang pokok.

Jalan bagiku adalah pintu untuk melangkahkan kaki untuk bisa kita gunakan menoropong dunia yang sesungguhnya. Percuma kita berteriak tentang kesejahteraan, penghapusan kemiskianan, persoalan ekonomi, politik, SDM di Mamasa. Jika jalan masi hancur berantakan seperti itu. Karena perlu diketahui bahwa SDM rendah, pendaptan ekonmi rendah, kemiskinan politik semuanya adalah konsekuensi logis dari dampak kebobrokon fasilitas jalan. Bagaman orang dapat mendapatkan kekuatan daerah jika hanya mengandalkan tehknologi, daerah sangat membutuhkan dimensi-dimensi lain seperti sumbanga pemikiran orang lain, perbandingan dengan daerah lain. Ttapi bagamana orang akan melakukan studi perbandinga jika moodnya sudah hilang saat melihat model jalan yang seperti itu. Seharunya pemimpin dan masyrakat harusnya sudah menyadari bahwa persoalan mendasar kita itu apa, tetapi toh masi aja kita berkutat di lingkaran yang sama. Tapi apa pun itu alasanya saya tetap ngotot mempersalahkan pemerintah Mamasa karena dia adalah pemimpin, stimulus bagi masyarakat, kebijakan yang dominan itu selalu dari atas itu artinya masyarakat akan melakukan apa yang telah di konsensuskan di pemerintahan. Andaikan saya bupati supaya saya tetap survive dan citraq mekar di masyarakatku, hanya 1 saja yang perlu saya paling tekankan yaitu jalan harus mulus. Karna kritikan yang terus menerus menggempar daerah ini hanya itu saja. Tetapi bukan berarti saat jalan selesai tugasku selesai tetapi minimal saya telah menghidupkan spirit masyarakat. Maka ini kan dengan sendirinya masyarakat sangat mudah diajak bersinergi untuk membangun bersama tentang ketahanan daerah. 5 tahun belakangan kepemimpinan di Mamasa benar-benar mengoleksi Rapor Merah.....

Sunday, 29 January 2012

MENGINTIP KEPRIBADIAN & KEBERSAMAAN MAHASISWA RANTAU MELALUI PERBANDINGAN PENGALAMANKU


Kembali lagi tangan ini berkarya, setelah beberapa bulan meninggalkan kebiasaan saya yaitu  menulis


Selamat membaca hati dan pikiran saya

Dipersembahkan kepada teman2 Kost Patimura 85 C & Teman angakatan progdi sosiologoi 09


Makna etis yang akan hadir

Dalam perkembangan jaman dari tahun ke tahun semakin memaksa kita untuk masing-masing membekali diri untuk bisa tetap tampil eksis dalam kompetisi kehidupan. Salah satu bekal yang cukup manjur yang digunakan dalam kompetis tersebut adalah pembekalan ilmu pengetahuan, yang itu bisa di dapat dari berbagai macam metode, salah satunya adalah di bangku pendidikan. Dimensi pendidikan ini memang sangat penting bagi generasi penerus dalam organisasi-organisasi sosial , itu alasanya bagi banyak orang berusaha untuk meperioritaskan pendidikan untuk tetap bisa membentengi keturunanya mereka, karena kenapa, ini lagi-lagi terkait dengan prospek untuk  tetap bisa bertahan hidup, dan juga tetap survaiv.

            Dalam pendidikan memang yang dituntut adalah mutu sebuah pendidikan, agar ini bisa menjadi basis stimulus mereka sebagai motto perubahan, hal ini jugalah yang mejadikan sebagian orang melakukan seleksi terhadap pilihan untuk mereka jadikan ruang share untuk pembekalan diri mereka, itulah yang menjadikan sebagian orang memilih untuk keluar daerahnya mereka, demi mengejar suatu makna yaitu mutu. Perlu ada pengakuan bahwa di dalam pencarian bekal tersebut terjadi persaingan intelektual yang cukup kritis, namun persaingan tersebut di bawa iringan nilai-nilai normatif yang bersifat formal. Tetapi dari persaingan tersebut yang juga menjadi sebuah eksperimen terhadap apa yang sudah kita raih dari bangku pendidikan tersebut.

