Tuesday, 25 March 2014

GUBERNUR SUL-BAR TIDAK PRO RAKYAT


Konsep nation State tidak mungkin hancur dalam tempo yang lama. Yang perlu di jaga dan diwaspadai adalah agar nation-state dengan ideologi nasionalismenya jangan dijadikan berhala. Untuk indonesia secara teoritik “kemanusiaan yang adil dan beradab” adalah payung nasionalisme bangsa ini. Jadi ideal sekali, seklaipun dalam kenyataanya menempu jalan yang berbeda. Namun, para pemimpin negeri ini belum paham makna tersebut.

            Indonesia semestinya secara kultural lebih kokoh karena bangsa lahir sebagai negara, tetapi tidak demikian yang terjadi . saya melihat kelemahan terbesar terletak pada pemimpin. Sejak proklamasi kita telah mempunyai  pemimpin-pemimpin hebat, tetapi tidak efektif. Mereka gagal membangun bangsa ini secara berencana. Kita harus jujur bahwa bangsa indonesia bisa bertahan hingga hari ini terutama karena kedarmawanan alam. Sekalipun lautan kemisikinan  masi terbentang luas celakanya  adalah kenyataan bahwa bumi yang darmawan ini menjumpai manusia-manusia yang sering lupa daratan lupa lautan. Orang baik masi banyak kita jumpai, tetapi tidak berada dalam posisi untuk bertindak efektif, kekuatan orang baik inilah yang harus di galang untuk tujuan-tujuan besar menyelamatkan masa depan bangsa.

            Nasib buruk inilah yang di alami beberapa daerah di indonesia termasuk Sul-Bar,  sebuah propinsi hasil pemekaran dari sul- sel pada tanggal 5 oktober 2004, terhitung sudah 14 tahun menjadi propinsi tetapi daerah yang bernaung di dalamnya masi banyak yang tak berdaya, berdasrakan data yang ,di himpun oleh KPDT sulbar di temukan masi ada 4 kabupaten yang masi tertinggal di antaranya adalah Mamuju, Majene, Mamasa, Polewali mandar (Polman), dan Mamuju Utara. Kendala terbesar yang di alami oleh beberapa daerah di sulbar adalah SDM yang masi rendah, infrastruktur, ekonomi, dan juga aspek budaya seperti kesenian masyarkatnya tidak dibina maka tidak heran beberapa kesenian daerah mulai hilang karena tidak diberdayakan. Nasib ketertinggalan beberapa daerah di Sul-bar menuai banyak protes yang juga beragam dari berbagai kalangan. Jika dilihat secara geografis sulbar adalah daerah yang cukup kaya, dan kemungkinanya untuk setara dengan Sulawesi Selatan sangat besar. Hal penulis katakan karena masing daerah di sulbar memiliki potensi yang berbeda dan juga masing menjanjikan. Mislkan di mamuju kebun kelapa sawit cokelat, kelapa, adalah kekayaan yang sangat memungkinakan memajukan perekonomian masyarakat. Majene polewali juga di jumpai hasil pertanian warga yang bergerak di bidang pertanian seperti sawa, dan perkebunan dan juga hasil laut yang cukup melimpah, Mamasa di daerah ini adalah daerah pegunungan yang sangat subur dan alamnya yang masi homogen, di daerah mamasa masyarakatnya lebih bergerak pada sektor pertanian, perkebunan, dan juga hasil hutan seperti rotan dan kayu untuk bahan bangunan dan juga menwarkan banyak objek wisata yang cukup memukau, sayangnya potensi yang di miliki beberapa daerah ini tidak diperhatikan secara serius oleh pemerintah sehingga daerah-daerah ini masi sangat tertinggal.

            Namun faktanya tidak serupa yang di jumpai pada masyarakat, kemiskinan dan ketertinggalanlah yang lebih nampak di daerah ini. Tidak ada masyarakat yang menolak perubahan ke arah yang lebih baik, dan tak ada kebaikan yang tertutup dengan perubahan, melainkan hal ini sinkron yang mestinya dirasakan oleh masyarakat. Oleh karena fakta yang memaksa masyarakat untuk harus geram apatis, dan bahkan seolah-olah menyerah dengan keadaan, tak lain kekesalan ini ditujukan kepada orang yang pernah dipilihnya menjadi seorang pemimpin.

            Kritik demi kritik yang terus dikumandangkan seolah-olah sedang berbicara pada si tuli, bibir serasa sudah kehabisan kata-kata namun tak satu pun respon yang mereka berikan. Saat ini situasi mulai memanas di kabupaten Mamasa sebagian besar jejaring sosial yang dijadikan sebagai media diskusi orang mamasa yang menjadi ternding topic adalah seputar kegagalam pemerintah daerah dan pemerintah propinsi, yang dinilai tidak mampu menjalnkan tugasnya sesuai dengan yang di amanatkan oleh rakyata mamasa. Tak hanya di media sosial di beberapa kecamatan juga membicarakan topik yang sama. Bahkan akhir-akhir ini beberapa media sosial yang bergerak di bidang pers memberitakan bahwa Mamasa ingin bersatu kembali dengan Propinsi Sulawesi Selatan ketimbang beranaung di bawa pemerintah sul-bar yang hanya di jadikan sebagai bagian yang bersyarat, tapi tidak diperhatikan kemajuan daerahnya. Berita ini semakin dibenarkan dengan isu infrastruktur jalan yang menghubungkan antar Mamasa dan kota-kota lainya seperti polewali hingga tembus makasar yang hingga kini tak ada perubahan yang signifikan, dan memang penulis pun mengakui jika itu disebut jalan utama sangat tidak tepat jika di lihat bentuk fisiknya. Lalu apa curhat seorang gubernur bupati dan aparatur  pemerintah lainya jika melintas di jalan yang tidak layak dilalui kendaraan  ini. Ataukah mereka memerintah di luar kesadaran.?


