Wednesday, 9 May 2012

MAMASA YANG PENUH DENGAN MAKNA, MAKA ITU AKU INGIN BERMAKNA UNTUK MU (Cerpenku)


 For Mamasa

Tak terasa malam semakin larut, suasana hati semakin hening, di terpah oleh kedinginan malam. Aku hanya di temani oleh secangkir kopi, namun suasana itu tak membuatku bosan, karena aku di bimbing oleh alunan lagu daerahku, nada-nada yang slow pendalaman akan seni lagu oleh si penyanyinya membuat hati pikiran ini tetap betah berada di depan layar, hanya untuk membuka mata bagi kalian semua, bahwa inilah manifestasi diriku yang tertuang dalam tulisan ini, tentang betapa berharganya diriku ada di tengah-tengah masyarakat baru, oleh karena aku dibekali sebuah jati diri sebagai mahkluk yang diciptakan sang Esa dan dititipkan untuk Mamasa.

               Aku lahir besar di sebuah perkampungan di salah satu daerah di mamasa, tepatnya di sasakan (sumarorong) pada tahun 1991 yang lalu, disitulah aku dihadapkan oleh alam yang sejuk, aku di pertemukan oleh manusia yang berbudaya unik, aku di tempatkan pada lingkungan yang nyaman, sungguh eksistensi diri yang sangat tak terukur, begitu luar biasanya pemberian itu. Aku hanya bisa mengatakan “itu bukan pilihan, itu bukan panggilan aku di tempatkan pada ruang itu, namun ini adalah pijakan hidup saya itu alasanya aku terkagum dengan apa yang mengada pada diri pribadiku ini”. Hari demi hari aku lalui, dengan berbagai macam seluk-beluk kehidupan, semuaya terasa penuh dengan suka duka, aku terus berproses dari tahap demi tahap. Sebuah lakon kehidupan yang sungguh menghibur hingga akhirnya saya beranjak menjadi seorang yang dewasa, dan pada akhirnya saya bisa memberikan hasil pikiranku  terhadap ruang yang membesarkan aku, ruang itu adalah Mamasa.

               Makna demi makna aku rangkum dalam aplikasi kehidupanku, saya selalu berusaha untuk selalu memaknai jejak-jejak langka hidupku. Yang tak bermakna sekalipun aku berusaha memaknainya hingga pada akhirnya aku bisa menjadi orang yang bermakna untuk mamasa, yang penuh dengan makna-makna yang unik nan mengagumkan. Akhirnya aku tiba pada kesimpulan bahwa apa yang saya maknai yang aku aplikasikan, kini menjadi saham yang terus berinvestasi pada perjuangan-perjuangan yang aku lakukan, itulah yang saya sebut sebagai identitas. Aku saat ini hidup di tengah-tengan masyarakat yang jauh dari mamasa  yang cukup plural, di hadapkan dengan budaya-budaya sangat bersebrangan dengan budayaku, ada Ambon, Jawa, Batak, Bali dan lainya. Namun aku merasa tak terasing, itu artinya betapa kuatnya identitas ini. Aku mengenalkan kepada mereka cirri kemamasaan saya melalu pembawan diri saya baik itu tingka laku, tutur kata semuanya menjadi baik-baik saja. Aku tersenyum, bangga, terkadang heran akan hal ini, namun itulah realitas. Bahwa aku kemanapun hidup di mana pun, aku tetap putra Mamasa. Aku menarik sebuah benang merah melalui pemkanaan filsafat atas apa yang saya rasakan selama ini menjadi seorang yang lahir besar di mamasa, “Bahwa mamasa bukanlah pilihanku, namun itu pijakan hidup dari Sang khalik (Tuhan), mamasa bukanlah hasil logika, maka itu artinya aku harus berpikir agar Mamasa bukan menjadi perenungan pemikiran tetapi menjadi dasar atas apa yang kita pikirkan, memasa menjadikan aku berbeda dari yang lain. Aku berusaha agar bisa menjadi orang yang bisa terus berinvestasi kepada mamasa, karena isi mamasa adalah saham yang baik. “Terimah kasih atas pemberian Mu”