            Sebuah ruang share tersebut yang disebut dengan universitas, kini menyediakan berbgai macam penunjang pendidikan yang itu juga menjadi sebuah ruang di mana para mahasiswa membangun sebuah relasi dengan lingkungan akademik, mereka saling bertukar pikiran dengan pengalaman mereka masing,-masing yang itu sudah menjadi modal sosial mereka. Berangkat dari sebuah pengalaman menjadi seorang mahasiswa rantau, yang hidup berdampingan dengan orang-orang yang berbeda budaya. Dan pada akhirnya kita akan dipaksa oleh lingkungan untuk bisa membangun sebuah  integrasi dengan teman mahasiswa yang lainya, dan juga masyarakat setempat, lalu apa yang bisa kita maknai dalam hal tersebut, ini tidak lain sebagai tempat untuk melakukan sebuah pengenalan tentang keporibadan kita terhadap lingkungan terbaru. Hal ini terasa dalam pergumulan saya bahwa di situ jugalah saya sedikit mengerti tentang siapakah aku sebenarnya, sejauh mana saya melihat kualitas kepribadianku, ketika saya bisa membangun sebuah relasi yang etis dengan teman se akademik saya. Tidak hanya itu saat masyarakat melihat sosok saya dan mereka memberikan hasil pengamatanya tentang kepribadian saya dan kemudian saya rangkum dalam catatan-catan yang sebut sebagai diariy pengalaman. Penelian tersebut datang dalam waktu yang tak terduga dan juga tanggapan yang begitu beraneka ragam. Entah itu kritik apresiasi, pelajaran, semuanya saya hanya memberika satu makna saja itulah yang saya sebut proses pembentukan saya.

            Saya juga membayangkan pengalaman saudara yang lainya yang hidup di tempat rantau, bahwa pergumulan saya pun akan hadir dalam proses saudara-saudara, namun yang mungkin membedakan hanyalah respon terhadap pengalaman tersebut, tetapi setidaknya kita pasti menemukan paling tidak sejauh mana kemampuan kita mengelolah hal tersebut. Tetapi saya kembali lagi terhadap asumsi tentang keberadaan kita di tempat yang saya sebut rantau, bahwa tentunya kita semua punya pesan dari pertama kita melangka menuju ke tujuan tersebut, pastinya hal tersbut tidak terlepas dari peran orang tua, mereka memberikan kita berupa harapan yang akan memacu spirit kita dalam perjuangan tersebut. Entah itu kita pegang erat pesan tersebut atau nda itu kembali lagi kepada kepribadian si perantau tersebut, gagal dan berhasil adalah dua hal yang akan pasti hadir dalam kompetisi kehidupan tersebut, dua hal itu adalah konsekuensi terhadap apa yang kita lakukan. Jadi berpikirlah sebelum anda bertindak supaya konsekuensi yang ada raih adalah selalu baik.


Suka Duka
            Menjadi seorang mahasiswa bukanlah hal yang sulit, tetapi menyelesaikan status kemahasiswaan kitalah yang terkadang rumit, standar kelulusan mahasiswa di seluruh indonesia adalah  4 tahun itu syarat S1, lalu bagaimana jika melewati syarat tersebut, ini tentunya memunculkna pertanyaan yaitu mengapa terjadi demikian..???? hemmm tentunya jawaban yang akan diperoleh pasti beragam, bisa jadi kendala ekonomi, bablas dalam bergaul akhirinya lalai dalam perkuliahan, malas, dll. Apakah anda termasuk hehehe mudah-mudahan tidak, kalau saya si masuk yaitu malas tetapi nda terlalu kok...!!!! tetapi semua itu perlu lagi kita melakukan perenungan saat kita melakukan sesuatu, apalagi itu sudah melewati koridor tanggung jawab inti, ini yang seharusnya selalu di ingat bahwa sebgai mahasiswa rantau tanggugng jawab yang di genggam begitu besar, itu alasanya kita harus selau jelih dalam memilah apa yang seharusnya dilakukan, kira-kira ini tidak berdampak buruk dengan tujuan utama kita sebagai mahasiswa.

