Monday, 30 January 2012

FOTO



Sunday, 29 January 2012

MENGINTIP KEPRIBADIAN & KEBERSAMAAN MAHASISWA RANTAU MELALUI PERBANDINGAN PENGALAMANKU


Kembali lagi tangan ini berkarya, setelah beberapa bulan meninggalkan kebiasaan saya yaitu  menulis


Selamat membaca hati dan pikiran saya

Dipersembahkan kepada teman2 Kost Patimura 85 C & Teman angakatan progdi sosiologoi 09


Makna etis yang akan hadir

Dalam perkembangan jaman dari tahun ke tahun semakin memaksa kita untuk masing-masing membekali diri untuk bisa tetap tampil eksis dalam kompetisi kehidupan. Salah satu bekal yang cukup manjur yang digunakan dalam kompetis tersebut adalah pembekalan ilmu pengetahuan, yang itu bisa di dapat dari berbagai macam metode, salah satunya adalah di bangku pendidikan. Dimensi pendidikan ini memang sangat penting bagi generasi penerus dalam organisasi-organisasi sosial , itu alasanya bagi banyak orang berusaha untuk meperioritaskan pendidikan untuk tetap bisa membentengi keturunanya mereka, karena kenapa, ini lagi-lagi terkait dengan prospek untuk  tetap bisa bertahan hidup, dan juga tetap survaiv.

            Dalam pendidikan memang yang dituntut adalah mutu sebuah pendidikan, agar ini bisa menjadi basis stimulus mereka sebagai motto perubahan, hal ini jugalah yang mejadikan sebagian orang melakukan seleksi terhadap pilihan untuk mereka jadikan ruang share untuk pembekalan diri mereka, itulah yang menjadikan sebagian orang memilih untuk keluar daerahnya mereka, demi mengejar suatu makna yaitu mutu. Perlu ada pengakuan bahwa di dalam pencarian bekal tersebut terjadi persaingan intelektual yang cukup kritis, namun persaingan tersebut di bawa iringan nilai-nilai normatif yang bersifat formal. Tetapi dari persaingan tersebut yang juga menjadi sebuah eksperimen terhadap apa yang sudah kita raih dari bangku pendidikan tersebut.

            Sebuah ruang share tersebut yang disebut dengan universitas, kini menyediakan berbgai macam penunjang pendidikan yang itu juga menjadi sebuah ruang di mana para mahasiswa membangun sebuah relasi dengan lingkungan akademik, mereka saling bertukar pikiran dengan pengalaman mereka masing,-masing yang itu sudah menjadi modal sosial mereka. Berangkat dari sebuah pengalaman menjadi seorang mahasiswa rantau, yang hidup berdampingan dengan orang-orang yang berbeda budaya. Dan pada akhirnya kita akan dipaksa oleh lingkungan untuk bisa membangun sebuah  integrasi dengan teman mahasiswa yang lainya, dan juga masyarakat setempat, lalu apa yang bisa kita maknai dalam hal tersebut, ini tidak lain sebagai tempat untuk melakukan sebuah pengenalan tentang keporibadan kita terhadap lingkungan terbaru. Hal ini terasa dalam pergumulan saya bahwa di situ jugalah saya sedikit mengerti tentang siapakah aku sebenarnya, sejauh mana saya melihat kualitas kepribadianku, ketika saya bisa membangun sebuah relasi yang etis dengan teman se akademik saya. Tidak hanya itu saat masyarakat melihat sosok saya dan mereka memberikan hasil pengamatanya tentang kepribadian saya dan kemudian saya rangkum dalam catatan-catan yang sebut sebagai diariy pengalaman. Penelian tersebut datang dalam waktu yang tak terduga dan juga tanggapan yang begitu beraneka ragam. Entah itu kritik apresiasi, pelajaran, semuanya saya hanya memberika satu makna saja itulah yang saya sebut proses pembentukan saya.

            Saya juga membayangkan pengalaman saudara yang lainya yang hidup di tempat rantau, bahwa pergumulan saya pun akan hadir dalam proses saudara-saudara, namun yang mungkin membedakan hanyalah respon terhadap pengalaman tersebut, tetapi setidaknya kita pasti menemukan paling tidak sejauh mana kemampuan kita mengelolah hal tersebut. Tetapi saya kembali lagi terhadap asumsi tentang keberadaan kita di tempat yang saya sebut rantau, bahwa tentunya kita semua punya pesan dari pertama kita melangka menuju ke tujuan tersebut, pastinya hal tersbut tidak terlepas dari peran orang tua, mereka memberikan kita berupa harapan yang akan memacu spirit kita dalam perjuangan tersebut. Entah itu kita pegang erat pesan tersebut atau nda itu kembali lagi kepada kepribadian si perantau tersebut, gagal dan berhasil adalah dua hal yang akan pasti hadir dalam kompetisi kehidupan tersebut, dua hal itu adalah konsekuensi terhadap apa yang kita lakukan. Jadi berpikirlah sebelum anda bertindak supaya konsekuensi yang ada raih adalah selalu baik.