Oleh : Fandi

Monday, 7 May 2012

KEKERASAN DAN SENI

          Tampa visi, manusia cenderung menjadi lesu, melamban, tak tentu arah, dan puas pada diri sendiri, tampa orang-orang yangmemiliki visi, maka manusia tak beranjak dari budaya purba, dengan adanya orang-orang idealis, penemu pembaru, serta agen-agen perubahan lajnya maka kehidupan menjadi maju. jika anda merasa tak mampu mewarnai dan mengubah dunia tap setidaknya anda memiliki visi atau impian, maka nikmatilah seninya, dan rasakan bedaya. selamat membaca sebagian dari visi saya.

Sungguh sangat memprihatinkan nasib bangasa ini dengan semakin maraknya budaya kekerasan, di tengah masyarakat indonesia. budaya kekerasan bukan lagi menjadi hal yang baru  bagi masyarakat kita, nampaknya hal ini sudah semakin mendekat di sendi-sendi kehidupan masyarakat nusantara. sekian banyak pemberitaan yang ada ada di media elektronik, tak sedikit yang menjadi pengisi acaranya adalah pemberitaan budaya kekerasan.kekerasan tersebut tak hanya kita jumpai di masyarakat kecil namun di kalangan  aparat negara.

           Problem  kebudayaan ini harus mendapatkan perhatian yang serius untuk kita, dan kemudian kita berjalan bersama-sama untuk mencarikan solusi penyelesaianya, agar ini tidak menjadi sebuah persoalan yang terus beregenerasi dari masa ke masa, jika hal ini bisa kita sadar dan kemudian membangun sebuah konsep kebersamaan dalam penuntasan masalahnya, agar bangsa ini tidak memperoleh peridikat  bangasa yang biadab oleh bangsa lain di dunia ini. kebudayaan kekerasaan akan pula menghilangkan kesempatan anak bangsa ini untuk dapat hidup normal sebagai manusia yang utuh. coba saja kita mengamati kota-kota besar, misalkan jakarta, surabaya, semarang, kelihatanya para orang tua di kota-kota besar ini, sangat begitu was-was dalam melepaskan anaknya untuk pergi ke sekolah atau keluar tampa dampingan orang tua, karena rasa takut akan terjadinya kekerasan antar pelajar. 

Tak paham Seni

           Hingga hari ini orang-orang ahli ilmu sosial menghubungkan awal kemunculanya kebudayaan kekerasan itu dengan adanya kesenjangan ekonomi di tengah  masyarakat. namun menurut hemat penulis sendiri bahwa indikator kemunculanya hal ini oleh karena tak paham makna dari setiap sendi-sendi kebudayaan alias tak mendalami sendi dari ragam kebudayaan. buta huruf jika menghinggapi manusia makan kemungkinan manusia ini akan menjadi manusia yang kerdil. maksudnya adalah manusia yang sangat sempit wawasanya karena tidak meiliki cukup informasi yang dapat menjadikan mereka sebagai manusia yang memiliki wawasan luas. demikian pula manusia yang buta seni, misalkan seni musik, seni lukis dan sastra dan seni yang lainya. maka manusia yang menderita penyakit itu juga menjadi manusia yang kerdil, dalam artian manusia yang buta seni akan mudah bertindak tampa mempertimbangkan kemanusianya.