            Memang perlu juga ada pengakuan bahwa beberapa mahasiswa terlambat dalam menyelesaikan studinya oleh karena desakan ekonomi yang kurang memadai, sehingga si mahasiswa kulianya benar-benar sangat dikondisikan oleh finansial (uang), sepengalaman saya dengan membangun relasi di antara teman-teman mahasiswa,  kebanyakan mahasiswa yang kurang mendukunga ekonominya di level mahasiswa, justru mereka yang memiliki skil akademik yang luar biasa, ini menjadi sebuah kendala besar juga bagi sebgaian mahasiswa, jika di satu sisi secara intelektual mereka bisa namun  karena terkendala dengan keuangan akhirnya studinya terkadang tersendat. Tetapi sejauh ini di dalam pergumulan saya teman-teman yang justru keadaan seperti demikian justur mereka lebih cenderung menujukan motivasi yang sangat “eksklusif” tetapi bermakna, di sinilah aku kembali sadar bahwa ternyata uang bukanlah persoalan yang teralu serius, akal masi ada pada posisi yang tertinggi dalam proses kompetisi kehidupan.

            Tetapi suka duka yang berlaku hampir secara universal di kalangan mahasiswa adalah saat tanggal tua tiba, di mana masa-masa ini isi kantong pasti sunyi, apalgi jika kita tidak pandai mengatur keuangan pastinya kesulitan juga, jika suda melawati tanggal 20 ke atas pastinya mahasiswa suda mulai menyisip ke maisng-masing saku celananya kira-kira masi ada rece, kumpulin koin satu per satu paling tidak untuk semangkok indo mie, atau kah 2 lauk sejoli tahu tempe hehehe,, tetapi jika mahasiswa punya langganan tersendiri enak kan bisa ngutang tanggal muda baru bayar. Sunggu  suka duka yang sangat asik jika itu dapat terlewati. Tetapi satu makna kebaikan dari teman2 ketika mereka masi bisa membagi mereka punya sisa uang jika mereke masi punya, disitulah saya juga menemukan bahwa benar bahwa kitalah mahluk yang paling sempurna di antara mahkluk yang lain. Rasa ingin berbagai dalam pergumulan tersebut sangat tampak, apalagi teman 1 kost ataukah kontrakan, pastinya solidaritas benar-benar terbangun kesan-kesan seperti inilah yang pertama kali selalu mewakili cerita-cerita mahasiswa saat mereka melepaskan titelnya sebagai mahasiswa, sungguh sebuah kebersamaan yang sangat indah dan sulit terlukiskan di pengalaman-pangalaman yang lain. Saat saya menggagas tulisan ini saya sangat kagum dengan pengalaman yang saya lalui bersama dengan teman-teman se akdemikq dan juga teman kost PATIMURA 85 C (kalian adalah saudara terbaruku yang sangat baik)..

Akhir kata dari tulisan ini adalah railah cita-cita mu seuai dengan harapan mu, dan peganglah kunci kepribadian mu saat engkau berjuang sehingga tidak mudah terjatuh dalam kompetisi kehidupan. Semoga teman-teman mahasiswa yang membaca tulisan ini, menjadi mahasiswa yang benar-benar kritis inovatif dan terampil, salam perjuangan teman-teman. 