Wahai pak Gubernur dan Pak Bupati, jangan menjadikan kemiskinan yang menghabiskan semangat kami, jangan jadikan pemberontakan sebagai hiburan, kami tau di kota Mamasa yang kami cintai ini jarang hiburan namun bukan berarti anarkisme yang dikemas dalam demonstrasi sebagai hiburan yang kalian sajikan kepada kami. Kami tau kami tak punya kapasitas untuk maju oleh karenanya kami membutuhkan pemimpin yang siap memacu kekurangan kami sehingga kelemahan kami menjadi kekuatan, Pak Gubernur dan Pak Bupati yang kami hormati andaikan bukan kedarmawanan alam yang kuat menopang daerah yang anda pimpin mungkin daerah ini akan  menjadi sarang kemiskinan, sarang keterbelakangan. Mamasa, ada hingga hari ini itu karena tuntunan alam yang setia. Ingat alam tiadak akan berbicara bahwa mereka butuh campur tangan manusia, maka jangn tunggu alam berbicara baru bapak bergerak menyelamatkan rakyat mamasa. Rakyat tidak mengenang janji namun mereka mengenang implementai dari janji yang anda telah katakan saat anda menyatakan siap untuk di berikanan amanat oleh sang pemilik demokrasi yaitu rakyat.

Potret Perempuan dalam Iklan


Perempuan sesungguhnya bukan hanya menghadapi musuh lama (laki-laki), tetapimusuh baru yang lebih perkasa, yakni kapitalisme. Laki-laki bahkan telah dimanfaatkan oleh kapitalisme untuk bersama-sama  melestarikan struktur hubungan gender yang timpang. Pelestarian ketimpangan hubungan itu tidak hanya menyebabkan perempuan semakin tersubordinasi, tetapi juga menyebabkan terjadinya subordinasi perempuan oleh perempuan sendiri. Hal ini nampak dala posisi yang ditempati perempuan dalam iklandi mana di satu sisi perempuan merupakan alat persuasi di dalam menegaskan citra sebuah produkdan sisi lain perempuan perempuan merupakan konsumen yang mengkonsumsi produk kapitalisme.  

                Iklan sebagai ruang gerak baru bagi perempuan telah memungkinkan perempuanuntuk mengespresikan dan mengaktualisasikan diri. Keseluruhan konsep perempuan kemudian mengalami transformasi dan perempuansebagai orang yang terliabat dalam kegiatan domestik,sebagai pekerja keluarga, atau sebagai masyarakat second clas menjadi perempuan yang lebih otonom dan penuh kebebasan. Dunia iklan bagi perem.puan telah menjadi basis  politik emansipasi, dalam usaha perempuan keluar dari ikatan=-ikatan tradisional dan masa lalu. Namun demikian, dunia iklan berorientasi pada kelompok tertentu sehingga kelompok (perempuan) yang tidak memiliki akses mengalami subordinasi. Keberadaan perempuan dalam iklan ini sesungguhnya juga menggelisahkan perempuan lain, karena produk yang ditawarkan oleh sebuah iklan telah membangkitkan fantasi begitu banyak perempuan lain terhadap produk mengingat perempuan merupakan kelompok pembelanja terbesar

Kehadiran perempuan dalam iklan juga telah mentransformasikan tatanan kehidupan secara meluas; nilai tentang gaya dan cara berpakaian yang lebih bervariasi, seperti nilai sexi-ness  dari sebuah pakaian yang diiklankan; nilai humbungan laki-0laki dan perempuan yang lebih terbuka (sseperti yang tampak dalam berbagai iklan penyegar mulut dan alat kebugaran) atau nikai kemewahan dalam gaya hidup (seperti hadirnya berbagai perangkat modernitas, dari mobil, handphone, hingga perhiasan-perhiasan) yang semua itu menegaskan nilai autentik kehadiran seseorang. Implikasi tersebut muncul berkaitan dengan kecenderungan iklan memotret aspek tertentu dari perempuan, yakni bentuk tubuh, keindahanya, dan kesegaran tubuh. Selain merupakan faktor pernting dalam seleksi sosial, keterlibatan perempuan dalam periklanan juga menjadi faktor dominan dalam sosialisasi nilai, khusunya nilai tentang “keperempuanan” bahkan debora lupton beranggapan bahwa iklan-iklan pada dasarnya menggunakan tubuh perempuan untuk membangkitkan daya tarik erotik terhadap produk (lupton, 1994).

                Keberadaan perempuan seperti yang terlihat dalam iklan tampaknya ditentukan oleh serangkaian hubungan rumit. Tubuh yang merupakan bagian yang paling private dari seseorang perempuan telah menjadi milik publik yang tampak dari cara tubuh perempuan di tampilkan. Iklan yang menonjolkan bentuk penampilan, dan keindahan tubuh di tayangkan ke rumah-rumah dan berbagai tempat publik di mana proses beleajar berlangsung. Dari fenomena tersebut yang menjadi menarik adlah proses ini tidak menyebabkan terbentuknya potret perempuan yang baru, tetapi lebih merupakan “penegasan kembali” potret lama di mana perempuan merupakan objek seks. Seksisme akhirnya semakin menguat.