                 Bagi penulis bahwa ketidak pahaman seni ini akan berpengaruh atas keseimbangan jiwa, rasa dan pemikiran itu tak bersinergi dengan baik jika orang tak bisa menjadikan seni sebgai salah satu asumsi diri. nah untuk bisa menjadikan iwa ini seimbang maka salah satu yang bisa di tempuh adalah pendidikan, orang musik jika ia mendalami dari sisi-sisi seninya, bukan hanya alunan iramanya, maka di sana ia akan mengerti tentang pluralisme yang seimbang dan damai, coba saja kalain amati musik, misalkan 1 group band, ataukah orkestra, di sana terdapat berbagai jenis musik, ada gitar biola, piano drum, semuanya jika bunyi satu persatu nada yang keluar sangat berbeda dengan yang lainya, namun ketika di bunyikan secara serentak dengan kunci nada yang sama maka hal tersebut akan mengeluarkan bunyi yang sangat indah di telingan. inilah yang saya juga sebut sebgai simbol multikulturala yang damai. utnk melakukan ini semua tentunya mereka yang mendalami seni musik tersebut.

             Apa bila kita ingin menanyakan apa tugas sarjana, khususnya sarjana seni, di masa-masa akan datang ? maka jawabanya jelas, yaitu memberantas penyakit "Buta Seni" yang saat ini di derita bangsa ini. Para sarjana seni harus melakukan dua jenis advokasi untuk mencapai tujuan itu. advokasi pertama di tunjukan untuk meminta perhatian pemerintah, khususnya Departement Pendidikan Nasional, agar mau memeberikan perhatian pada pengajaran seni dan  budaya di sekolah-sekolah indonesia. Advokasi yang kedua di tunjukan kepada masyarakat  agar mereka memahami masa depan bangsa ini tidak akan hanya ditentukan oleh banyaknya anak-anak indonesia yang jago matematika, namun juga akan ditentukan oleh anak-anak yang benar-benar matang dan memiliki daya kreativitas yang tinggi. dan saya meyakini satu hal jika hal ini telah terbuka maka saya yakin budaya kekerasaan di indonesia akan hilang. 

Saturday, 7 April 2012

PANDANGAN UMUM TENTANG PEREMPUAN DALAM RELASI JENDER



A.     Pengertian Perempuan dalam relasi jender
Sebelum membicarakan tentang perempuan dala relasi jender , terlebih dahulu penulis menyampaikan  tentang  arti  perempuan  dan  relasi jender. 


            Dalam  Kamus  Bahasa  Indonesia  disebutkan,  perempuan  adalah  orang  (manusia)  yang  mempunyai  puka,  dapat  menstruasi,  hamil, melahirkan anak dan menyusui. Sedangkan wanita adalah perempuan dewasa. Dari  sini  dapat  diketahui,  bahwa  perempuan  adalah  manusia  yang mempunyai  puka  tidak  dibedakan  umurnya.  Tetapi  kalau  wanita    adalah perempuan yang sudah mencapai dewasa.
Sedangkan  jender,  mulai  diperbincangkan  manusia,  ketika  ada  salah satu  perubahan  yang  paling  mencolok  dalam  hal  kemanusiaan  pada    80-an adalah  timbulnya  isu  jender  sebagai  kategori  analisis.  Dalam  kebangkitan  kritisisme  feminis,  jender  telah menjadi sebuah kesadaran sebagai penentu yang sangat krusial dalam produksi, sirkulasi, dan konsumsi wacana kesusasteraan.

