Tuesday, 10 March 2015

Keliru Mengindonesiakan SDM


Implikasi Pendidikan

Pendidikan adalah sebuah proses pengubahan sikap dalam menuntut perkembangan untuk pendewasaan diri. Aspek pendidikan menitik beratkan manusia sebagai pusat perubahan, oleh karenanya pendidikan sangat berguna dan memabntu manusia lebih memahami dunianya. Pendidikan dalam bahasa Yunani bersal dari kata padegogik yaitu ilmu menuntun anak. Orang Romawi melihat pendidikan sebagai educare, yaitu mengeluarkan dan menuntun, tindakan merealisasikan potensi anak yang dibawa waktu di lahirkan di duni. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) pendidikan berasal dari kata didik (mendidik), memelihara dan member latihan (ajaran pimpinan) mengenai akhlak dan kecerdasan pikiran.

            Dalam mendewasakan diri lewat pendidikan Negara membuat beberapa kebijakan dalam dunia pendidikan, kebijaka tersebut di maksudkan agar dunia pendidikan bisa menjawab tantangan globalisasi.  Lewat pendidikan yang terus di kampanyekan akhirnya munculalah beberapa tingkatan pendidikan yang mewarnai bangsa Indonesia, mulai dari pendidikan Dasar  SD, SMP, dan SMA. Dengan bekal awal pendidikan lalu di lahirkan pulalah system pendidikan yang bertaraf perguruan tinggi. Lewat media pendidikan seperti inilah manusia-manusia di payungi oleh Negara dalam proses pendidikan dari jenjang ke jenjang, segalanya di atur mulai system pendidikan dalam suatu Negara bisa terpola dengan baik dan bisa menjadi asset dari Negara itu sendiri.

            Bicara pendidikan tidak lepas ketika orang mulai membincangkan SDM, sudah digariskan bahwa kekuatan manusia adalah berpikir, mengembangkan daya berpikir tentu atas dasar instrument pendidikan, maka tak heran kemajuan suatu daerah sangat ditentukan oleh berapa besar jumlah orang-orang berpendidiknya. Bahkan bicara kemiskinan sekalipun pendidikan selalu menjadi sebuah ukuran. Maka dari itu pendidikan adalah vitalitas sendi kehidupan manusia, mengingat manusia dalam hidupnya berkompetisi.

Mengapa Harus ke tempat lain mencari Pendidikan

            Sudah dikatakan sebelumnya bahwa pendidikan adalah bagian sangat vital dalam kehidupan manusia. Karena besarnya peran pendidikan dalam mengembangkan SDM maka tak heran pemerintah pun berinisiaatif untuk melahirkan berbagai kebijak untuk mendorong putra-putri daerahnya untuk mengenyam pendidkan.

            Dalam tulisan ini penulis ingin sedikit menyinggung kebijakan pemerintah, dalam hal membiayai beberapa putra-putri daerah untuk keluar mencari pendidikan-pendidikan yang katanya bermutu, kebijakan itu di biasa disebut sebagai “Ikatan Pemda”, di Indonesia daerah yang di anggap sebagai daerah yang pendidikan bermutu adalah Pulau Jawa dalam hal ini di ukur dari “(Alumni, Infrastruktur dan Pengajarnya)”. Hal ini tebukti dengan banyakya daerah di Indonesia atas kebijakan pemdanya mengirim putra-putrinya keluar pulau jawa untuk kuliah. Secara pribadi harus saya akui bahwa hampir segalanya jika kita bicara perkembangan memang pulau jawa jauh lebih maju di banding daerah lain di Indonesia. Di kampus penulis sendiri di salatiga tepatnya jawa tengah yaitu  UKSW, hampir sebagian besar mahasiswanya berasal dari pulau Indonesia bagian Timur, bahkan alumninya begitu selesai ada yang langsung menjadi dosen di kampus itu sendiri, intinya begitu lulus tidak pulang ke kampung halamanya untuk membangun daerahnya melainkan ia sudah memutuskan untuk berdiam di tempat tersebut, berdiam di sutu tempat itu sah sah saja dan itu juga pilihan rasional tapi maksudnya adalah apakah tidak lebih bijak jika kita membangun daerah kita sendiri.

            Dalam hal ini penulis menilai bahwa agak keliru rasanya kebijakan tersebut, penulis berpikir kenapa bukan lembaga pendidiknya di benahi di daerah itu sendiri malai dari systemnya, seleksi pengjar yang baik dan membut aturan yang baik, lalu mendatangkan pengjar-pengajar dari luar yang bermutu, bukan terus mennerus mengirimkan anak didik untuk keluar. Sekalipun putra putri daerah itu cerdas kreatif dan berpendidikan tinggi tapi daerahny tidak menyipkan ruang untuk mereka berkarya yah sama saja tidak berguna, oleh karenanya yang terpenting adalah menyiapkan tempatnya lalu tempat itulah yan di pikirkan bagaimana supaya ruang  tersebut berisi dengaan orang-orang yang bermutu. Jika dikatakan bahwa lingkungan yang baik dapat mempengaruhi si subjek juga menjadi baik maka kenapa kita tidak menciptaakan lingkungan yan baik tersebut kenapa harus keluar mencari? Jika bicara konteks Indonesia semestinya pendidikn kita harus setara pada tingkat kemajuanya, ini bukan soal rasis tapi ini soal bagaimna melihat Indonesia maju secara universal.

            Masalah yang berikut adalah teman-teman yang kulih berstatus “Iktan Pemda” jurusnaya bukan kehendak bebasnya untuk memilih jurusn di pergurun tinggi tapi jug ditentukan oleh pemda, misalkan teman-teman dari Kalimantan dari sulawesi mahasiswanya sebagian besar diarahkan di keguruan PGSD, begitu lulus secara serentak maka mereka masi menunggu pengangkatan untuk resmi menjadi PNS karena lapangan pekerjaan terbatas sementara yang mau daftar begitu banyak. Akhirnya ada yang menunggu sampai 3 tahun belum juga ada pengangkatan, bahkan ada yang bilang kita ingin berkompetisi di bidang yang lain tapi takutnya status pemda kita di cabut dan disuruh ganti rugi karena kita tidak taat pada kesepakatan awal di mana kesepakatanya hanya menjadi seorang guru bukan bidang lain. Selain  itu juga mungkin banyak yang potensinya bukan menjadi seorang guru tetapi karena iming-iming di biaya kuliahnya maka akhirnya paksa untuk ikut ketimbang pakai uang orang tua mending ikut pemda karena di bayarin. Apa yang saya katakana ini tidak lebih dari opini saja dengan merujuk pada beberapa fakta yang penulis temui, bahwa begitulah gambaran kebijakan ini, bagi penulis jika kita bicara SDM kebijakan ini kurang efesien.