Suka Duka
            Menjadi seorang mahasiswa bukanlah hal yang sulit, tetapi menyelesaikan status kemahasiswaan kitalah yang terkadang rumit, standar kelulusan mahasiswa di seluruh indonesia adalah  4 tahun itu syarat S1, lalu bagaimana jika melewati syarat tersebut, ini tentunya memunculkna pertanyaan yaitu mengapa terjadi demikian..???? hemmm tentunya jawaban yang akan diperoleh pasti beragam, bisa jadi kendala ekonomi, bablas dalam bergaul akhirinya lalai dalam perkuliahan, malas, dll. Apakah anda termasuk hehehe mudah-mudahan tidak, kalau saya si masuk yaitu malas tetapi nda terlalu kok...!!!! tetapi semua itu perlu lagi kita melakukan perenungan saat kita melakukan sesuatu, apalagi itu sudah melewati koridor tanggung jawab inti, ini yang seharusnya selalu di ingat bahwa sebgai mahasiswa rantau tanggugng jawab yang di genggam begitu besar, itu alasanya kita harus selau jelih dalam memilah apa yang seharusnya dilakukan, kira-kira ini tidak berdampak buruk dengan tujuan utama kita sebagai mahasiswa.

            Memang perlu juga ada pengakuan bahwa beberapa mahasiswa terlambat dalam menyelesaikan studinya oleh karena desakan ekonomi yang kurang memadai, sehingga si mahasiswa kulianya benar-benar sangat dikondisikan oleh finansial (uang), sepengalaman saya dengan membangun relasi di antara teman-teman mahasiswa,  kebanyakan mahasiswa yang kurang mendukunga ekonominya di level mahasiswa, justru mereka yang memiliki skil akademik yang luar biasa, ini menjadi sebuah kendala besar juga bagi sebgaian mahasiswa, jika di satu sisi secara intelektual mereka bisa namun  karena terkendala dengan keuangan akhirnya studinya terkadang tersendat. Tetapi sejauh ini di dalam pergumulan saya teman-teman yang justru keadaan seperti demikian justur mereka lebih cenderung menujukan motivasi yang sangat “eksklusif” tetapi bermakna, di sinilah aku kembali sadar bahwa ternyata uang bukanlah persoalan yang teralu serius, akal masi ada pada posisi yang tertinggi dalam proses kompetisi kehidupan.

            Tetapi suka duka yang berlaku hampir secara universal di kalangan mahasiswa adalah saat tanggal tua tiba, di mana masa-masa ini isi kantong pasti sunyi, apalgi jika kita tidak pandai mengatur keuangan pastinya kesulitan juga, jika suda melawati tanggal 20 ke atas pastinya mahasiswa suda mulai menyisip ke maisng-masing saku celananya kira-kira masi ada rece, kumpulin koin satu per satu paling tidak untuk semangkok indo mie, atau kah 2 lauk sejoli tahu tempe hehehe,, tetapi jika mahasiswa punya langganan tersendiri enak kan bisa ngutang tanggal muda baru bayar. Sunggu  suka duka yang sangat asik jika itu dapat terlewati. Tetapi satu makna kebaikan dari teman2 ketika mereka masi bisa membagi mereka punya sisa uang jika mereke masi punya, disitulah saya juga menemukan bahwa benar bahwa kitalah mahluk yang paling sempurna di antara mahkluk yang lain. Rasa ingin berbagai dalam pergumulan tersebut sangat tampak, apalagi teman 1 kost ataukah kontrakan, pastinya solidaritas benar-benar terbangun kesan-kesan seperti inilah yang pertama kali selalu mewakili cerita-cerita mahasiswa saat mereka melepaskan titelnya sebagai mahasiswa, sungguh sebuah kebersamaan yang sangat indah dan sulit terlukiskan di pengalaman-pangalaman yang lain. Saat saya menggagas tulisan ini saya sangat kagum dengan pengalaman yang saya lalui bersama dengan teman-teman se akdemikq dan juga teman kost PATIMURA 85 C (kalian adalah saudara terbaruku yang sangat baik)..

Akhir kata dari tulisan ini adalah railah cita-cita mu seuai dengan harapan mu, dan peganglah kunci kepribadian mu saat engkau berjuang sehingga tidak mudah terjatuh dalam kompetisi kehidupan. Semoga teman-teman mahasiswa yang membaca tulisan ini, menjadi mahasiswa yang benar-benar kritis inovatif dan terampil, salam perjuangan teman-teman. 