                Di sini memang terjadi pergeseran dalam menampilkan image perempuan dari objek seks ke sifa glamor dan kebebasan, namun ini lebih disebabkan oleh kepenltingan produk di mana difat perempuan yang ditampilkan di sesuaikan dengan produk oyang ingin di iklankan, bukan usaha langsung untuk memotret kebebasan dan kemampuan perempuan. Oleh karena itu menurut penulis  iklan menjadi penghambat dalam perkembangan peran perempuan, khusunya karena ia melestarikan citra perempuan sebagai objek seks, ibu dan istri yang baik, atau orang yang melayani.

                Selain iklan fenomen tersebut juga dapat ditemukan di beberapa film yang diluncurikan akhir-akhir ini, seperti  misalkan filim yang bernuansa horor, sebagian besar film-film indonesia yang horor menampilkan para perempuan yang berpenampilan vulgar, maka yang menjadi pusat hiburan sesungguhnya adalah bukan pada karakter yang ingin disampaikan lewat film melainkan mediasi tubuh yang di tampilakan pemeran perempuanya, padahal jika di pikir secara logika, korelasi antara horor dan penampilan seksi sesungguhnya sangat jauh. Penempatan  laki-laki sebagai “subjek”  dan perempuan sebagai “objek” merupakan pemosisian yang dilestarikan dalam berbagai bentuk wacana. Wacana yang dibangun oleh artis sendiri menarik untuk disimak karena memperlihatkan baaimana perspektif “designe”. 

                Proses dominasi kapaitalisme membuatr saya sangat tertarik melihat fenomena tersebut dengan mengunakan pendekatan dari pemikian Foucault sebagai the death of the subject, dalam hal ini perempuan sebagai subjek telah mati, di mana ia tidak lagi dapat mengendalikan dirinya sendiri, tetapi telah dikendalikan  oleh ideologi dan kepentingan pasar, aktivitas konsumsi menjadi panglima kehidupan. Dan perempuan sesungguhnya merupakan produk dari kehidupan sosial tersebut sehingga ia tersubordinasi oleh kepentingan-kepentingan dan harapan-harapanumum yang ingin melihat perempuan sebagai objek. Oleh karena itu ketika kita aberbicara tentang kekerasan terhadap perempuan, maka bukanlah pemukulan, perkosaan, atau beban fisik yang dialami perempuan yang perlu dipperhatian. Keseluruhan wacana publik yang dibagnun oleh berbagai agen sosial adalah kekuatan dhsyat yang melahirkan berbagai bentuk kekerasan itu karena ia telah membangun sebuah dunia yang gelap di mana hantu-hantu (laki-laki dan permpuan) saip memangsa perempuan.

Referensi
1996 “Seks Gender dan reproduksi Kekuasaan” Agus Dwiyanto
2008 “Feminist Thought” Rosemarie Putnam Tong”

2000 “Perempuan dalam Wacana Perkosaan” Eko Prasetyo & Suparman Marzuni

Hegemoni Senior dalam Kegiatan Ospek


Kasus kekerasan yang dilakukan sekumpulan mahasiswa yang tergabung dalam tim ospek atau yang di sering di sapa senior angkatan, menjadi momok yang Nampak menakutkan bagi beberapa siswa yang baru lulus dari banguku SMA. Tindakan-tindakan kekerasan yang dilakukan terhadap adik-adik junior sangat beragam, mulai dari kekerasan fisik, mental bahkan ada yang sudah mengarah pada tindakan asusila. tiga bulan yang lalu kultur pendidikan kembali tercoreng dengan menyebarnya berita yang memilukan yang datang dari seorang mahasiswa baru di Surabaya, di mana mahasiswa tersebut bernama Fikri asal NTT  meninggal dunia akibat beberapa tindakan kekerasan yang menimpa dirinya pada saat ospek dilakukan oleh senior dari kampus ITN. Kejadian tersebut semakin memanas ketika beberapa foto yang berhasil di kumpulkan terlihat tindakan-tindakan senior yang memperlakukan gaya-gaya erotis terhadap maba perempuan dan juga kekerasan fisik. Bahkan menurut media yang meliput ada juga yang disuru oral dengan mengunakan buah wortel yang menyerupa alat kelamin pria, sungguh tindakan yang sangat memalukan yang dilakukan oleh kaum-kaum yang dikatakn orang yang sedang mengemban pendidikan.

                Senior dalam kultur akademik tidak lagi menjadi sebuah sapaan atas yang lebih di anggap tua dan di hargai, sebagaimana dalam kultur masing-masing daerah yang di luar dari bangku pendidikan  juga sering di di terapkan bahwa bagaimana kita menghargai yang lebih tua. Namun akhir-akhir ini  senior  di maknai menjadi sesuatu yang tinggi dan dominan dalam lingkungan kampus dan juga menjadi sebuah identitas baru bagi mahasiswa-mahasiswa senior untuk berbuat seenak perutnya terhadap mahasiswa baru. Beberapa tindakan-tindakan yang merusak citra pendidikan yang dilakukan oleh beberapa pelajar-pelajar ini menjadi trauma tersendiri bagi anak-anak yang ingin melanjutkan pendidikanya, dan ini terus di warisi setiap pergantian taun ajaran, jika mereka sebelumnya saat di ospek di sajikan dengan tindakan-tindakan yang kasar dan juga keras, maka mereka pun akan melakukan hal yang sama terhadap yang baru masuk dan inilah yang mungkin saya sebut ajang balas dendam.