            

Saya, Imajinasi, Kopi Hitam dan Membaca



Logika mengantarmu dari A sampai ke Z, tetapi imajinasi akan membawamu ke mana-mana.
Logika mengajarku tentang keruntutan dalam berpikir, lalu membuat sebuah keputusan, tetapi secara pribadi saya mengagumi sebuah imajinasi karenai ia mengajarku bagaimana berpikir tampa batas, sekalipun itu hal yang sangat tidak mungkin untuk saya lakukan, karena bermimpi pada hal-hal yang besar adalah hal pokok dalam berimajinasi.

Tentang Saya Menurut Sahabat
                Saya di mata banyak teman-teman adalah orang yang unik, manusia bandel manusia tempramen tendensius itulah penamaan dari temaan-teman, dalam aktivitas kuliah pun tak jarang saya di usir oleh dosen dari kelas karena soal terlambat soal ngotot di kelas seperti itulah saya. Mau dibilang ini adalah karakter ntahlah aku juga sampai sekarang bingung karakter itu apa sih. Intinya saya tidak suka di atur saya berpenampilan pun seenaknya sendiri tidak bisa membedakan ini tempat yang harus berpakaian formal atau tidak saya samakan saja. Tapi kalau soal diskusi soal baca buku itu adalah hobi saya diskusi apa pun itu mau yang terkait studi atau stupid adalah satu kegemaran saya yang penting bisa kumpul sama teman-teman tertawa bersama-sama, mungkin itu alasanya hingga hari ini saya belum lulus-lulus karena kuliah dan bermain saya samakan saja hehehe, kafe kampus saya berikan nama kampus 2  tidak ada aktivitas pokok di kampus pasti waktu habis di kafe, kadang berangkat jam 10 pagi pulang jam 4 sore padahal Cuma di kafe. Intinya saya nyaman dengan aktivitas itu, di kafe tentunya tidak asal duduk yah pasti cerita yang bermutu sedikitlah sembari menikmati kopi hitam dan rokok GG hampir setiap hari demikian.

Imajinasi Tentang Perang Dunia
                Perna di suatu hari saya ke kampus agak sore, sekitar jam 2 star dari kost, sebelum masuk kampus saya membeli sebotol minuman bersoda setelah itu saya masuk di kampus, tapi hari itu saya memutuskan untuk santai-santai di areal kampus hinga sekitar 20 menit saya berjalan sembari menikmati kesejukan iklim kampus saya akhirnya mampir di salah satu bangku yang ada di pojok lapangan sepak bola kampus, hari itu benar-benar cerah, di saat itu pula pikiranku sudah mulai memilah ide-ide yang membayangi tentang objek-objek yang saya amati di sekelilingku, hingga akhirnya kutemukan satu objek di mana imajinasi memaksa untuk harus kembali ke sejarah besar yang pernah terjadi di masa lalu sekalipun saya tidak terlibat di masa itu. Objek itu adalah sekumpulan capung yang beterbangan rendah di atas udara sembari mendekati ranting pohon tak hanya itu padanganku juga mengamati daun-daun yang sudah kering jatuh dari rantingnya hingga ia menyentuh tanah dan kadang di saat bersamaan abu-abu yang ada di lapangan tiba-tiba mengepul dan membentuk ibarat asap sungguh kejadian-kejadian yang simple ini memaksa pikiranku untk berimajinasi tentang bagaimana peranga dunia terjadi di kala itu. Capung yang beterbangan ku ibaratkan sebagai pesawat-pesawat tempur yang sedang menyerbu lawan, dan saya mengibaratkan daun-daun yang jatuh adalah bom yang di jatuhkan dari pesawat, dan amatan terakhirku melihat abu yang beterbangan adalah efek dari dentuman bom yang dijatuhkan dari pesawat. Sunggu rangkai kejadian yang terjadi bersamaan tapi bisa di rangkai dalam sebua cerita yang menarik, Sekalipun saya tidak hidup di jjaman perang dunia  tetapi lewat imajinasi saya bisa membuat sepenggal cerita tentang kejadian tersebut.

Tentang Kopi Hitam
Banyak yang bilang semua kopi itu sama, kalau warnanya ia sama-sama hitam, tapi kalau rasanya jelas berbeda, aromanya saja berbeda. Hampir semua jenis kopi di Indonesia sudah ku nikmati, dari kopi Lampung, Aceh, Flores, Toraja, Palembang, Kalimantan, Jawa, dll, dari berbagai daerah ini masing menyajikan aroma yang khas, seorang penikmat kopi akan menjatuhakan pilihanya pada satu rasa kopi jika saya pilihanku adalah Kopi Toraja dan Palembang, maklum dari kecil lahir di dekat pohon kopi di pedalaman Toraja hehe, kopi hitam bagi saya bisa memberi satu spirit, ini bukan berlebihan, saya tak meminum kopi sehari bawaanya ingin di tempat tidur tapi jika saya meminum kopi bawaanya ingin bercerita intinya ingin beraktivitas sembari menikmati kopi, tak jarang tulisan saya itu berawal dari konco kopi hitam ,hingga kuberi satu istilah “Khas” (kopi Hitam Saja). Kopi hitam memang identik dengan pria itu alsanya jika saya duduk di suatu tempat dan melihat seorang cewek yang meminum kopi hitam rasanya ingin berkenalan dengan dia biar bisa menikmati kopi bersama, dan akhirnya kita bisa bernyanyi Join join kopi, hehe.. bagi saya kopi hitam itu minuman para pria yang suka berimajinasi. Jika cewek menikmati kopi itu tentunya wanita-0wanita yang berseni tinggi, ini pengalaman saya berkenalan dengan wanita-wanita penikmat kopi.