Wednesday, 2 November 2011

EMOSI BENAR-BENAR MEMBUNUHMU


Saya sama sekali tidak memerlukan hal ini
Saya kurang bijaksana,
Saya seharusnya menjaga mulut besar saya tetap tertutup
Maka bacalah bibir saya.
Dalam dua bulan terakhir ini saya sempat menghilang dari kebiasaan saya  untuk menulis, itu karena kesibukan benar-benar menegepung diriku, maka di samping kesibukan saya ini, supaya tidak stress, maka saya  meluangkan waktu senggang saya untuk kembali melahirkan Tulisan,  yang itu menjadi  pengalaman yang saya alami selama ini, yaitu Emosi. Dari sifat inilah saya merassakan saya sering terjatuh dari komptisi kehidupan yang sudah pasti bagi diriku, itu karena Emosi, jadi saya akhirnya mengambil topic yaitu  EMOSI BENAR-BENAR MEMBUNUHMU.

Sebuah keyakinan bagi banyak orang adalah bahwa kehidupan kita akan menjadi luar biasa ketika kita mampu mengendalikan situasi yang eksternal. Namun banyak sekali bukti yang sebaliknya. Kualitas kehidupan  kita yang sebenarnya berasal dari respons internal kita. Respon ini datang dari sikap yang berbeda. Dan tentu saja pengalaman yang dirasakan masing-masing berbeda. Masing-masing dari kita menentukan kualitas kehidupan kita melalui keyakinan inti yang memengaruhi perilaku kita.

Untuk mengetahui bagaimana emosi mempengaruhi kita, ada gunanya untuk memahami apa sesuatu tentang sifat dasar emosi. Emosi adalah riil gejolak perasaan yang kuat! Perasaan ini adalah reaksi otomatis yang mencerminkan pengalaman masa lampau kita. Emosi adalah bagian instingtif dasar  (orisinal, primitive, fundamental) dari wujud kita. Jika anda perna membaca tulisan  Julia Bondi yang berjudul Unveiling the Miysteries Of Sex and Romance (Mengungkap miysteries seks dan Romantisme), di dalamnya Bondi meyakini bahwa reaksi emosional instingtif terhadap situasi bisa membantu kita mengenali keyakinan ini yang tidak disadari. “manusia sudah melakukan revolusi sehingga tidak lagi hanya menjadi mahluk emosional yang reaktif dan instingtif. Kita sekarang memiliki kekuatan pikiran yan dikaruniakan oleh Tuhan untuk mengunakan dan memanfaatkan energy emosi kita. Emosi sebagai respons selalu ada, siap untuk dirasakan. Pengalamn merangsang semua itu. Demikian juga berpikir mengenai segala susuatu! Kita bereaksi secara emosional dan penjelasan yang kita berikan kepada diri sendiri untuk mengespresikan dan mengatasi apa yang kita rasakan secara instingtif , biasa berkembang menjadi sebuiah keyakinan yang tidak disadari. Dalam beberapa hal, kita merasakan emosi dan kemudian berusaha memberi alasan untuk menghilangkan setiap luka”

Karena emosi bersifat dasar atau instingtif, otak dan pikiran merupakan cara kita untuk berhubungan denganya dan juga untuk mengarahkanya mereka secara benar. Bereaksi begitu saja terhadap  emosi, tampa memikirkan segala sesuatu, sering kali bias membuat  kita mengatakan atau melakukan hal-hal yang belakangan kita sesali. Pikiran sadar membantu kita menghadapi emosi kita secara konstruktif, asalkan kita tidak mengunakan pikiran kita untuk menilai atau menyangkalnya. Pemikiran yang benar akan memungkinkan kita untuk mengubah keyakinan batin kita, sehingga kita bisa menyesuaikan kembali dengan emosi kita secara sehat dan bermanfaat. 

Tetapi saya menyadari bahwa memang kecenderungan orang ketika larut dalam sebuah persoalan, pastinya kesan pertama yang akan terlihat adalah emosi, hal ini pun tidak asing menurutku, karena pengalaman saya pun demikian adanya. Namu saya selaku mencoba utntuk terlepas dari sikap tersebut, aku selalu berusaha untuk tidak terperangkap dalam belenggu emosi yang berlebihan. Namun saya hanya ingin mengatakan bahwa jangan sampai dengan emosi dalam diri yang kemudian hidup kita di sulap menjadi sebuah malapetakan dalam pikiran.  Jadi menurutku sikapilah sebuah masalah dengan lapang dada. Aku selalu ingat sebuah pesan bahwa  kebahagian maupun kesuksesan sejati sesungguhnya berawal dari timbulnya masalah yang berhasil di atasi dengan baik.