                Meskipun sebelumnya hal itu penulis sudah smenyadari tentang beberapa kekerasan ospek dalam perguruan tinggi, tapi penulis tetap  berprinsip bahwa saya akan menolak dan memutuskan tidak kuliah di kampus manapun jika kampus tersebut menyajikan ospek yang mengutamakan ospek fisik, namun beruntung saya berhasil masuk di salah satu universitas swasta di Jawa tengah yang menyajikan ospek yang di luar yang saya tidak inginkan. Ospek yang saya dapatkan justru menjadi semangat baru saya  dalam mengembangkan potensi yang saya ingin kembangkan dalam pendidikan saya karena ospeknya menyentuh  pada aspek sosialisasi, seperti bersih-bersi kampung dan juga perkenalan bagi warga, pembinaan yang meskipun di lakukan di lapangan yang diselimuti terik matahari tapi tidak apa –apa yang penting kepala terisi karena memang ospek demikianlah yang sekiranya menyentuh di aras pendidikan. Dan di kampus yang ini juga sangat jarang mengunakan kata senior dan junior melainkan sapaan yang lebih akrab yaitu “Kak untuk yang senior sapaan  dek untuk yang masi junior” , kata ini sesungguhnya sama saja namun terkdang beberapa orang yang keliru memakni tentang senior ketika identitas ini dilekatkan kepad sesorang.

                Namun bukan berarti karena di kampus penulis kata ‘senior dan “junior” jarang digunakan akhirnya saya mengkritisi, tetapi karena saya menilai secara pribadi kata tersebut Nampak tidak etis dalam lembaga pendidikan. Dalam padangan penulis selain dalam ospek  dengan mengunakan kata senior ini sering kali mengungkung kemampuan bagi yang junior  dalam berbicara oleh karena yang senior selalu diposisikan sebagai yang tertinggi dan bahkan bisa jadi mengkalim dirinya yang selalu benar, sementara dalam lembaga pendidikan yang di utamakan adalah produktifitas berpikir, bukan sebuah identitas yang tidak jelas. Mungkin agak hiperbola jika saya katakana ini adalah ‘kasta’ yang dibangun oleh kultur pendidikan, tetapi memang nyatanya seperti demikian yang terjadi, faktalah yang meringankan penulis untuk berbicara demikian. Sangatlah tidak bijak jika ospek dalam lembaga pendidikan melampau ospek-ospek yng di gunakn oleh orang-orang militer saat pendidikan, jika militer menerapkan hal demikian tidaklah mengherankan karena memang itu adalah persyaratan untuk menguji stamina fisik dan juga mental. Tapi apa jadinya jika model tersebut di terapkan dalam lembaga pendidikan seperti kampus, ini sama sekali tidak sinkron dengan apa yang dicita-citakan lembaga pendidikan. Dalam penyelenggaran ospek yang dilakukan oleh senior mahsiswa yang tidak sesuai dengan syarat lembaga pendidikan misalkan di suruh lari di lapangan yang kapasitanya sebesar lapangan bola, dan itu dilakukan beberapa kali dan kecenderungan itu dilakuka di matahari yang panas, dan tidak disediakan air minum, lalu sisi apa yang di kemabangkan jika di korelasikan dengan pendidikan?,di botakin semabari di perintahkan oleh seniornya untuk pusap, lari, minum air di gelas kemudian di join ke beberap peserta ospek? Ada kaitan tidak dengan pendidikan ?, dan bayangkan jik hl ini terus di kembangkn dri genersi-ke generasi dan mengkar dalam kultur pendidikn kita maka berhenti kita bicara tentang pendidikan yang berbasis pengembangan pemikiran yang lebih maju.

Kasus kekerasan yang dilakukan sekumpulan mahasiswa yang tergabung dalam tim ospek atau yang di sering di sapa senior angkatan, menjadi momok yang Nampak menakutkan bagi beberapa siswa yang baru lulus dari banguku SMA. Tindakan-tindakan kekerasan yang dilakukan terhadap adik-adik junior sangat beragam, mulai dari kekerasan fisik, mental bahkan ada yang sudah mengarah pada tindakan asusila. tiga bulan yang lalu kultur pendidikan kembali tercoreng dengan menyebarnya berita yang memilukan yang datang dari seorang mahasiswa baru di Surabaya, di mana mahasiswa tersebut bernama Fikri asal NTT  meninggal dunia akibat beberapa tindakan kekerasan yang menimpa dirinya pada saat ospek dilakukan oleh senior dari kampus ITN. Kejadian tersebut semakin memanas ketika beberapa foto yang berhasil di kumpulkan terlihat tindakan-tindakan senior yang memperlakukan gaya-gaya erotis terhadap maba perempuan dan juga kekerasan fisik. Bahkan menurut media yang meliput ada juga yang disuru oral dengan mengunakan buah wortel yang menyerupa alat kelamin pria, sungguh tindakan yang sangat memalukan yang dilakukan oleh kaum-kaum yang dikatakn orang yang sedang mengemban pendidikan.