Teori  jender  mulai  berkembang  sejak  awal  80-an  dalam  pemikiran feminis  baik dalam  bidang  sejarah,    antropologi,      filsafat,    psikologi  dan  ilmu alam  dengan  membuat  peralihan  (perubahan)  dari  investigasi  yang  berfokus pada  perempuan  pada  tahun  70-an;  seperti  investigasi  tentang  sejarah perempuan, gynocriticism dan  psikologi  perempuan,  kepada  studi relasi  jender ,yang melibatkan  perempuan  dan  laki-laki. Perubahan  paradigma  itu  membawa pengaruh  yang  sangat  radikal  yang  tertransformasi  pada  beberapa  disiplin kajian tentang perempuan. Dari sini dapat dilihat bahwa “jender” termasuk hal yang masih baru. Berbicara  tentang  jender  berarti  berbicara  tentang  laki-laki  dan perempuan. Pengertian  tentang  jender  itu  sendiri  masih  belum  mencapai kesepakatan  resmi.  Sementara  kata  “jender”  berasal  dari  bahasa  Inggris, “gender”, berarti “jenis kelamin. Arti    demikian  sebenarnya  kurang  tepat, karena  disamakan  dengan  sex  yang  berarti  jenis  kelamin  Hal  ini  karena  kata jender  termasuk  kosa  kata  baru,  sehingga  belum  ditemukan  di  dalam Kamus Bahasa Indonesia. Tetapi kendatipun demikian, istilah tersebut biasa digunakan di kantor Menteri Urusan perempuan, dengan ejaan “jender”. Jender diartikan sebagai interpretasi mental dan kultural terhadap perbedaan kelamin, yakni laki-laki  dan  perempuan.  Jender  biasanya  digunakan  untuk  menunjukkan pembagian kerja yang dianggap tepat bagi laki-laki dan perempuan. Ann  Oakley,  salah  seorang  feminis  pertama  dari  Inggris,  yang menggunakan  konsep  jender,  mengatakan  bahwa,  ”Jender”  adalah  masalah budaya, merujuk kepada klasifikasi sosial dari laki-laki dan perempuan menjadi maskulin  dan  feminin,  berbeda  karena  waktu  dan  tempat.  Sifat  tetap  dari  jenis kelamin harus diakui, demikian juga sifat tidak tetap dari gender” .

Dari  sini  dapat  disimpulkan  bahwa  jender  tidak  memiliki  asal  usul biologis.  Hubungan  antara  jenis  kelamin  dan  jender  tidak  benar-benar “alamiah”.  Ann  Oakley  menambahkan  bahwa,  jender  adalah  perbedaan  yang bukan  biologis  dan  bukan  kodrat  Tuhan.  Perbedaan biologis,  yaitu  perbedaan jenis  kelamin  yang  bermuara  dari  kodrat  Tuhan,  sementara  jender  adalah perbedaan yang bukan kodrat Tuhan, tetapi diciptakan oleh kaum laki-laki dan perempuan, melalui proses sosial dan budaya yang panjang. Jender mengacu ke peran perempuan dan laki-laki yang dikonstruksikan secara  sosial.  Peran  tersebut    berubah  dari  waktu  ke  waktu  dan  beragam menurut budaya dan antarbudaya. Sebaliknya, identitas sex biologis ditentukan oleh ciri-ciri genetika dan anatomis Sementara  H.T.Wilson berpendapat  bahwa,  jender  merupakan  suatu dasar  untuk  menjelaskan  tentang    bagaimana  sumbangan  laki-laki  dan perempuan dalam masalah kebudayaan dan kehidupan bersama, yang berakibat ia menjadi laki-laki atau perempuan. Jender adalah seperangkat peran, seperti halnya  kostum  dan  topeng  di  teater,  menyampaikan  kepada  orang  lain  bahwa termasuk feminin atau maskulin.

Dari  beberapa  definisi  tersebut,    dapat  disimpulkan  bahwa,  jender adalah konsep yang melihat peran laki-laki dan perempuan dari segi sosial dan budaya,  tidak  dilihat  dari  jenis  kelaminnya.    Sedangkan  relasi  jender, mempersoalkan  posisi  perempuan  dan  laki-laki  dalam  pembagian  sumberdaya dan  tanggung  jawab,  manfaat,  hak-hak,  kekuasaan  dan  previlese.  Penggunaan relasi jender sebagai suatu kategori analisis tidak lagi berfokus pada perempuan yang dilihat terisolasi dari laki-laki.