Wednesday, 2 November 2011

EMOSI BENAR-BENAR MEMBUNUHMU


Saya sama sekali tidak memerlukan hal ini
Saya kurang bijaksana,
Saya seharusnya menjaga mulut besar saya tetap tertutup
Maka bacalah bibir saya.
Dalam dua bulan terakhir ini saya sempat menghilang dari kebiasaan saya  untuk menulis, itu karena kesibukan benar-benar menegepung diriku, maka di samping kesibukan saya ini, supaya tidak stress, maka saya  meluangkan waktu senggang saya untuk kembali melahirkan Tulisan,  yang itu menjadi  pengalaman yang saya alami selama ini, yaitu Emosi. Dari sifat inilah saya merassakan saya sering terjatuh dari komptisi kehidupan yang sudah pasti bagi diriku, itu karena Emosi, jadi saya akhirnya mengambil topic yaitu  EMOSI BENAR-BENAR MEMBUNUHMU.

Sebuah keyakinan bagi banyak orang adalah bahwa kehidupan kita akan menjadi luar biasa ketika kita mampu mengendalikan situasi yang eksternal. Namun banyak sekali bukti yang sebaliknya. Kualitas kehidupan  kita yang sebenarnya berasal dari respons internal kita. Respon ini datang dari sikap yang berbeda. Dan tentu saja pengalaman yang dirasakan masing-masing berbeda. Masing-masing dari kita menentukan kualitas kehidupan kita melalui keyakinan inti yang memengaruhi perilaku kita.

Untuk mengetahui bagaimana emosi mempengaruhi kita, ada gunanya untuk memahami apa sesuatu tentang sifat dasar emosi. Emosi adalah riil gejolak perasaan yang kuat! Perasaan ini adalah reaksi otomatis yang mencerminkan pengalaman masa lampau kita. Emosi adalah bagian instingtif dasar  (orisinal, primitive, fundamental) dari wujud kita. Jika anda perna membaca tulisan  Julia Bondi yang berjudul Unveiling the Miysteries Of Sex and Romance (Mengungkap miysteries seks dan Romantisme), di dalamnya Bondi meyakini bahwa reaksi emosional instingtif terhadap situasi bisa membantu kita mengenali keyakinan ini yang tidak disadari. “manusia sudah melakukan revolusi sehingga tidak lagi hanya menjadi mahluk emosional yang reaktif dan instingtif. Kita sekarang memiliki kekuatan pikiran yan dikaruniakan oleh Tuhan untuk mengunakan dan memanfaatkan energy emosi kita. Emosi sebagai respons selalu ada, siap untuk dirasakan. Pengalamn merangsang semua itu. Demikian juga berpikir mengenai segala susuatu! Kita bereaksi secara emosional dan penjelasan yang kita berikan kepada diri sendiri untuk mengespresikan dan mengatasi apa yang kita rasakan secara instingtif , biasa berkembang menjadi sebuiah keyakinan yang tidak disadari. Dalam beberapa hal, kita merasakan emosi dan kemudian berusaha memberi alasan untuk menghilangkan setiap luka”

Karena emosi bersifat dasar atau instingtif, otak dan pikiran merupakan cara kita untuk berhubungan denganya dan juga untuk mengarahkanya mereka secara benar. Bereaksi begitu saja terhadap  emosi, tampa memikirkan segala sesuatu, sering kali bias membuat  kita mengatakan atau melakukan hal-hal yang belakangan kita sesali. Pikiran sadar membantu kita menghadapi emosi kita secara konstruktif, asalkan kita tidak mengunakan pikiran kita untuk menilai atau menyangkalnya. Pemikiran yang benar akan memungkinkan kita untuk mengubah keyakinan batin kita, sehingga kita bisa menyesuaikan kembali dengan emosi kita secara sehat dan bermanfaat. 

Tetapi saya menyadari bahwa memang kecenderungan orang ketika larut dalam sebuah persoalan, pastinya kesan pertama yang akan terlihat adalah emosi, hal ini pun tidak asing menurutku, karena pengalaman saya pun demikian adanya. Namu saya selaku mencoba utntuk terlepas dari sikap tersebut, aku selalu berusaha untuk tidak terperangkap dalam belenggu emosi yang berlebihan. Namun saya hanya ingin mengatakan bahwa jangan sampai dengan emosi dalam diri yang kemudian hidup kita di sulap menjadi sebuah malapetakan dalam pikiran.  Jadi menurutku sikapilah sebuah masalah dengan lapang dada. Aku selalu ingat sebuah pesan bahwa  kebahagian maupun kesuksesan sejati sesungguhnya berawal dari timbulnya masalah yang berhasil di atasi dengan baik.