                Senior dalam kultur akademik tidak lagi menjadi sebuah sapaan atas yang lebih di anggap tua dan di hargai, sebagaimana dalam kultur masing-masing daerah yang di luar dari bangku pendidikan  juga sering di di terapkan bahwa bagaimana kita menghargai yang lebih tua. Namun akhir-akhir ini  senior  di maknai menjadi sesuatu yang tinggi dan dominan dalam lingkungan kampus dan juga menjadi sebuah identitas baru bagi mahasiswa-mahasiswa senior untuk berbuat seenak perutnya terhadap mahasiswa baru. Beberapa tindakan-tindakan yang merusak citra pendidikan yang dilakukan oleh beberapa pelajar-pelajar ini menjadi trauma tersendiri bagi anak-anak yang ingin melanjutkan pendidikanya, dan ini terus di warisi setiap pergantian taun ajaran, jika mereka sebelumnya saat di ospek di sajikan dengan tindakan-tindakan yang kasar dan juga keras, maka mereka pun akan melakukan hal yang sama terhadap yang baru masuk dan inilah yang mungkin saya sebut ajang balas dendam.

                Meskipun sebelumnya hal itu penulis sudah smenyadari tentang beberapa kekerasan ospek dalam perguruan tinggi, tapi penulis tetap  berprinsip bahwa saya akan menolak dan memutuskan tidak kuliah di kampus manapun jika kampus tersebut menyajikan ospek yang mengutamakan ospek fisik, namun beruntung saya berhasil masuk di salah satu universitas swasta di Jawa tengah yang menyajikan ospek yang di luar yang saya tidak inginkan. Ospek yang saya dapatkan justru menjadi semangat baru saya  dalam mengembangkan potensi yang saya ingin kembangkan dalam pendidikan saya karena ospeknya menyentuh  pada aspek sosialisasi, seperti bersih-bersi kampung dan juga perkenalan bagi warga, pembinaan yang meskipun di lakukan di lapangan yang diselimuti terik matahari tapi tidak apa –apa yang penting kepala terisi karena memang ospek demikianlah yang sekiranya menyentuh di aras pendidikan. Dan di kampus yang ini juga sangat jarang mengunakan kata senior dan junior melainkan sapaan yang lebih akrab yaitu “Kak untuk yang senior sapaan  dek untuk yang masi junior” , kata ini sesungguhnya sama saja namun terkdang beberapa orang yang keliru memakni tentang senior ketika identitas ini dilekatkan kepad sesorang.


                Namun bukan berarti karena di kampus penulis kata ‘senior dan “junior” jarang digunakan akhirnya saya mengkritisi, tetapi karena saya menilai secara pribadi kata tersebut Nampak tidak etis dalam lembaga pendidikan. Dalam padangan penulis selain dalam ospek  dengan mengunakan kata senior ini sering kali mengungkung kemampuan bagi yang junior  dalam berbicara oleh karena yang senior selalu diposisikan sebagai yang tertinggi dan bahkan bisa jadi mengkalim dirinya yang selalu benar, sementara dalam lembaga pendidikan yang di utamakan adalah produktifitas berpikir, bukan sebuah identitas yang tidak jelas. Mungkin agak hiperbola jika saya katakana ini adalah ‘kasta’ yang dibangun oleh kultur pendidikan, tetapi memang nyatanya seperti demikian yang terjadi, faktalah yang meringankan penulis untuk berbicara demikian. Sangatlah tidak bijak jika ospek dalam lembaga pendidikan melampau ospek-ospek yng di gunakn oleh orang-orang militer saat pendidikan, jika militer menerapkan hal demikian tidaklah mengherankan karena memang itu adalah persyaratan untuk menguji stamina fisik dan juga mental. Tapi apa jadinya jika model tersebut di terapkan dalam lembaga pendidikan seperti kampus, ini sama sekali tidak sinkron dengan apa yang dicita-citakan lembaga pendidikan. Dalam penyelenggaran ospek yang dilakukan oleh senior mahsiswa yang tidak sesuai dengan syarat lembaga pendidikan misalkan di suruh lari di lapangan yang kapasitanya sebesar lapangan bola, dan itu dilakukan beberapa kali dan kecenderungan itu dilakuka di matahari yang panas, dan tidak disediakan air minum, lalu sisi apa yang di kemabangkan jika di korelasikan dengan pendidikan?,di botakin semabari di perintahkan oleh seniornya untuk pusap, lari, minum air di gelas kemudian di join ke beberap peserta ospek? Ada kaitan tidak dengan pendidikan ?, dan bayangkan jik hl ini terus di kembangkn dri genersi-ke generasi dan mengkar dalam kultur pendidikn kita maka berhenti kita bicara tentang pendidikan yang berbasis pengembangan pemikiran yang lebih maju.

Friday, 31 January 2014

Demonstrasi Besar-besaran di Kabupaten Mamasa sangat Mungkin terjadi


(Potret nasib Mamasa)
Aksi

Tak terasa umur mamasa hingga hari ini sudah 12 tahun menjadi sebuah kabupaten setelah pecah dari kabupaten induk yaitu Pol-Mas. Namu dampak pembangunan  di daerah mamasa sebagaian besar masyarakat menilainya tidak maksimal dan sangat memprihatinkan. Bagaimana tidak semenjak mamasa belum menjadi kabupaten jalan poros polewali mamasa hingga kini kondisinya masi sama pada hal sudah disebut sebagai kabupaten. Jika masalah tata ruang dijelaskan di mamasa secara keseluruhan mungkin hanya 2 % yang punya nilai psoitif selebihnya adalah masalah. Oleh karena  itu penulis hanya mengambil 1 sampel masalah yaitu infrastruktur jalan. Hampir semua kalangan rakyat mamasa mengeluhkan dengan keprihatinan  yang sama tentang jalan utama dari mamasa ke polewali.