B.     Jender dan Sex
Dahulu,  pada  masyarakat  primitif,  orang  belum  banyak  tertarik  untuk membedakan  sex  dan  jender,  karena  persepsi  yang  berkembang  di  dalam masyarakat  menganggap  perbedaan  jender  (gender  differences)  sebagai  akibat perbedaan  sex  (sex  differences).  Pembagian  peran  dan  kerja  secara  seksual dipandang  sesuatu  hal  yang  wajar.  Akan  tetapi,  dewasa  ini  disadari  bahwa, tidak mesti perbedaan sex menyebabkan ketidakadilan jender (gender inequality). Dalam  wacana  feminis  term  jender  telah  digunakan beberapa  tahun  yang  lalu  dalam  bidang  makna  sosial,  budaya,  dan  makna psikologis  untuk  menentukan  identitas  sexual  biologis. 

Secara umum Gender digunakan untuk mengidentifikasi perbedaan laki-laki  dan  perempuan  dari  segi  sosial-budaya,  sedangkan sex  digunakan  untuk mengidentifikasi perbedaan laki-laki dan perempuan dari segi anatomi biologi.  Istilah sex lebih banyak berkonsentrasi kepada aspek  biologi  seseorang, meliputi  perbedaan  komposisi  kimia  dan hormon dalam tubuh, anatomi fisik, reproduksi, dan karakteristik biologi lainnya. Sementara itu, jender lebih banyak berkonsentrasi  kepada  aspek sosial,  budaya,  psikologis,  dan  aspek-aspek  non biologis lainnya. Sex  atau  jenis  kelamin  adalah  perbedaan  biologis  antara  laki-laki  dan perempuan.  Perbedaan  jenis  kelamin  berkenaan  dengan  kenyataan  bahwa  laki-laki memproduksi sperma, sementara perempuan melahirkan dan menyusui   anak.  Laki-laki  dan  perempuan  mempunyai  tubuh  yang  berbeda, hormon  yang    berbeda,  dan  kromosom  yang  berbeda.  Perbedaan  jenis  kelamin atau  sex adalah  sama di semua negara, dan merupakan fakta  mengenai  biologi  manusia, tetapi, kata “jender” digunakan untuk mengenali menjadi laki-laki atau menjadi perempuan tidak sama dari satu budaya ke budaya yang lain. Jender  menjelaskan  semua  atribut,  peran  dan  kegiatan  yang  terkait dengan “menjadi laki-laki” atau “menjadi perempuan”. Jender berkaitan dengan bagaimana dapat dipahami dan diharapkan untuk berfikir  dan bertindak sebagai.                       
                                                                                                                                               
Jender juga berkaitan dengan siapa yang memiliki kekuasaan. Semenjak  dahulu,  manusia  telah  mempunyai  kemampuan mengklasifikasikan  lingkungannya  menurut  simbol-simbol  yang diciptakan  dan  dibakukan  dalam  tradisi  dan  dalam  sistem  budayanya. Karena proses simbolisasi ini sangat terkait dengan sistem, budaya atau struktur  sosial  setiap  masyarakat,  perbedaan  jender  tidak  selalu bertumpu kepada perbedaan biologis. Istilah  jender  sekarang  telah  umum  digunakan  dalam  literatur  studi perempuan.  Namun  pembedaan  antara  jender  dan  sex  ini  bukan  tanpa persoalan,  misalnya  Maria  Mies  mengatakan  bahwa, sex  ataupun  sexualitas manusia tidak dapat dilihat semata-mata hanya sebagai masalah biologis. Fisiologi  manusia  sepanjang  sejarah  telah  dipengaruhi  dan  telah dibentuk oleh dimensi sosial budaya hubungan manusia. Demikian  juga,  kaum  feminis  radikal  mengatakan  bahwa,  pemisahan istilah  sex  dan  jender  melahirkan  klasifikasi  yang  seolah-olah  dapat  memberi batasan  tajam  antara  apa  yang  biologis  dan  apa  yang  sosial/kultural.  Hal  ini tampak  dengan  jelas  dalam  konsep  sexualitas  di  mana  sesuatu  yang  oleh kebanyakan  orang  dianggap  sebagai  hal  yang  biologis,  alamiah  dan  instinktif. Dalam  berbagai  studi  yang  dilakukan  orang  ternyata  sangat  dibentuk  oleh konteks sosial politik yang berlaku pada zaman tertentu. Dari  penjelasan  tersebut  di  atas,  kiranya  sangat  jelas  bahwa,  jender  dan sex  sangat  berbeda.  Jender  dapat  berubah,  sedangkan  sex  adalah  bersifat biologis, yang tidak mungkin diadakan perubahan.