TIDAK ADA ORANG YANG BAHAGIA SELAMANYA

JANGAN BERTANYA KEPADA ORANG LAIN APA ITU MAKNA HIDUP, TETAPI TANYAKANLAH TERHADAP DIRIMU TERDAHULU


     Orang yang sedang di lingkari dengan berbagai kegagalanlah yang akan selalu mempertanyakan apa itu makna hidup, namu pernahka kita berpikir bahwa apa yang telah saya hidupkan dalam hidup ini, sering ka kita merenungi apa yang telah kita lakukan sebelumnya. Aku meyakini bahwa hidup ini penuh dengan makna, itu artinya saya dituntut untuk melakukan hal-hal yang selalu bermakna dalam kehiduan, namun tak dapat dipungkiri terkadang kita melakukan hal-hal yang konyol, yang dapat ditertawai, oleh orang lain bahkan diri kita sendiri saat mengingatnya, itu yang saya sebut sebagai proses. Tetapi sadarkah kita bahwa anda diberikan angerah oleh Tuhan yaitu akal dan Budi, yang akan kamu gunakan menggali potensi-potensi kehidupan yang penuh makna ini. Kadang kita mengabaikan hal ini, padahal disitulah anda memulai langkah awal untuk mencari sebuah harga diri demi makna hidup.

                Aku selalu berpikir bahwa semua tindakan yang kita ucapkan itu akan berimplikasi pada sebuah makna. Jika kita memahami apa yang disebut dengan berpikir realistis maka anda akan selalu melontarkan beribu-ribu makna bagi banyak orang, ingat 1  makna dapat memberikan banyak kekaguman bagi banyak orang. Saya selalu menyadari bahwa apa yang saya katakana  tidak selau benar namun minimal saya mengerti apa yang saya lakukan, menurut tidakan awal saya. Meskipun mungkin kita sudah terlebih dahulu membuat pembenaran-pembenaran diri. Namun itu belum tentu anda bisa memberikan pemahaman  bagi banyak orang untuk  meberikan komentar atas apa yang anda pikirkan kemudian anda ucapkan, inilah yang sisebut sebagai hipotesis.
                Hadiah dari kehidupan adalah hidup itu sendiri, maka dari itu sebelum anda sampai kepada pertanyaan yang mendasar bahwa apakah “makna hidup” itu, terlebihlah mempertanyakan apa yang anda pahami tentang hidup, karena saya meyakini bahwa kunci kehidupan bagi manusia, itu ada pada manusia itu sendiri. Jawaban yang akan anda terimah dari orang lain tentang makna kahidupan itu sendiri, akan tidak pernah menemukan titik temu yang tepat. Ingt bahwa manusia porsi kehidupanya semua sama, manusia A dapat Berpikir, B pun demikian, itu artinya jika anda mempertanyakan kepada mereka, berarti anda telah memberikan persoalan-persoalan anda  kepada orang yang sama. Memang jika dikaji lebih dalam bahwa manusia memang harus hidup bersama, jika manusia hidup sendiri maka ia akan binasa, pesan dari kaliamat itu adalah orang lain disekeliling kita hanyalah sebagai objek untuk menanyakan tentang gambarn atas diri kita, dengan seolah bercermin dari kegagalan mereka, keberhasilan mereka, dan kemudian kita melakukan perbandingan-perbandingan atas apa yang mereka  alami, jadi teman, kenalan saudara, oran tua, yang dekat dengan kita, mereka hanya bisa memberikan apa yang disebut dengan solusi.

Sunday, 23 October 2011

SAYA BUKAN KOPI,MIE,TELUR, NAMUN AKU ADALAH KEGAGALN ITU SENDIRI


Bangga rasanya bisa kembali melahirkan tulisan baru, silakan di simak,
Seorang anak mengeluh ke pada ayahnya, tentang kehidupanya, dan ia menanyakan mengapa hidup ini terasa begitu berat untuknya. Anak ini tidak tahu bagaimana menghadapinya dan hampir menyerah. Ia sudah merasa lelah dalam berjuang. Setiap kali ia berhasil dalam menyelasaikan masalahnya, pasti akan timbul lagi masalah baru. Ayahnya bekerja di warung makan, ayahnya kemudian mengajaknya ke dapur,  ia mengambil panci dan menuangkan air ke panci tersebut, kemudian ia menyalakan kompor, ia merebus air tersebut. Setelah air di panci sudah mendidih, lalu ia menuangkan ke gelas yang sudah di isi dengan bubuk kopi dan juga gula, sisah air itu kebetulan di dapur ada Mie dan telur, ia skalian menyisakan air itu untuk merebus mie bersama dengan telur.