                Ironisnya jalan yang boleh dikatakan sebagai jalan utama dalam sejarah dirintisnya mamasa, seolah-olah diabaikan, justru jalan yang menghubungkan mamasa, malabo, mambi tembus kemamuju yang di proritaskan padahal jalan ini sangat sepi penguna jalanya, apa maksudnya?. Jalan dari mamasa ke polewali boleh dikatakan sangat ramai pengguna jalanya karena menghubungkan banyak daerah yang bisa menyuplai kebutuhan-kebutuhan orang mamasa, tapi faktanya hingga hari ini jalan tersebut hanya di tambal pasir dan kerikil, meskipun sudah beberapa dilakukan pengaspalan tapi yah seadaanya bisa di lihat langsung seperti apa fakta di lapangan. Dalam analisa saya nampaknya pemerintah propinsi dengan kabupaten juga memainkan politik dalam soal ini, semoga saja salah. Dengan mengacu kepada permasalah infrastruktur ini sangat beralasan jika masyarakat mulai geram, karena apa pun alasanya ini menjadi bagian dari kehidupan rakyat mamasa.
jalan poros Mamasa
jalan poros Mamasa




                Melalui tulisan ini penulis sangat berharap ada sebuah nilai yang bisa diyakini bersama semua masyarakat untuk bisa mengembalikan daerah kita untuk bisa lebih dekat dengan pembangunan yang berkelanjutan dan mengedepankan kehidupan rakyat itu sendiri, karena esensi demokrasi mesti melindungi rakyat. Jika akhir-akhir ini ada wacana untuk melakukan aksi turun jalan untuk protes terkait masalah di atas, maka itu sangatlah wajar dan sangat diharapkan. Karena ssesungguhnya pemerintah memahami apa yang ingin mereka lakukan namun karena melawan egonya tentang  ‘kekuasaan uang’ yang sudah melekat lama yang sulit di tinggalkan maka dari itu rakyatlah yang selalu menanggung imbasnya. Bagi penulis proses negosiasi, diplomasi dengan pemerintah kita di mamasa bukanlah hal yang tepat, karena orang mamasa di besarkan dalam filsofi “misa kada di potuo pantan kada dipomate” yang menurutku filsofi ini sudah menjunjung tinggi tentang kemanusiaan,  jika filsofi ini benar di sadari dan dilekatkan dalam setiap tindakan mestinya kita dipimpin oleh pemerintah yang bermartabat mengedepankan nilai norma dan HAM, tapi jika hal ini sebaliknya maka itu berarti kesengajaan dan kerakusan.


                Jika demonstrasi besar-besara terjadi di Mamasa, maka kerurgian ini bukan ada di pemerintah namun ada di masyarakat, karena demostrasi adalah jalan terakhir dan ini adalah bagian dari revolusi maka imbasnya adalah trauma bagi anak cucu. Tapi kalau ini tidak dilakukan maka rakyat mamasa dan juga generasinyalah yang paling rugi karena terus di kerangkai oleh sistem dan pemimpin yang tak mampu meletakan nilai humanis dalam mengontrol sistem. Pernyataan di atas nampaknya ambigu namun jika ditarik benang merahnya tentu ada salah satu yang di eliminasi antara sistem atau yang memimpin sistem, rakyat tidak mungkin di eliminasi. oleh karena itu demostrasi besar-besaran sangat mungkin terjadi, jika kesadaran terus di bungkam oleh pemerintah kabupaten dan propinisi. Seorang sejarawan modern bernama Toynbee mengatakan “manusia disebut manusia buka ketika ia bisa menguasai sumber daya menguasai tehknologi , tapi manusia disebut manusia ketika fajar kesadaranya telah bangkit, jika kesadarnya belum bangkit maka ia belum menjadi Homo Sapiens yang sudah berpikir, namun masi Homo Erectus yang hanya bisa berjalan tegak lurus.

Tuesday, 12 November 2013

KEARIFAN LOKAL ORANG MAMASA


Anak kecil yg lgi bakar kue



Bicara sola masyarakat berarti menunjuk pada sekumpulan manusia sedangkan bicara soal kearifan berarti menunjuk pada pola perilaku yang khas dalam masyarakat. Kearifan adalah sebuah kebiasaan dalam sebuah daerah yang itu mencirikan tentang praktek kehidupan masyarakatnya, ia dikatakan arif ketika nilai-nilai kebiasaan it terus dilakukan secara berulang-ulang dan itu melekat pada pelapisan social masyarakatnya. Unsur kedaerah yang terpenting adalah karakter masyarakatnya, karakter ini dilihat secara keseluruhan dalam aspek  social.

         
Panen padi
     
 Suatu hari seorang teman mahasiswa yang dari lampung mengatakan bahwa gotong royong sesungguhnya saya tidak temukan di Jawa yang mana banyak orang bilang bahwa dijawalah gotong royong  benar-benar hidup, namun hal itu justru saya temukan benar di pulau Sulawesi  orang berpesta orang syukuran orang bikin rumah orang berduka adalah perbandingan yang sangat tepat dimana kita melihat symbol gotong royong di pula Sulawesi (tutur temanku). Pernyataan demikian mengingatkan saya pada daerahku yaitu Mamasa bahwa di mana pernyataan  teman saya di atas memang benar adanya, sebuah kearifan local yang paling kental di daerah kita adalah system gotong royong yang sangat tinggi, di saat kita panen padi di sawa misalkan,  kita melihat segerombolan orang yang datang untuk ikut memanen padi sang pemilik sawah tampa diminta harus datang atau membuat rumah atau acara lainya ini sudah tertanam dalam jiwa orang mamasa mungkin aku sebut sebagai “kesadaran local”.