TIDAK ADA ORANG YANG BAHAGIA SELAMANYA

JANGAN BERTANYA KEPADA ORANG LAIN APA ITU MAKNA HIDUP, TETAPI TANYAKANLAH TERHADAP DIRIMU TERDAHULU


     Orang yang sedang di lingkari dengan berbagai kegagalanlah yang akan selalu mempertanyakan apa itu makna hidup, namu pernahka kita berpikir bahwa apa yang telah saya hidupkan dalam hidup ini, sering ka kita merenungi apa yang telah kita lakukan sebelumnya. Aku meyakini bahwa hidup ini penuh dengan makna, itu artinya saya dituntut untuk melakukan hal-hal yang selalu bermakna dalam kehiduan, namun tak dapat dipungkiri terkadang kita melakukan hal-hal yang konyol, yang dapat ditertawai, oleh orang lain bahkan diri kita sendiri saat mengingatnya, itu yang saya sebut sebagai proses. Tetapi sadarkah kita bahwa anda diberikan angerah oleh Tuhan yaitu akal dan Budi, yang akan kamu gunakan menggali potensi-potensi kehidupan yang penuh makna ini. Kadang kita mengabaikan hal ini, padahal disitulah anda memulai langkah awal untuk mencari sebuah harga diri demi makna hidup.

                Aku selalu berpikir bahwa semua tindakan yang kita ucapkan itu akan berimplikasi pada sebuah makna. Jika kita memahami apa yang disebut dengan berpikir realistis maka anda akan selalu melontarkan beribu-ribu makna bagi banyak orang, ingat 1  makna dapat memberikan banyak kekaguman bagi banyak orang. Saya selalu menyadari bahwa apa yang saya katakana  tidak selau benar namun minimal saya mengerti apa yang saya lakukan, menurut tidakan awal saya. Meskipun mungkin kita sudah terlebih dahulu membuat pembenaran-pembenaran diri. Namun itu belum tentu anda bisa memberikan pemahaman  bagi banyak orang untuk  meberikan komentar atas apa yang anda pikirkan kemudian anda ucapkan, inilah yang sisebut sebagai hipotesis.
                Hadiah dari kehidupan adalah hidup itu sendiri, maka dari itu sebelum anda sampai kepada pertanyaan yang mendasar bahwa apakah “makna hidup” itu, terlebihlah mempertanyakan apa yang anda pahami tentang hidup, karena saya meyakini bahwa kunci kehidupan bagi manusia, itu ada pada manusia itu sendiri. Jawaban yang akan anda terimah dari orang lain tentang makna kahidupan itu sendiri, akan tidak pernah menemukan titik temu yang tepat. Ingt bahwa manusia porsi kehidupanya semua sama, manusia A dapat Berpikir, B pun demikian, itu artinya jika anda mempertanyakan kepada mereka, berarti anda telah memberikan persoalan-persoalan anda  kepada orang yang sama. Memang jika dikaji lebih dalam bahwa manusia memang harus hidup bersama, jika manusia hidup sendiri maka ia akan binasa, pesan dari kaliamat itu adalah orang lain disekeliling kita hanyalah sebagai objek untuk menanyakan tentang gambarn atas diri kita, dengan seolah bercermin dari kegagalan mereka, keberhasilan mereka, dan kemudian kita melakukan perbandingan-perbandingan atas apa yang mereka  alami, jadi teman, kenalan saudara, oran tua, yang dekat dengan kita, mereka hanya bisa memberikan apa yang disebut dengan solusi.