Membaca
saya orang yang tidak suka di atur, oleh karena baca buku tidak ada yang mengatur itu alasanya saya suka baca buku, terkadang kesendirianku di ramaikan dengan bacaan-bacaan yang menarik buku-buku kegemaran saya adalah Filsafat aliran-aliran budhisme karya-karya Plato dkk, bacaan motivasi, dan social lainya, membaca buku adalah sebuah petualangan tampa batas, saya tidak harus berjabat tangan dengan seorang Plato, seorang Aristoteles, Albert Einstein, tapi lewat membaca saya bisa tau tentang sebagian pikiran cemerlangnya dan sebagian isi dapurnya. Membaca adalah gerbang untuk masuk dalam dunia yang luas, ia adalah akktivitas yang sangat sederhana tapi implikasinya begitu besar. Ia bisa membentukmu menjadi sosok yang professional tapi idealnya adalah rajin baca buku juga harus sering-sering dibenturkan dengan kejadian di lapangan,  jangan hanya menjadi kutu buku. Baca buku lalu di samping ada kopi hitam rokok 2 atau 3 batang cukuplah utk bacaan 2 bab buku luar biasa kan, jadi jangan malas baca buku.



Friday, 29 August 2014

Antitesis Baik

Fenomena pilpres kali ini merupakan salah satu fenomena pilpres yang menarik semenjak era reformasi. Disebut demikian karena dapat dipastikan bahwa banyak orang menjadi jengkel, tertawa terpingkal-pingkal, gemas, dan emosi dengan salah satu kandidat presiden, yaitu bapak Prabowo Subianto. Prabowo membuat banyak orang berkomentar yang isinya hampir semua negatif tentang dirinya, disebabkan karena dianggap pencitraan yang dibangun tentang dirinya, pernyataan-pernyataan yang dibuat terkait dengan pilpres dan langkah-langkah nyata yang menurut banyak orang tidak konsisten. Ya, Prabowo sedang memperlihatkan antitesis. Antitesis yang diperlihatkan Prabowo adalah antitesis tentang apa yang disebut yang baik. Saya percaya bahwa kita akan berdebat tentang apa itu yang baik, namun jika yang baik itu kita taruh dalam konsep pilpres kali ini, maka banyak orang akan setuju bahwa kriteria itu ada dalam diri Bapak Joko Widodo. Tetapi sesungguhnya, menurut saya, Prabowo sendiri sedang memperlihatkan yang baik, hanya dalam cara yang berbeda - itu alasannya saya menyebutnya antitesis tentang yang baik. Artinya apa yang diperlihatkan Prabowo, bukan untuk menyangkal konsep yang baik, tetapi Prabowo sedang menggiring kita untuk melihat yang baik dalam sudut pandang yang lain, yang sama sekali berbeda dari biasanya kita lihat.

Antitesis tentang yang baik itu terus diperlihatkan Prabowo dalam beberapa hal: pertama, perekrutan calon wakil presidennya. saya percaya bahwa kita semua mengetahui bapak cawapresnya Prabowo anaknya bermasalah secara hukum, tetapi tidak dikenakan sanksi hukum atas perbuatannya. Padahal, dalam setiap debat capres - cawapres, cawapres ini paling nyaring bicara tentang persamaan di depan hukum. Kedua, partai pendukung. Kita juga bersama-sama tahu bahwa petinggi-petinggi dari partai-partai pendukungnya hampir semua sedang terjerat masalah hukum. Ketiga, oknum-oknum dalam timsesnya. Kita juga tahu bahwa ada oknum yang saat ini menjadi timsesnya adalah oknum yang memiliki dosa, salah satunya adalah dosa lumpur lapindo. Keempat, pendamping (kuasa) hukumnya. Kita juga tahu betapa tidak kredibelnya mereka, sehingga hal yang paling konyol yaitu penghitungan angka total suara saja keliru; dan kesalahan penghitungan itu dilemparkan ke kalkulator, yang nyata-nyata dia adalah mesin, yang tunduk pada apa yang diminta oleh manusia.

Dari empat hal ini, dugaan saya, Prabowo secara tidak langsung sedang membantu Bapak Jokowi untuk mulai melakukan seleksi sejak awal bahwa oknum-oknum ini, baiknya jangan sampai ada dalam pemerintahannya, atau bahkan dijadikan timnya. Bapak Prabowo juga sedang mengatakan kepada kita masyarakat Indonesia, inilah wajah-wajah mereka yang jika dipelihara terus-menerus akan berpotensi merugikan kita dan negara. Ya, lihat saja perilakunya; mungkin itu yang sedang disampaikan Prabowo secara simbolik pada kita semua.

Tetapi, apakah dengan demikian kita lalu menjadi maklum dan berhenti melakukan kritik atas langkah-langkah yang sedang dibuat Tim Bapak Prabowo? saya pikir juga tidak. Mengapa? Kita adalah harapan beliau. Kita adalah bintang pemandu beliau tentang yang baik. Karena itu, teruslah tampilkan kritik tetang apa yang baik itu, sehingga beliau dapat terbantu memperlihatkan kepada kita antitesis tentang yang baik itu.

Penulis, Onesimus Hihika, Mahasiswa UKSW, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Komunikasi
Facebook https://www.facebook.com/ones.rives

Tuesday, 25 March 2014

GUBERNUR SUL-BAR TIDAK PRO RAKYAT


Konsep nation State tidak mungkin hancur dalam tempo yang lama. Yang perlu di jaga dan diwaspadai adalah agar nation-state dengan ideologi nasionalismenya jangan dijadikan berhala. Untuk indonesia secara teoritik “kemanusiaan yang adil dan beradab” adalah payung nasionalisme bangsa ini. Jadi ideal sekali, seklaipun dalam kenyataanya menempu jalan yang berbeda. Namun, para pemimpin negeri ini belum paham makna tersebut.