                Seiring mengalirnya kritikan demi kritikan dari banyak masyarakat khususnya masyarakat awam terkait pembangunan di mamasa namun bagi penulis kearifan tidak akan disetarakan dengan dunia politik atau seputar iklim birokrasi di Mamasa,dalam pandangan penulis luhurnya nilai kelokalan lebih bisa menopang eksistensi daerah itu sendiri ketimbang menjadikan iklim politik sebagi asumsi dasar. Kedua hal ini sangat penting  untuk keberlangsungan pembangunan namun tentu harus bermartabat. Bicara soal kearifan local di Mamasa tidak hanya dengan icon gotong royong namun tutur kata, tata karama yang benar-benar diturunkan dari pemula-pemula peradaban “Kondo Sapata” itu juga berhasil diturunkan secara matang untuk Mamasa, hingga akhirnya ini menjadi budaya berkomunikasi bagi masyarakatnya sebuah nilai yang tak terukur yang diwariskan para leluhur kita. Saya teringat sebuah motto lembang kondo sapaa yang mengatakan “Moi tau sipoloan kayu ke mettamai tondok ke marupa tau  di angga toi”  yang artinya biarpun orang yang stengah berbadan kayu jika datang di kampung kita,  tapi berwajah manusia juga harus di anggap, motto ini benar-benar kaya makna dan semoga ini benar-benar terus melekat dalam kehidupan orang mamasa.

                Dalam diri penulis harus diakui bahwa warisan nilai tentang kearifan tersebut banyak mempengaruhi saya, dan bahkan nilai itu bisa mengkondisikan saya pada tempat yang berbeda, ada cirri kemamasaan saya yang terus terbawa ketika saya bergumul dengan orang lain, tidak dapat disangkal tentang nilai tersebut sebagai orang yang sadar akan hal ini mestinya bersyukur atas kearifan tersebut, nilai-nilai yang telah melekat sejak lama tidak dirubah oleh lingkungan yang baru ia tetap hidup, ini jugalah yang penulis sebut sebagai “keagungan tradisi”. Mengaku orang mamasa harus ada miniature tentang tradisi orang mamasa yang anda harus bawa, semoga anda jgua memiliki yang sama dengan penulis.

Merujuk pada karakter masyarakat mamasa yang peka akan tata karma dalam berbahasa, gotong royong yang kuat, tapi kok ini tidak terjadi dalam iklim perpolitikan yah? Pertanyaan ini mengkhari tulisan ini.               

Sunday, 3 November 2013

Sulit Menemukan Keluhuran Politik di Negri ini

 
Sumber http://www.republika.co.id/
Bicara soal politik banyak masyarakat sudah menjadi apatis dengan iklim perpolitikan di Negeri ini itu karena keburukan citra yang diperanakan oleh beberapa Politisi itu alasanya citra Politik menjadi buruk di beberapa masyarakat. Untuk menelusuri kebenaran hipotesis ini terlalu mudah untuk ditelusuri dari atas sampai kebawa bangsa ini cukuplah referensi tentang buruknya cintra politik yang di perankan actor-aktor bangsa ini. hampir semua aspek social seperti, ekonomi social budaya, rumpun politik tampa prinsip ini berkembang biak seolah-olah menjadi sebuah kewajiban tampa memandang ia sedang memegang kendali yang luhur, di Indonesia realitas yang terkadang mengatakan kepada kita bahwa politik itu kotor, di dalamya terdapat KKN pemaksaan kepetingan jual beli suara bahkan sekalipun hukum di rupiakan, politik digambarkan sebagai alat yang tepat dalam pemenuhan hasrat dengan kesewenang-wenangan.