            Anak ini membiarkan ayahnya terus bekerja di dapur tanpa ia mengeluarkan sepatah kata pun, ia sambil bersandar di kursi hingga ayahnya selesai. Sekitar 20 menit ayahnya, mematikan kompor, kemudian ia mengambil mangkok kemudian ia menuangkan indo mie yg telah direbus itu, dan juga sebutir telur setelah selesai merebus mie dan jg telur, juga ia menuangkan air panas itu ke gelas yg telah diisi dengan bubuk kopi. Lalu ia mengantarnya di depan anaknya, kemudian ia berkata “Apa yang kamu lihat Nak..?” sang anak menjawab Mie, Telur, dan Kopi. Kemudian ayahnya mengajaknya untuk mencicipi indo mie telur yang telah di sajikanya   di meja, kemudian ia kembali berkata, mienya terasa lembut dan aromanya sangat terasa di tambah telur yang empuk menjadikan mie ini semakin enak, terakhir ayahnya menyuruh untuk mencicipi kopi yang juga telah di buatnya, setlah anak ini mencicipi kopi dengan aroma yang sangat khas, dan nikmat. Setelah itu, si anak bertanya lagi. “apa arti semua ini, Ayah?”

            Ayahnya kemudian menerangkan bahwa ketiganya telah menghadapi kesulitan yang sama, yaitu perebusan. Tetapi masing-masing menunjukan reaksi yang berbeda. Kopi sebelum di rebus tak memiliki rasa yang nikmat, dan aroma yang khas dan juga bubuk yang unik, tetapi setlah direbus, kopi kemudian menyatu dengan air, yang akhirnya mengeluarkan aroma yang nikmat. Mie sebelum di rebus, keras, dan mudah dipatahkan begitu pun dengan telur sebelum di rebus ia mudah pecah, tetapi setelah di rebus, isi telur ini menjadi beku, dari ketiganya “kamu termasuk yang mana”? Tanya ayahnya . ketika kesulitan mendatangi mu, bagaimana kamu menghadapinya, apakah kamu Mie, Kopi, atau  Telur.?

            Bagaimana dengan anda? Apakah anda adalah Mie yang kelihatanya keras, tetapi dengan adanya penderitaan dan kesulitan, anda menyerah menjadi lunak dan kehilangan kekuatan. Atau apakah anda adalah telur, yang awalnya memiliki hati lembut? Dengan jiwa yang dinamis, namun setelah adanya kesulitan, patah hati, perceraian ataukah pemecatan kamu menjadi keras dan kaku. Dari luar  kelihatan sama, tetapi apakah anda menjadi pahit dank eras dengan jiwa dan hati yang kaku.

            Ataukah anda adalah bubuk kopi ? bubuk kopi mengubah air panas, sesuaut yang menimbulkan kesakitan, untuk mencapai rasanya yang maksimal pada suhu 100 derajat Celsius. Ketika air mencapai suhu terpanas, kopi terasa semakin nikmat dan membuat keadaan di sekitar anda juga membaik.

            Sikap kita menghadapi musiba, kegagalan, kekecewaan dan sejenisnya sangat tergantung sejauh mana pemahaman kita terhadap hakekat yang menciptakan (peristiwa). Keyakinan terhadap Tuhan bahwa segala peristiwa yang dikehendaki-Nya akan memberikan hikmah besar terhadap manusia merupakan langkah awal yang baik. Kita harus yakin bahwa semua peristiwa dan semua mahkluk di alam yang maha luas ini sudah di atur oleh Sang Maha Kuasa. Dngan demikian kita akan merasa sangat lemah di hadapan-Nya, mengharap segala pertolongan-Nya, dan bergantung kepada segala keputusan-Nya.

            Musibah ataupun kegagalan tidak selalu identik dengan kesialan, kedudukan, kesia-sian, dan peristiwa negative. Tetapi , justru bisa jadi berarti peristiwa yang membawa pengaruh positif dan pemompa semangat hisup bagi manusia untuk bercermin diri, dan menata kehidupan ke arah yang lebih baik. Sebagai manusia, kita harus memaknai musibah denga perspektif yang baik dan benar. Kisah di atas mengajarkan kita bahwa sebuah musibah kegagalan, yang di ibaratkan air panas, mengandung hikmah positif bagi manusia sebagai sarana mengukur kekuatan kita dalam menghadapinya.  Di sinilah kualitas diri akan terlihat apakah dia memiliki mental serta hati yang kuat dalam kehidupan keseharianya atau tidak. Ada kalimat yang mengatakan bahwa “Manusia sama saja tatkala sama-sama dilimpahi hikmah, namun ketika cobaan datang menimpah, saat itulah akan terlihat perbedaan-perbedaanya. Jika kita semakin yakin dan tegar menghadapi musibah itu, maka semakin berkualitaslah tingkat diri kita. Demikian pula sebaliknya, jika kita menjadi rapuh dalam menghadapi musibah maka mengindikasikan kualitas diri kita yang begitu rendah.