            Indonesia semestinya secara kultural lebih kokoh karena bangsa lahir sebagai negara, tetapi tidak demikian yang terjadi . saya melihat kelemahan terbesar terletak pada pemimpin. Sejak proklamasi kita telah mempunyai  pemimpin-pemimpin hebat, tetapi tidak efektif. Mereka gagal membangun bangsa ini secara berencana. Kita harus jujur bahwa bangsa indonesia bisa bertahan hingga hari ini terutama karena kedarmawanan alam. Sekalipun lautan kemisikinan  masi terbentang luas celakanya  adalah kenyataan bahwa bumi yang darmawan ini menjumpai manusia-manusia yang sering lupa daratan lupa lautan. Orang baik masi banyak kita jumpai, tetapi tidak berada dalam posisi untuk bertindak efektif, kekuatan orang baik inilah yang harus di galang untuk tujuan-tujuan besar menyelamatkan masa depan bangsa.

            Nasib buruk inilah yang di alami beberapa daerah di indonesia termasuk Sul-Bar,  sebuah propinsi hasil pemekaran dari sul- sel pada tanggal 5 oktober 2004, terhitung sudah 14 tahun menjadi propinsi tetapi daerah yang bernaung di dalamnya masi banyak yang tak berdaya, berdasrakan data yang ,di himpun oleh KPDT sulbar di temukan masi ada 4 kabupaten yang masi tertinggal di antaranya adalah Mamuju, Majene, Mamasa, Polewali mandar (Polman), dan Mamuju Utara. Kendala terbesar yang di alami oleh beberapa daerah di sulbar adalah SDM yang masi rendah, infrastruktur, ekonomi, dan juga aspek budaya seperti kesenian masyarkatnya tidak dibina maka tidak heran beberapa kesenian daerah mulai hilang karena tidak diberdayakan. Nasib ketertinggalan beberapa daerah di Sul-bar menuai banyak protes yang juga beragam dari berbagai kalangan. Jika dilihat secara geografis sulbar adalah daerah yang cukup kaya, dan kemungkinanya untuk setara dengan Sulawesi Selatan sangat besar. Hal penulis katakan karena masing daerah di sulbar memiliki potensi yang berbeda dan juga masing menjanjikan. Mislkan di mamuju kebun kelapa sawit cokelat, kelapa, adalah kekayaan yang sangat memungkinakan memajukan perekonomian masyarakat. Majene polewali juga di jumpai hasil pertanian warga yang bergerak di bidang pertanian seperti sawa, dan perkebunan dan juga hasil laut yang cukup melimpah, Mamasa di daerah ini adalah daerah pegunungan yang sangat subur dan alamnya yang masi homogen, di daerah mamasa masyarakatnya lebih bergerak pada sektor pertanian, perkebunan, dan juga hasil hutan seperti rotan dan kayu untuk bahan bangunan dan juga menwarkan banyak objek wisata yang cukup memukau, sayangnya potensi yang di miliki beberapa daerah ini tidak diperhatikan secara serius oleh pemerintah sehingga daerah-daerah ini masi sangat tertinggal.

            Namun faktanya tidak serupa yang di jumpai pada masyarakat, kemiskinan dan ketertinggalanlah yang lebih nampak di daerah ini. Tidak ada masyarakat yang menolak perubahan ke arah yang lebih baik, dan tak ada kebaikan yang tertutup dengan perubahan, melainkan hal ini sinkron yang mestinya dirasakan oleh masyarakat. Oleh karena fakta yang memaksa masyarakat untuk harus geram apatis, dan bahkan seolah-olah menyerah dengan keadaan, tak lain kekesalan ini ditujukan kepada orang yang pernah dipilihnya menjadi seorang pemimpin.

            Kritik demi kritik yang terus dikumandangkan seolah-olah sedang berbicara pada si tuli, bibir serasa sudah kehabisan kata-kata namun tak satu pun respon yang mereka berikan. Saat ini situasi mulai memanas di kabupaten Mamasa sebagian besar jejaring sosial yang dijadikan sebagai media diskusi orang mamasa yang menjadi ternding topic adalah seputar kegagalam pemerintah daerah dan pemerintah propinsi, yang dinilai tidak mampu menjalnkan tugasnya sesuai dengan yang di amanatkan oleh rakyata mamasa. Tak hanya di media sosial di beberapa kecamatan juga membicarakan topik yang sama. Bahkan akhir-akhir ini beberapa media sosial yang bergerak di bidang pers memberitakan bahwa Mamasa ingin bersatu kembali dengan Propinsi Sulawesi Selatan ketimbang beranaung di bawa pemerintah sul-bar yang hanya di jadikan sebagai bagian yang bersyarat, tapi tidak diperhatikan kemajuan daerahnya. Berita ini semakin dibenarkan dengan isu infrastruktur jalan yang menghubungkan antar Mamasa dan kota-kota lainya seperti polewali hingga tembus makasar yang hingga kini tak ada perubahan yang signifikan, dan memang penulis pun mengakui jika itu disebut jalan utama sangat tidak tepat jika di lihat bentuk fisiknya. Lalu apa curhat seorang gubernur bupati dan aparatur  pemerintah lainya jika melintas di jalan yang tidak layak dilalui kendaraan  ini. Ataukah mereka memerintah di luar kesadaran.?


Wahai pak Gubernur dan Pak Bupati, jangan menjadikan kemiskinan yang menghabiskan semangat kami, jangan jadikan pemberontakan sebagai hiburan, kami tau di kota Mamasa yang kami cintai ini jarang hiburan namun bukan berarti anarkisme yang dikemas dalam demonstrasi sebagai hiburan yang kalian sajikan kepada kami. Kami tau kami tak punya kapasitas untuk maju oleh karenanya kami membutuhkan pemimpin yang siap memacu kekurangan kami sehingga kelemahan kami menjadi kekuatan, Pak Gubernur dan Pak Bupati yang kami hormati andaikan bukan kedarmawanan alam yang kuat menopang daerah yang anda pimpin mungkin daerah ini akan  menjadi sarang kemiskinan, sarang keterbelakangan. Mamasa, ada hingga hari ini itu karena tuntunan alam yang setia. Ingat alam tiadak akan berbicara bahwa mereka butuh campur tangan manusia, maka jangn tunggu alam berbicara baru bapak bergerak menyelamatkan rakyat mamasa. Rakyat tidak mengenang janji namun mereka mengenang implementai dari janji yang anda telah katakan saat anda menyatakan siap untuk di berikanan amanat oleh sang pemilik demokrasi yaitu rakyat.