            Pendidikan tentang etika yang di mulai dari orang tua kemudian ke jenjang pendidikan dan lingkungan masyarakat menjadi tak bermakna saat sudah meraih posisi penting dalam sebuah masyarakat. Ini mungkin menurut analisis penulis salah satu teka teki tentang manusia, di mana manusia berproses begitu lama dalam membekali diri dengan harapan ia bisa menjadi baik dan bisa teranggap dalam sebuah komunitas ternyata hal demikian hanya  kebanyakan tejadi dimana ia baru memulai sebuah misi. Kekuasaan ketika menjadi sebuah tujuan utama tidaklah masalah dan itu dambaan bagi banyak orang namun kekuasaan mestinya dilihat  sebagai salah satu tanggung jawab social, melekatnya sebuah identitas kekuasaan dalam diri seseorang menjadi tanda di mana ia telah menjadi lider bagi orang yang “dikuasainya” kekuasaan bukan dimaknai sebagai tindakan kekuasaan yang agresif arogan  yang pada akhirnya memunculka keserakaaan terhadap sesuatu, jika hal ini terjadi maka hak orang lain sekalipun bisa di raih lewat kekuasaan tersebut.
            Matinya keluhuran Politik sebagian besar dimatikan oleh orang-orang yang menganggap dirinya paham betul tentang politik, politik jika dilihat cara kerjanya memang ia tak menginginkan pikiran netral ia tetap ingin lebih, kompetisinya sangat jelas bahwa bermain dalam iklim politik mestinya pandai dalam memainkan strategi. Ada anekdot juga yang mengatakan bahwa jika seorang anak diwaktu kecil ia menyenangi permainan mobil-mobilan atau  bongkar pasang berarti kelak ia sekolah masuknya di tehnik, seorang anak jika ia suka gambar corat coret tembok berarti sekolah nanti dimasukan ke sastra seni, namun jika anak suka mengambil uang orang tuanya dengan sembunyi maka tempatnya di politik hehehe hal ini semakin menciderai citra politik, penulis kurang paham betul bahwa apakah anekdot ini betul, dan apa pula kaitanya dengan politik? Sejauh ini belum ada survey tentang hal demikian, apakah memang politisi sebelum manggung memang sudah sering ‘nakal’ di saku ayah ibunya, sejauh ini yang penulis tau Gubernur hingga Presiden harus berbekal Surat Keterangan Kelakuan Baik dari Polres.
Dalam  literatur, kata “politik’ yang berasal dari bahasa Yunani mempunyai makna yang berkaitan dengan serba keteraturan, keindahan dan kesopanan bagi warga kota. Maka tugas utama polisi, kata yang serumpun dengan politik, adalah menjaga keteraturan dan keindahan kota (polis) sehingga prilaku polisi harus selalu santun (polite). Pada perspektif ketatanegaraan, keteraturan dan kesantunan hidup bersama itu dijaga dan diperjuangkan oleh para politisi. Begitu luhurnya ilmu dan misi politik, sehingga Aristoteles menyebutnya sebagai seni tertinggi untuk mewujudkan kebaikan bersama (commond and highest good) bagi seluruh Negara. Mengapa politik meruapakn ilmu yang paling mulia dan menempati kedudukan yang tertinggi? Karena menurut Aristoteles dalam Nicomachean Ethics, semua ilmu cabang yang lain di bawah kendali dan akan melayani implementasi ilmu politik guna menciptakan kehidupan sosial yang nyaman, teratur dan baik.
            Politik memang mengajarkan tentang bagaimana memperoleh kekuasaan namun politik juga mengajarkan bagaimana cara penggunaan kekuasaan yang etis. Kekuasaan enaknya adalah ia bisa digunakan dalam melakukan segalah hal termasuk menghalalkan segala cara untuk memnuhi hasrat pribadi, lalu bagaimana membangun politik yang beretika humanis, tidak menakutkan bersahabat. Untuk memunculkan ini semua tentunya dengan Politik yang punya ‘prinsip’ politik harus dilihat sebagai tanggung jawab (responsibility) dan amanah Tuhan dalam mengimplementasikan undang-undang, taat akan hukum mendengar aspirasi membantu yang lemah, dan juga bagaimana agar politik kekuasaan itu senantiasa direfleksikan bergandengan dengan dimensi kemanusiaa. jika kesadaran demikian  di tanamkan maka keluhuran politik akan dirasakan oleh manusia.

Friday, 1 November 2013

Burung Garuda Mitos atau Fakta

Garuda

Selaku warga Negara Indonesia mendengar kata Garuda tentu mengerti bahwa itu adalah lambang NKRI, lalu pertanyaanya adalah burung garuda itu hanya fakta atau mitos? Di kalangan masyarakat pertanyaan tentang eksistensi burung garuda masi terus dipertanyakan  bahwa apakah spesies burung garuda memang ada, sama halnya dengan penulis masi juga terus bertanya-tanya tentang keberadaan burung yang menjadi lambang Negara indonesia.

            Ataukah spesies burung garuda ini pernah ada tapi sudah punah? Tapi jika itu pernah ada tentu peneliti-peneliti pernah menulis tentang burung tersebut apalagi dengan dijadikanya burung ini menjadi lambang Negara, tapi saya belum pernah menemukan buku yang benar-benar membahas secara mendalam tentang keberadaan burung garuda. Burung garuda jika dilihat secara fisik ada kemiripan dengan gambar burung yang dijadikan lambang kerjaan samudera pasai bahkan ada beberapa artikel yang mengatakan bahwa Indonesia meniru dari kerajaan samudra pasai. Dalam cerita Mahabarata burung Garuda digambarkan sebagai burung yang perkasa, setia kawan, dan berani. Burung Garuda adalah kendaraan Dewa Wisnu  ketika berkelana ke penjuru Bumi, menurut para ahli burung, garuda hanya digambarkan sebagai burung yang berjambul, dan selebihnya itu di ambil dari cerita mahabarata.
Lambang NKRI & Lambang Kerajaan Samudera pasai

Bintancenter.blogspot.com
Elang Jawa (Sumber Bintancenter.blogspot.com


            Di Indonesia sendiri salah satu burung yang memiliki kemiripan dengan burung garuda adalah elang jawa namun itupun tidak keseluruhan bentuk fisik garuda memiliki kemiripan dengan elang jawa. Timbul pertanyaan bagi saya bahwa jika burung garuda ini memang pernah ada berarti ia tidak di Indonesia dugaan penulis mungkin ia pernah ada di India karena merujuk pada kisah mahabarata tentang burung garuda, dari beberapa referensi yang penulis baca burung garuda esensialnya tidak lebih hanya mitos dalam cerita mahabarata. Lalu pertanyaan selanjutnya adalah mengapa ia menjadi lambang Negara RI, kenapa bukan Elang jawa atau jenis burung yang lain, apakah karena ceritanya burung Garuda yang begitu sakti dalam beberapa mitos maka ia dijadikan sebagai lambang Negara, lalau jika ia mitos berarti kasaranya adalah lambang Negara kita adalah “Mitos”.


Dari sudat pandang teman-teman sendiri bagaimana melihat lambang Negara kita yang hingga hari ini masi terus dipertanyakan beberapa orang karena tidak adanya referensi yang betul-betul mengulas secara mendalam tentang burung garuda, ataukan memang kebenaranya garuda hanya terjadi dalam mitos..??