Kita seharusnya mengandaikan  bahwa hidup ini layaknya uang yang memiliki dua sisi.  Kita tidak luput dari hakekat hidup yang selau di pertemukan dengan sisi kehidupan yang sulit, dan yang mudah, semuanya akan selalu hadir dalam mebayangi proses misi hidup ini. Jadi sesungguhnya sifat hidup ini yang saya maksudkan di atas itu sebenarnya satu paket. Einstein mengatakan bahwa terpuruk dalam masalah merupakan peluang hebat untuk kita. Pesan yang ingin disampaikan adalah bukan berarti saat kita mengalami masa-masa terpuruk, kita kemudian mengambil keputusan bahwa saya tidak mampu, putus asa, kecewa dengan gagasan-gagasan sendiri, namun ini mengingatkan kita bahwa hargailah seluruh perjuangan anda, karena semunya melibatkan hati, pikiran anda, kita tidak menuntut sebuah keberhasilan, namun kita hanya menuntut berhasil dalam mencoba.

            Namun hanya saja tak semua orang menyadari akan hal itu. Sebagaimana orang akan berhenti manakalah mengalami sebuah kegagalan. Pada hal, kegagalan itu bukanlah sebuah kesalahan. Jika kita bisa menyimak dan mengambil pelajaran dari kegagalan , maka bukanya tidak mungkin kita akan  mencapai kesuksesan. Yang perlu kita lakukan pada saat kita mengalami kegagalan adalah intropeksi diri. Teliti diri sendiri terlebih dahulu, kenapa bisa gagal .mungkin kita kurang kerja keras atau mungkin inisiatif, dan seterusnya. Tampa kesedihan juga kita tidak akan mengerti arti kebahagian. Justru itulah, kesedihan akan membuat kita bangkit untuk meraih kebahagian. Saat kita dilanda kesedihan, berhentilah melayani perasaan dan pikiran jika memang ingin terlepas ari belenggu penderitaan hidup.
Jadi saya bukan Mie, saya bukan kopi, dan telur tetapi saya adalah “kegagalan itu sendiri”, akulah sentralanya.

*SEMOGA BERMANFAAT*

Tuesday, 27 September 2011

Kumpulan Pepatah Lucuq....Goooooooo (pokoknya agan ngakak)

1. Bersatu kita teguh, bertiga kita threesome
2. Sepandai-pandainya tupai melompat, pasti disate juga
3. Bagai air di daun talas, kurang kerjaan banget ngamatin air di dedaunan
4. Ada gula ada semut. Ada semut disemprot pake Baygon. Ada banyak semut mati
5. Rajin Mangkal, Kaya
6. Air tenang jangan disangka tak ada buaya, tapi ada ikan paus lagi tidur siang
7. Bersatu kita teguh, bercerai kita ke Take Me Out
8. Rajin pangkal pandai, hemat pangkal kaya, yang enaK-enak pangkal paha, rame-rame pangkalan ojek
9. Ada ubi ada talas. Ada Budi ada Anduk
10. Uang cucuran masyarakat jatuhnya ke DPR juga
11. Semut di seberang lautan keliatan, gajah di pelupuk mata kelilipan
12. Cinta ditolak, dukun beranak
13. Jauh di mata, dekat di hati, boros di pulsa.
14. Sedikit demi sedikit lama lama bosan
15. Bagai kejatuhan durian runtuh, baru kali ini ada orang kejatuhan durian malah   seneng
16. Air susu dibalas dengan air kopi item, jadi kopi susu deh
17. Bersatu kita teguh, bercerai kita masuk infotainment (motto selebritis)
18. Berat sama dipikul, ringan sama dijinjing, sama-sama berat mending dipaketin aja
19. Air susu dibalas Air Supply
20. Sambil menyelam minumnya tetap teh botol Sosro
21. Sate padang sebelum hujan
22. Buruk rupa, cermin pun disalahkan
23. Ringan sama dipikul, berat minta dibawain
24. Single itu prinsip, jomblo itu nasib
25. Wong ompong nyaring bunyinya
26. Ke bukit sama mendaki, ke lurah bikin KTP
27. Nasir sudah menjadi tukang bubur
28. Dimana ada jalan, disitu banyak mobil
29. Bagai kacang lupa atomnya
30. Bagai buah simalakama, tidak dimakan Ibu mati, dimakan Bapak kimpoi lagi
31. Setinggi-tingginya Bangau terbang, akhirnya jadi kecap juga
32. Buruk muka nggak masuk majalah
33. Ada uang ada barang, nggak ada uang rampok bank
34. Jauh di angkot, dekat naik ojek
35. Air beriak tanda ada yang tenggelam
36. Lebih baik berputih tulang dari pada putih badan karena panuan
37. Besar pasal daripada tilang
38. Tua-tua keladi, udah tua jadi biang keladi
39. Jangan ada janda di antara kita
40. Air beriak tanda ada yang boker
41. Tak kenal maka tak sayang, mau kenalan digampar pacar
42. Ada udang di balik tepung kentucky
43. Bagai telur di ujung handuk
44. Bagaikan Jemuran tertiup angin
45. Malu bertanya, sesat di jalan. Banyak bertanya, dikira wartawan
46. Anjing menggonggong, maling kulkas berlalu
47. Habis kumis, cukur dibuang
48. Malu berak, sesak di jalan
49. Surga anak ada di telapak kaki ibu, surga bapak ada di antara kaki ibu.
50. Sekali melambai, dua tiga banci mengikuti
51. Karena sperma setitik, bengkak perut tetangga
52. Guru kencing jongkok, murid berlari ngintip
53. Ma’ lu bertanya, Ma’ gue yang jawab
54. Maksud hati memeluk Nunung, apa daya keburu digampar Badrun
55. Dimana ada kemauan, di situ ada kemaluan
56. Dunia maya tak selebar monitor
57. Malu bertanya, sesat di jalan. Besar kemaluan, susah berjalan
58. Lebih baik pulang tinggal nama, daripada gagal di malam pertama.
59. Hormatilah wanita, niscaya engkau akan diberikan kehormatannya.
60. Dalam pantat yang sehat, terdapat kentut yang kuat.
61. Bekerja keraslah, karena yang keraslah yang mampu “bekerja”.
62. Bukan salah bunda mengandung, salahkan bapak yang menaruh burung.
63. Tidurlah sebelum kamu ditiduri.
64. Maju perut pantat mundur.
65. Tak ada gadis yang tak retak.
66. Sepandai-pandai menyimpan istri Muda, akhirnya tua juga
67. Tak ada bini, jajan pun jadi.
68. Banyak belajar banyak lupa, sedikit belajar sedikit lupa, tidak belajar tidak lupa.
69.Sambil Menyelam Glagepan, Abis Glagepan Masuk Kuburan
70. Jauh di mata dekat di kaca (moto supir angkot)