Sunday, 23 October 2011

SAYA BUKAN KOPI,MIE,TELUR, NAMUN AKU ADALAH KEGAGALN ITU SENDIRI


Bangga rasanya bisa kembali melahirkan tulisan baru, silakan di simak,
Seorang anak mengeluh ke pada ayahnya, tentang kehidupanya, dan ia menanyakan mengapa hidup ini terasa begitu berat untuknya. Anak ini tidak tahu bagaimana menghadapinya dan hampir menyerah. Ia sudah merasa lelah dalam berjuang. Setiap kali ia berhasil dalam menyelasaikan masalahnya, pasti akan timbul lagi masalah baru. Ayahnya bekerja di warung makan, ayahnya kemudian mengajaknya ke dapur,  ia mengambil panci dan menuangkan air ke panci tersebut, kemudian ia menyalakan kompor, ia merebus air tersebut. Setelah air di panci sudah mendidih, lalu ia menuangkan ke gelas yang sudah di isi dengan bubuk kopi dan juga gula, sisah air itu kebetulan di dapur ada Mie dan telur, ia skalian menyisakan air itu untuk merebus mie bersama dengan telur.

            Anak ini membiarkan ayahnya terus bekerja di dapur tanpa ia mengeluarkan sepatah kata pun, ia sambil bersandar di kursi hingga ayahnya selesai. Sekitar 20 menit ayahnya, mematikan kompor, kemudian ia mengambil mangkok kemudian ia menuangkan indo mie yg telah direbus itu, dan juga sebutir telur setelah selesai merebus mie dan jg telur, juga ia menuangkan air panas itu ke gelas yg telah diisi dengan bubuk kopi. Lalu ia mengantarnya di depan anaknya, kemudian ia berkata “Apa yang kamu lihat Nak..?” sang anak menjawab Mie, Telur, dan Kopi. Kemudian ayahnya mengajaknya untuk mencicipi indo mie telur yang telah di sajikanya   di meja, kemudian ia kembali berkata, mienya terasa lembut dan aromanya sangat terasa di tambah telur yang empuk menjadikan mie ini semakin enak, terakhir ayahnya menyuruh untuk mencicipi kopi yang juga telah di buatnya, setlah anak ini mencicipi kopi dengan aroma yang sangat khas, dan nikmat. Setelah itu, si anak bertanya lagi. “apa arti semua ini, Ayah?”

            Ayahnya kemudian menerangkan bahwa ketiganya telah menghadapi kesulitan yang sama, yaitu perebusan. Tetapi masing-masing menunjukan reaksi yang berbeda. Kopi sebelum di rebus tak memiliki rasa yang nikmat, dan aroma yang khas dan juga bubuk yang unik, tetapi setlah direbus, kopi kemudian menyatu dengan air, yang akhirnya mengeluarkan aroma yang nikmat. Mie sebelum di rebus, keras, dan mudah dipatahkan begitu pun dengan telur sebelum di rebus ia mudah pecah, tetapi setelah di rebus, isi telur ini menjadi beku, dari ketiganya “kamu termasuk yang mana”? Tanya ayahnya . ketika kesulitan mendatangi mu, bagaimana kamu menghadapinya, apakah kamu Mie, Kopi, atau  Telur.?

            Bagaimana dengan anda? Apakah anda adalah Mie yang kelihatanya keras, tetapi dengan adanya penderitaan dan kesulitan, anda menyerah menjadi lunak dan kehilangan kekuatan. Atau apakah anda adalah telur, yang awalnya memiliki hati lembut? Dengan jiwa yang dinamis, namun setelah adanya kesulitan, patah hati, perceraian ataukah pemecatan kamu menjadi keras dan kaku. Dari luar  kelihatan sama, tetapi apakah anda menjadi pahit dank eras dengan jiwa dan hati yang kaku.

            Ataukah anda adalah bubuk kopi ? bubuk kopi mengubah air panas, sesuaut yang menimbulkan kesakitan, untuk mencapai rasanya yang maksimal pada suhu 100 derajat Celsius. Ketika air mencapai suhu terpanas, kopi terasa semakin nikmat dan membuat keadaan di sekitar anda juga membaik.