Potret Perempuan dalam Iklan


Perempuan sesungguhnya bukan hanya menghadapi musuh lama (laki-laki), tetapimusuh baru yang lebih perkasa, yakni kapitalisme. Laki-laki bahkan telah dimanfaatkan oleh kapitalisme untuk bersama-sama  melestarikan struktur hubungan gender yang timpang. Pelestarian ketimpangan hubungan itu tidak hanya menyebabkan perempuan semakin tersubordinasi, tetapi juga menyebabkan terjadinya subordinasi perempuan oleh perempuan sendiri. Hal ini nampak dala posisi yang ditempati perempuan dalam iklandi mana di satu sisi perempuan merupakan alat persuasi di dalam menegaskan citra sebuah produkdan sisi lain perempuan perempuan merupakan konsumen yang mengkonsumsi produk kapitalisme.  

                Iklan sebagai ruang gerak baru bagi perempuan telah memungkinkan perempuanuntuk mengespresikan dan mengaktualisasikan diri. Keseluruhan konsep perempuan kemudian mengalami transformasi dan perempuansebagai orang yang terliabat dalam kegiatan domestik,sebagai pekerja keluarga, atau sebagai masyarakat second clas menjadi perempuan yang lebih otonom dan penuh kebebasan. Dunia iklan bagi perem.puan telah menjadi basis  politik emansipasi, dalam usaha perempuan keluar dari ikatan=-ikatan tradisional dan masa lalu. Namun demikian, dunia iklan berorientasi pada kelompok tertentu sehingga kelompok (perempuan) yang tidak memiliki akses mengalami subordinasi. Keberadaan perempuan dalam iklan ini sesungguhnya juga menggelisahkan perempuan lain, karena produk yang ditawarkan oleh sebuah iklan telah membangkitkan fantasi begitu banyak perempuan lain terhadap produk mengingat perempuan merupakan kelompok pembelanja terbesar

Kehadiran perempuan dalam iklan juga telah mentransformasikan tatanan kehidupan secara meluas; nilai tentang gaya dan cara berpakaian yang lebih bervariasi, seperti nilai sexi-ness  dari sebuah pakaian yang diiklankan; nilai humbungan laki-0laki dan perempuan yang lebih terbuka (sseperti yang tampak dalam berbagai iklan penyegar mulut dan alat kebugaran) atau nikai kemewahan dalam gaya hidup (seperti hadirnya berbagai perangkat modernitas, dari mobil, handphone, hingga perhiasan-perhiasan) yang semua itu menegaskan nilai autentik kehadiran seseorang. Implikasi tersebut muncul berkaitan dengan kecenderungan iklan memotret aspek tertentu dari perempuan, yakni bentuk tubuh, keindahanya, dan kesegaran tubuh. Selain merupakan faktor pernting dalam seleksi sosial, keterlibatan perempuan dalam periklanan juga menjadi faktor dominan dalam sosialisasi nilai, khusunya nilai tentang “keperempuanan” bahkan debora lupton beranggapan bahwa iklan-iklan pada dasarnya menggunakan tubuh perempuan untuk membangkitkan daya tarik erotik terhadap produk (lupton, 1994).

                Keberadaan perempuan seperti yang terlihat dalam iklan tampaknya ditentukan oleh serangkaian hubungan rumit. Tubuh yang merupakan bagian yang paling private dari seseorang perempuan telah menjadi milik publik yang tampak dari cara tubuh perempuan di tampilkan. Iklan yang menonjolkan bentuk penampilan, dan keindahan tubuh di tayangkan ke rumah-rumah dan berbagai tempat publik di mana proses beleajar berlangsung. Dari fenomena tersebut yang menjadi menarik adlah proses ini tidak menyebabkan terbentuknya potret perempuan yang baru, tetapi lebih merupakan “penegasan kembali” potret lama di mana perempuan merupakan objek seks. Seksisme akhirnya semakin menguat.

                Di sini memang terjadi pergeseran dalam menampilkan image perempuan dari objek seks ke sifa glamor dan kebebasan, namun ini lebih disebabkan oleh kepenltingan produk di mana difat perempuan yang ditampilkan di sesuaikan dengan produk oyang ingin di iklankan, bukan usaha langsung untuk memotret kebebasan dan kemampuan perempuan. Oleh karena itu menurut penulis  iklan menjadi penghambat dalam perkembangan peran perempuan, khusunya karena ia melestarikan citra perempuan sebagai objek seks, ibu dan istri yang baik, atau orang yang melayani.

                Selain iklan fenomen tersebut juga dapat ditemukan di beberapa film yang diluncurikan akhir-akhir ini, seperti  misalkan filim yang bernuansa horor, sebagian besar film-film indonesia yang horor menampilkan para perempuan yang berpenampilan vulgar, maka yang menjadi pusat hiburan sesungguhnya adalah bukan pada karakter yang ingin disampaikan lewat film melainkan mediasi tubuh yang di tampilakan pemeran perempuanya, padahal jika di pikir secara logika, korelasi antara horor dan penampilan seksi sesungguhnya sangat jauh. Penempatan  laki-laki sebagai “subjek”  dan perempuan sebagai “objek” merupakan pemosisian yang dilestarikan dalam berbagai bentuk wacana. Wacana yang dibangun oleh artis sendiri menarik untuk disimak karena memperlihatkan baaimana perspektif “designe”. 