Monday, 19 September 2011

MASIKAH NEGARA INI “LAYAK” DI SEBUT SEBAGAI NEGARA HUKUM

           Seruan yang sering kali kita dengar dalam media. Baik elektronika, media cetak, adalah kritik atas nama pemerintah. Seruan tersebut diekspresikan dengan berbgai cara, ada demonstrasi, via media, dan lain sebagainya semuanya hanya memiliki cirri yang sama yaitu kritik kinerja pemerintah.  Semua  masyarakat mungkin tau bahwa pemerintah memang hadir untuk menjadi stimulus, pengontrol,  kekuatan, untuk mengangkat nama sebuah bangsa yang di huni oleh masyarakat banyak yang harus memiliki karisma yang luar biasa di mata dunia itulah salah satu tujuan suatu bangsa. Yah saya meyakini di tahun-tahun sebelumnya nama Indonesia, dengan keperkasaan garuda, dan kibaran sang saka, pernah dikagumi oleh dunia, karena kekayaan yang di miliki, di antaranya kekayaan budaya yang di lambangkan oleh garuda, yang kemudia di aplikasikan dalam Panca Sila, kekayaan alam yang begitu terkenal, dan satu lagi yang menjadi kekaguman di mata dunia adalah Indonesia di kenal sebagai Negara pluaralisme dan itu mampu di jaga menjadi damai dalam perbedaan, yang kemudian muncul suatu motto bangsa ini yaitu “Bhineka Tungga Ika” (berbeda-beda tetapi tetap satu jua).
            Saaat kita telah berhasil  mendobrak sebuah kekuasaan raksasa, di tahun 1998 di bawah pimpinan seorang jendaral yaitu Soeharto, dengan sikapnya yang sangat represif dan dictator, yang akhirnya menjadikan masyarakat untuk melakukan reformasi kekuasaan pmerintah, karena di nilai system soeharto tidak sesuai dengan nilai-nilai humanisme. Pada saat itu jugalah muncul berbagai gerakan dari berbagai kalangan turun ke jalan, ada Akademisi, Aktivis, Lsm. Yang kemudian menyatukan  suara mereka dalam orasi untuk mendobrak kekuasaan raksasa dalam kejayaanya selama 32 tahun memimpin republic ini. Tak sedikit nyawa yang mlelayang dalam tragedy tersebut, tetapi itulah perjuangan dalam melawan rezim, yang di nilai sebagai resim yang penuh tanda Tanya. Mengutip pernyataan dari omm reks, salah satu dosen ilmu Hukum Uksw, mengatakan bahwa melawan sebuah kekuasaan sama dengan “Ingat melawan Lupa” .
Setelah tumbangnya resim soeharto pada tahun 1998, Indonesia memulai membuka lembaran baru, dekonstruksi dalam system kemudian di hidupkan di tata kembali. Dengan keyakinan bahwa kedepan harus jauh lebih baik. Dari gerakan-gerakan inilah yang dilakukan oleh para aktivis, mahasiswa 98 yang kemudian menghasilkan 6 butir agenda penting reformasi di antaranya;
  1. Penegakan supremasi hukum,
  2. Pemberantasan KKN
  3. Pengadilan mantan presiden Soeharto dan para kroninya,
  4. Amandemen konstitusi
  5. Pencabutan dwifungsi TNI/POLRI, serta
  6. Pemberian otonomi daerah seluas-luasnya.