            Sikap kita menghadapi musiba, kegagalan, kekecewaan dan sejenisnya sangat tergantung sejauh mana pemahaman kita terhadap hakekat yang menciptakan (peristiwa). Keyakinan terhadap Tuhan bahwa segala peristiwa yang dikehendaki-Nya akan memberikan hikmah besar terhadap manusia merupakan langkah awal yang baik. Kita harus yakin bahwa semua peristiwa dan semua mahkluk di alam yang maha luas ini sudah di atur oleh Sang Maha Kuasa. Dngan demikian kita akan merasa sangat lemah di hadapan-Nya, mengharap segala pertolongan-Nya, dan bergantung kepada segala keputusan-Nya.

            Musibah ataupun kegagalan tidak selalu identik dengan kesialan, kedudukan, kesia-sian, dan peristiwa negative. Tetapi , justru bisa jadi berarti peristiwa yang membawa pengaruh positif dan pemompa semangat hisup bagi manusia untuk bercermin diri, dan menata kehidupan ke arah yang lebih baik. Sebagai manusia, kita harus memaknai musibah denga perspektif yang baik dan benar. Kisah di atas mengajarkan kita bahwa sebuah musibah kegagalan, yang di ibaratkan air panas, mengandung hikmah positif bagi manusia sebagai sarana mengukur kekuatan kita dalam menghadapinya.  Di sinilah kualitas diri akan terlihat apakah dia memiliki mental serta hati yang kuat dalam kehidupan keseharianya atau tidak. Ada kalimat yang mengatakan bahwa “Manusia sama saja tatkala sama-sama dilimpahi hikmah, namun ketika cobaan datang menimpah, saat itulah akan terlihat perbedaan-perbedaanya. Jika kita semakin yakin dan tegar menghadapi musibah itu, maka semakin berkualitaslah tingkat diri kita. Demikian pula sebaliknya, jika kita menjadi rapuh dalam menghadapi musibah maka mengindikasikan kualitas diri kita yang begitu rendah.

Kita seharusnya mengandaikan  bahwa hidup ini layaknya uang yang memiliki dua sisi.  Kita tidak luput dari hakekat hidup yang selau di pertemukan dengan sisi kehidupan yang sulit, dan yang mudah, semuanya akan selalu hadir dalam mebayangi proses misi hidup ini. Jadi sesungguhnya sifat hidup ini yang saya maksudkan di atas itu sebenarnya satu paket. Einstein mengatakan bahwa terpuruk dalam masalah merupakan peluang hebat untuk kita. Pesan yang ingin disampaikan adalah bukan berarti saat kita mengalami masa-masa terpuruk, kita kemudian mengambil keputusan bahwa saya tidak mampu, putus asa, kecewa dengan gagasan-gagasan sendiri, namun ini mengingatkan kita bahwa hargailah seluruh perjuangan anda, karena semunya melibatkan hati, pikiran anda, kita tidak menuntut sebuah keberhasilan, namun kita hanya menuntut berhasil dalam mencoba.

            Namun hanya saja tak semua orang menyadari akan hal itu. Sebagaimana orang akan berhenti manakalah mengalami sebuah kegagalan. Pada hal, kegagalan itu bukanlah sebuah kesalahan. Jika kita bisa menyimak dan mengambil pelajaran dari kegagalan , maka bukanya tidak mungkin kita akan  mencapai kesuksesan. Yang perlu kita lakukan pada saat kita mengalami kegagalan adalah intropeksi diri. Teliti diri sendiri terlebih dahulu, kenapa bisa gagal .mungkin kita kurang kerja keras atau mungkin inisiatif, dan seterusnya. Tampa kesedihan juga kita tidak akan mengerti arti kebahagian. Justru itulah, kesedihan akan membuat kita bangkit untuk meraih kebahagian. Saat kita dilanda kesedihan, berhentilah melayani perasaan dan pikiran jika memang ingin terlepas ari belenggu penderitaan hidup.
Jadi saya bukan Mie, saya bukan kopi, dan telur tetapi saya adalah “kegagalan itu sendiri”, akulah sentralanya.

*SEMOGA BERMANFAAT*