                Proses dominasi kapaitalisme membuatr saya sangat tertarik melihat fenomena tersebut dengan mengunakan pendekatan dari pemikian Foucault sebagai the death of the subject, dalam hal ini perempuan sebagai subjek telah mati, di mana ia tidak lagi dapat mengendalikan dirinya sendiri, tetapi telah dikendalikan  oleh ideologi dan kepentingan pasar, aktivitas konsumsi menjadi panglima kehidupan. Dan perempuan sesungguhnya merupakan produk dari kehidupan sosial tersebut sehingga ia tersubordinasi oleh kepentingan-kepentingan dan harapan-harapanumum yang ingin melihat perempuan sebagai objek. Oleh karena itu ketika kita aberbicara tentang kekerasan terhadap perempuan, maka bukanlah pemukulan, perkosaan, atau beban fisik yang dialami perempuan yang perlu dipperhatian. Keseluruhan wacana publik yang dibagnun oleh berbagai agen sosial adalah kekuatan dhsyat yang melahirkan berbagai bentuk kekerasan itu karena ia telah membangun sebuah dunia yang gelap di mana hantu-hantu (laki-laki dan permpuan) saip memangsa perempuan.

Referensi
1996 “Seks Gender dan reproduksi Kekuasaan” Agus Dwiyanto
2008 “Feminist Thought” Rosemarie Putnam Tong”

2000 “Perempuan dalam Wacana Perkosaan” Eko Prasetyo & Suparman Marzuni

Hegemoni Senior dalam Kegiatan Ospek


Kasus kekerasan yang dilakukan sekumpulan mahasiswa yang tergabung dalam tim ospek atau yang di sering di sapa senior angkatan, menjadi momok yang Nampak menakutkan bagi beberapa siswa yang baru lulus dari banguku SMA. Tindakan-tindakan kekerasan yang dilakukan terhadap adik-adik junior sangat beragam, mulai dari kekerasan fisik, mental bahkan ada yang sudah mengarah pada tindakan asusila. tiga bulan yang lalu kultur pendidikan kembali tercoreng dengan menyebarnya berita yang memilukan yang datang dari seorang mahasiswa baru di Surabaya, di mana mahasiswa tersebut bernama Fikri asal NTT  meninggal dunia akibat beberapa tindakan kekerasan yang menimpa dirinya pada saat ospek dilakukan oleh senior dari kampus ITN. Kejadian tersebut semakin memanas ketika beberapa foto yang berhasil di kumpulkan terlihat tindakan-tindakan senior yang memperlakukan gaya-gaya erotis terhadap maba perempuan dan juga kekerasan fisik. Bahkan menurut media yang meliput ada juga yang disuru oral dengan mengunakan buah wortel yang menyerupa alat kelamin pria, sungguh tindakan yang sangat memalukan yang dilakukan oleh kaum-kaum yang dikatakn orang yang sedang mengemban pendidikan.

                Senior dalam kultur akademik tidak lagi menjadi sebuah sapaan atas yang lebih di anggap tua dan di hargai, sebagaimana dalam kultur masing-masing daerah yang di luar dari bangku pendidikan  juga sering di di terapkan bahwa bagaimana kita menghargai yang lebih tua. Namun akhir-akhir ini  senior  di maknai menjadi sesuatu yang tinggi dan dominan dalam lingkungan kampus dan juga menjadi sebuah identitas baru bagi mahasiswa-mahasiswa senior untuk berbuat seenak perutnya terhadap mahasiswa baru. Beberapa tindakan-tindakan yang merusak citra pendidikan yang dilakukan oleh beberapa pelajar-pelajar ini menjadi trauma tersendiri bagi anak-anak yang ingin melanjutkan pendidikanya, dan ini terus di warisi setiap pergantian taun ajaran, jika mereka sebelumnya saat di ospek di sajikan dengan tindakan-tindakan yang kasar dan juga keras, maka mereka pun akan melakukan hal yang sama terhadap yang baru masuk dan inilah yang mungkin saya sebut ajang balas dendam.

                Meskipun sebelumnya hal itu penulis sudah smenyadari tentang beberapa kekerasan ospek dalam perguruan tinggi, tapi penulis tetap  berprinsip bahwa saya akan menolak dan memutuskan tidak kuliah di kampus manapun jika kampus tersebut menyajikan ospek yang mengutamakan ospek fisik, namun beruntung saya berhasil masuk di salah satu universitas swasta di Jawa tengah yang menyajikan ospek yang di luar yang saya tidak inginkan. Ospek yang saya dapatkan justru menjadi semangat baru saya  dalam mengembangkan potensi yang saya ingin kembangkan dalam pendidikan saya karena ospeknya menyentuh  pada aspek sosialisasi, seperti bersih-bersi kampung dan juga perkenalan bagi warga, pembinaan yang meskipun di lakukan di lapangan yang diselimuti terik matahari tapi tidak apa –apa yang penting kepala terisi karena memang ospek demikianlah yang sekiranya menyentuh di aras pendidikan. Dan di kampus yang ini juga sangat jarang mengunakan kata senior dan junior melainkan sapaan yang lebih akrab yaitu “Kak untuk yang senior sapaan  dek untuk yang masi junior” , kata ini sesungguhnya sama saja namun terkdang beberapa orang yang keliru memakni tentang senior ketika identitas ini dilekatkan kepad sesorang.