Saya tidak terlalu  berbicara panjang lebar tentang agenda reformasi, karena wewenang saya untuk ke arah sana terbatas, nah di sini saya kembali mengacu kepada poin bahasan ini, yaitu pengabaian aspirasi masyarakat oleh kalagan orang-orang berdasi di negri ini, kita bisa melihat sebuah kebijakan selama ini yang kemudian dikembangkan oleh pemerintah yaitu kebijakan yang hanya Top Down (dari atas ke bawah) meskipun mungkin ini masi berkaitan dengan proses reformasi yang tiada hentinya jika di tinjau dari perspektif perekonomian, sosial, agama dan lain sebagainya ini masi tidak terlepas dari peristiwa resim sebelumnya. Banyak stigma yang mengatakan bahwa system demokrasi yang kita anut saat ini masi banyak dipegang oleh orang-orang Soeharto, sehingga jalanya demokrasi di negri ini sulit terwujud, apakah yang terjadi sekarang, boleh saya mengatakan bahwa resim yang berganti layayaknya orang yang hanya ganti topeng. Bahkan tingkat pelanggaaran norma hukum, agama, etika sosial, tak asing lagi di telinga kita. Hampir setiap hari kita dicekoki oleh berita di TV tentang kekerasan, korupsi, konflik umat beragama, pemerkosaan. dan lain sebagainya, ibaratkan kita makan nasi kita suda kenyang dan bosan, karena hanya diberikan lauk yang sama. nah di sinilah saya bisa menyimpulkan bahwa betapa terkucilkanya hukum di negri ini, orang menganggap hal yang biasa ketika di langgar, hukum saat ini dapat di tawar, di hargai dengan rupiah, sungguh malang nama hukum di bangsa ini.    
            Mungkin saya terlalu pragmatis dalam menilai sebuah scenario yang diperankan oleh elit bangsa ini, namun secara fundamental jika kajian kita memang betul-betul mengarah kepada ranah pengembangan suatu Negara yang dalam tahapanya sedang berkembang yang harus kita terapkan salah satunya adalah sikap pragmatis. Karena saya meyakini bahwa dalam sebuah organisasi yang besar, seperti Negara, dalam mengambil sebuah tindakan, putusan harus penuh dengan strategi yang matang di sinilah paragmatisme akan menampakkan dirinya.
            Dengan semaki krtitisnya nasib bangsa ini yang kemudia menarik perhatian bagi para politikus di negri ini, yang kemudian mencoba untuk membandingkan resim harto dengan resim saat ini yang kita kenal sebagai era demokrasi. Beberapa opini yang beredar bahwa ada kerinduan terhadap rezim pak Harto. Bayak pula yang mengatakan bahwa lebih baik milih dictator, dari pada demokratis. Tetapi sebanarnya posisi dua kubu ini adalah dilema jika ditinjau dalam tatanan masyarakat Indonesia. Pemimpin yang demokratis di anggap lamban, dictator diprotes, nah akhirnya timbullah pertanyaan bahwa siapakah sosok pemimpin yang tepat dalam memimpin? Jawaban yang mungkin muncul adalah dua-duanya  harus dimiliki seorang peimpin yaitu demokratis dan dictator. Nah ketika jawaban tersebut yang akan muncul maka saya tertarik mengunakan istilah sinergi, bahwa sikap demokratis dan dictator harus bisa bersinergi, tetapi bisakah kita melhat sifat sinergi itu dalam maindseet manusia. Yang mungkin sifat manusia itu bisa kita menilai dari tingka laku, komuikasi (bahasa tubuh) tetapi saya meyakini bahwa manusia tidak satu dimensi, tetapi ada dimensi lain yang paling terpenting. Nah inilah sebuah tanda Tanya yang besar bagi kita semua. Saya yakin jika supremasi hukum betul-betul ditegakkan dalam agenda seorang pemimpin maka saya yakin kedepanya dengan sendirinya akan berubah.   

THANKS