                Namun bukan berarti karena di kampus penulis kata ‘senior dan “junior” jarang digunakan akhirnya saya mengkritisi, tetapi karena saya menilai secara pribadi kata tersebut Nampak tidak etis dalam lembaga pendidikan. Dalam padangan penulis selain dalam ospek  dengan mengunakan kata senior ini sering kali mengungkung kemampuan bagi yang junior  dalam berbicara oleh karena yang senior selalu diposisikan sebagai yang tertinggi dan bahkan bisa jadi mengkalim dirinya yang selalu benar, sementara dalam lembaga pendidikan yang di utamakan adalah produktifitas berpikir, bukan sebuah identitas yang tidak jelas. Mungkin agak hiperbola jika saya katakana ini adalah ‘kasta’ yang dibangun oleh kultur pendidikan, tetapi memang nyatanya seperti demikian yang terjadi, faktalah yang meringankan penulis untuk berbicara demikian. Sangatlah tidak bijak jika ospek dalam lembaga pendidikan melampau ospek-ospek yng di gunakn oleh orang-orang militer saat pendidikan, jika militer menerapkan hal demikian tidaklah mengherankan karena memang itu adalah persyaratan untuk menguji stamina fisik dan juga mental. Tapi apa jadinya jika model tersebut di terapkan dalam lembaga pendidikan seperti kampus, ini sama sekali tidak sinkron dengan apa yang dicita-citakan lembaga pendidikan. Dalam penyelenggaran ospek yang dilakukan oleh senior mahsiswa yang tidak sesuai dengan syarat lembaga pendidikan misalkan di suruh lari di lapangan yang kapasitanya sebesar lapangan bola, dan itu dilakukan beberapa kali dan kecenderungan itu dilakuka di matahari yang panas, dan tidak disediakan air minum, lalu sisi apa yang di kemabangkan jika di korelasikan dengan pendidikan?,di botakin semabari di perintahkan oleh seniornya untuk pusap, lari, minum air di gelas kemudian di join ke beberap peserta ospek? Ada kaitan tidak dengan pendidikan ?, dan bayangkan jik hl ini terus di kembangkn dri genersi-ke generasi dan mengkar dalam kultur pendidikn kita maka berhenti kita bicara tentang pendidikan yang berbasis pengembangan pemikiran yang lebih maju.

Kasus kekerasan yang dilakukan sekumpulan mahasiswa yang tergabung dalam tim ospek atau yang di sering di sapa senior angkatan, menjadi momok yang Nampak menakutkan bagi beberapa siswa yang baru lulus dari banguku SMA. Tindakan-tindakan kekerasan yang dilakukan terhadap adik-adik junior sangat beragam, mulai dari kekerasan fisik, mental bahkan ada yang sudah mengarah pada tindakan asusila. tiga bulan yang lalu kultur pendidikan kembali tercoreng dengan menyebarnya berita yang memilukan yang datang dari seorang mahasiswa baru di Surabaya, di mana mahasiswa tersebut bernama Fikri asal NTT  meninggal dunia akibat beberapa tindakan kekerasan yang menimpa dirinya pada saat ospek dilakukan oleh senior dari kampus ITN. Kejadian tersebut semakin memanas ketika beberapa foto yang berhasil di kumpulkan terlihat tindakan-tindakan senior yang memperlakukan gaya-gaya erotis terhadap maba perempuan dan juga kekerasan fisik. Bahkan menurut media yang meliput ada juga yang disuru oral dengan mengunakan buah wortel yang menyerupa alat kelamin pria, sungguh tindakan yang sangat memalukan yang dilakukan oleh kaum-kaum yang dikatakn orang yang sedang mengemban pendidikan.

                Senior dalam kultur akademik tidak lagi menjadi sebuah sapaan atas yang lebih di anggap tua dan di hargai, sebagaimana dalam kultur masing-masing daerah yang di luar dari bangku pendidikan  juga sering di di terapkan bahwa bagaimana kita menghargai yang lebih tua. Namun akhir-akhir ini  senior  di maknai menjadi sesuatu yang tinggi dan dominan dalam lingkungan kampus dan juga menjadi sebuah identitas baru bagi mahasiswa-mahasiswa senior untuk berbuat seenak perutnya terhadap mahasiswa baru. Beberapa tindakan-tindakan yang merusak citra pendidikan yang dilakukan oleh beberapa pelajar-pelajar ini menjadi trauma tersendiri bagi anak-anak yang ingin melanjutkan pendidikanya, dan ini terus di warisi setiap pergantian taun ajaran, jika mereka sebelumnya saat di ospek di sajikan dengan tindakan-tindakan yang kasar dan juga keras, maka mereka pun akan melakukan hal yang sama terhadap yang baru masuk dan inilah yang mungkin saya sebut ajang balas dendam.

                Meskipun sebelumnya hal itu penulis sudah smenyadari tentang beberapa kekerasan ospek dalam perguruan tinggi, tapi penulis tetap  berprinsip bahwa saya akan menolak dan memutuskan tidak kuliah di kampus manapun jika kampus tersebut menyajikan ospek yang mengutamakan ospek fisik, namun beruntung saya berhasil masuk di salah satu universitas swasta di Jawa tengah yang menyajikan ospek yang di luar yang saya tidak inginkan. Ospek yang saya dapatkan justru menjadi semangat baru saya  dalam mengembangkan potensi yang saya ingin kembangkan dalam pendidikan saya karena ospeknya menyentuh  pada aspek sosialisasi, seperti bersih-bersi kampung dan juga perkenalan bagi warga, pembinaan yang meskipun di lakukan di lapangan yang diselimuti terik matahari tapi tidak apa –apa yang penting kepala terisi karena memang ospek demikianlah yang sekiranya menyentuh di aras pendidikan. Dan di kampus yang ini juga sangat jarang mengunakan kata senior dan junior melainkan sapaan yang lebih akrab yaitu “Kak untuk yang senior sapaan  dek untuk yang masi junior” , kata ini sesungguhnya sama saja namun terkdang beberapa orang yang keliru memakni tentang senior ketika identitas ini dilekatkan kepad sesorang.


                Namun bukan berarti karena di kampus penulis kata ‘senior dan “junior” jarang digunakan akhirnya saya mengkritisi, tetapi karena saya menilai secara pribadi kata tersebut Nampak tidak etis dalam lembaga pendidikan. Dalam padangan penulis selain dalam ospek  dengan mengunakan kata senior ini sering kali mengungkung kemampuan bagi yang junior  dalam berbicara oleh karena yang senior selalu diposisikan sebagai yang tertinggi dan bahkan bisa jadi mengkalim dirinya yang selalu benar, sementara dalam lembaga pendidikan yang di utamakan adalah produktifitas berpikir, bukan sebuah identitas yang tidak jelas. Mungkin agak hiperbola jika saya katakana ini adalah ‘kasta’ yang dibangun oleh kultur pendidikan, tetapi memang nyatanya seperti demikian yang terjadi, faktalah yang meringankan penulis untuk berbicara demikian. Sangatlah tidak bijak jika ospek dalam lembaga pendidikan melampau ospek-ospek yng di gunakn oleh orang-orang militer saat pendidikan, jika militer menerapkan hal demikian tidaklah mengherankan karena memang itu adalah persyaratan untuk menguji stamina fisik dan juga mental. Tapi apa jadinya jika model tersebut di terapkan dalam lembaga pendidikan seperti kampus, ini sama sekali tidak sinkron dengan apa yang dicita-citakan lembaga pendidikan. Dalam penyelenggaran ospek yang dilakukan oleh senior mahsiswa yang tidak sesuai dengan syarat lembaga pendidikan misalkan di suruh lari di lapangan yang kapasitanya sebesar lapangan bola, dan itu dilakukan beberapa kali dan kecenderungan itu dilakuka di matahari yang panas, dan tidak disediakan air minum, lalu sisi apa yang di kemabangkan jika di korelasikan dengan pendidikan?,di botakin semabari di perintahkan oleh seniornya untuk pusap, lari, minum air di gelas kemudian di join ke beberap peserta ospek? Ada kaitan tidak dengan pendidikan ?, dan bayangkan jik hl ini terus di kembangkn dri genersi-ke generasi dan mengkar dalam kultur pendidikn kita maka berhenti kita bicara tentang pendidikan yang berbasis pengembangan pemikiran yang lebih maju.

Friday, 31 January 2014

Demonstrasi Besar-besaran di Kabupaten Mamasa sangat Mungkin terjadi


(Potret nasib Mamasa)
Aksi

Tak terasa umur mamasa hingga hari ini sudah 12 tahun menjadi sebuah kabupaten setelah pecah dari kabupaten induk yaitu Pol-Mas. Namu dampak pembangunan  di daerah mamasa sebagaian besar masyarakat menilainya tidak maksimal dan sangat memprihatinkan. Bagaimana tidak semenjak mamasa belum menjadi kabupaten jalan poros polewali mamasa hingga kini kondisinya masi sama pada hal sudah disebut sebagai kabupaten. Jika masalah tata ruang dijelaskan di mamasa secara keseluruhan mungkin hanya 2 % yang punya nilai psoitif selebihnya adalah masalah. Oleh karena  itu penulis hanya mengambil 1 sampel masalah yaitu infrastruktur jalan. Hampir semua kalangan rakyat mamasa mengeluhkan dengan keprihatinan  yang sama tentang jalan utama dari mamasa ke polewali.

                Ironisnya jalan yang boleh dikatakan sebagai jalan utama dalam sejarah dirintisnya mamasa, seolah-olah diabaikan, justru jalan yang menghubungkan mamasa, malabo, mambi tembus kemamuju yang di proritaskan padahal jalan ini sangat sepi penguna jalanya, apa maksudnya?. Jalan dari mamasa ke polewali boleh dikatakan sangat ramai pengguna jalanya karena menghubungkan banyak daerah yang bisa menyuplai kebutuhan-kebutuhan orang mamasa, tapi faktanya hingga hari ini jalan tersebut hanya di tambal pasir dan kerikil, meskipun sudah beberapa dilakukan pengaspalan tapi yah seadaanya bisa di lihat langsung seperti apa fakta di lapangan. Dalam analisa saya nampaknya pemerintah propinsi dengan kabupaten juga memainkan politik dalam soal ini, semoga saja salah. Dengan mengacu kepada permasalah infrastruktur ini sangat beralasan jika masyarakat mulai geram, karena apa pun alasanya ini menjadi bagian dari kehidupan rakyat mamasa.
jalan poros Mamasa
jalan poros Mamasa




                Melalui tulisan ini penulis sangat berharap ada sebuah nilai yang bisa diyakini bersama semua masyarakat untuk bisa mengembalikan daerah kita untuk bisa lebih dekat dengan pembangunan yang berkelanjutan dan mengedepankan kehidupan rakyat itu sendiri, karena esensi demokrasi mesti melindungi rakyat. Jika akhir-akhir ini ada wacana untuk melakukan aksi turun jalan untuk protes terkait masalah di atas, maka itu sangatlah wajar dan sangat diharapkan. Karena ssesungguhnya pemerintah memahami apa yang ingin mereka lakukan namun karena melawan egonya tentang  ‘kekuasaan uang’ yang sudah melekat lama yang sulit di tinggalkan maka dari itu rakyatlah yang selalu menanggung imbasnya. Bagi penulis proses negosiasi, diplomasi dengan pemerintah kita di mamasa bukanlah hal yang tepat, karena orang mamasa di besarkan dalam filsofi “misa kada di potuo pantan kada dipomate” yang menurutku filsofi ini sudah menjunjung tinggi tentang kemanusiaan,  jika filsofi ini benar di sadari dan dilekatkan dalam setiap tindakan mestinya kita dipimpin oleh pemerintah yang bermartabat mengedepankan nilai norma dan HAM, tapi jika hal ini sebaliknya maka itu berarti kesengajaan dan kerakusan.


                Jika demonstrasi besar-besara terjadi di Mamasa, maka kerurgian ini bukan ada di pemerintah namun ada di masyarakat, karena demostrasi adalah jalan terakhir dan ini adalah bagian dari revolusi maka imbasnya adalah trauma bagi anak cucu. Tapi kalau ini tidak dilakukan maka rakyat mamasa dan juga generasinyalah yang paling rugi karena terus di kerangkai oleh sistem dan pemimpin yang tak mampu meletakan nilai humanis dalam mengontrol sistem. Pernyataan di atas nampaknya ambigu namun jika ditarik benang merahnya tentu ada salah satu yang di eliminasi antara sistem atau yang memimpin sistem, rakyat tidak mungkin di eliminasi. oleh karena itu demostrasi besar-besaran sangat mungkin terjadi, jika kesadaran terus di bungkam oleh pemerintah kabupaten dan propinisi. Seorang sejarawan modern bernama Toynbee mengatakan “manusia disebut manusia buka ketika ia bisa menguasai sumber daya menguasai tehknologi , tapi manusia disebut manusia ketika fajar kesadaranya telah bangkit, jika kesadarnya belum bangkit maka ia belum menjadi Homo Sapiens yang sudah berpikir, namun masi Homo Erectus yang hanya bisa berjalan tegak lurus.