C.     Jender dan Perempuan
Perempuan secara langsung menunjuk kepada salah satu dari dua jenis kelamin, meskipun di dalam kehidupan sosial selalu dinilai sebagai the other sex  yang  sangat  menentukan  mode  sosial  tentang  status  dan  peran  perempuan. Marginalisasi  perempuan  yang  muncul  kemudian  menunjukkan  bahwa perempuan  menjadi the  second  sex, seperti  juga  sering  disebut  sebagai “warga kelas dua” yang keberadaannya tidak begitu diperhitungkan. Pembahasan tentang perempuan sebagai suatu kelompok memunculkan sejumlah kesulitan. Konsep “Posisi perempuan” dalam masyarakat memberi kesan  bahwa,  ada  beberapa  posisi  universal  yang  diduduki  oleh  setiap perempuan  di  semua  masyarakat.  Kenyataannya  bahwa,  bukan  semata-mata tidak  ada  pernyataan  yang  sederhana  tentang  “Posisi  perempuan”  yang universal,  tetapi  di  sebagian    besar  masyarakat  tidaklah  mungkin memperbincangkan  perempuan  sebagai  kelompok  yang  memiliki  kepentingan bersama.  Perempuan  ikut  andil  dalam  stratifikasi  masyarakat.  Ada  perempuan kaya,  ada  perempuan  miskin,  dan  latar  belakang  kelas  kaum  perempuan mungkin  sama  penting  dengan  jendernya  dalam  menentukan  posisi  mereka  di masyarakat.
Dalam    masyarakat  multikultural,  latar  belakang  etnis  seorang perempuan, bahkan mungkin lebih penting daripada kelas. Istilah  jender  juga  berguna,  karena  istilah  itu  mencakup  peran  sosial kaum perempuan  maupun laki-laki.  Hubungan  antara laki-laki  dan perempuan seringkali  amat  penting  dalam  menentukan  posisi  keduanya.  Demikian  pula, jenis-jenis  hubungan  yang  dapat  berlangsung  antara  perempuan  dan  laki-laki akan  merupakan  konsekuensi  dan  pendefinisian  perilaku  jender  yang semestinya dilakukan olah masyarakat 

D.     Jender antar kultural
Struktur  sosial  masyarakat  yang  membagi-bagi  antara  laki-laki  dan perempuan  seringkali  merugikan  perempuan.  Perempuan  diharapkan  dapat mengurus  dan  mengerjakan  berbagai  pekerjaan  rumah  tangga,  walaupun mereka bekerja di luar rumah tangga, sebaliknya tanggungjawab laki-laki dalam mengurus rumah tangga sangat kecil. Sebagian masyarakat beranggapan bahwa, tugas-tugas kerumahtanggan dan  pengasuhan  anak  adalah  tugas  perempuan,  walaupun  perempuan  tersebut bekerja.  Ada  batasan  tentang  hal  yang  pantas  dan  tidak  pantas  dilakukan  oleh laki-laki  ataupun  perempuan  dalam  menjalankan  tugas-tugas  rumah  tangga. Perempuan  kurang  dapat  mengembangkan  diri,  karena  adanya  pembagian tugas  tersebut.  Peran  ganda  laki-laki  kurang  dapat  diharapkan  karena  adanya idiologi tentang pembagian tugas secara seksual.  Dalam  setiap  masyarakat,  peran  laki-laki  dan  perempuan  mempunyai perbedaan.  Perbedaan  yang  dilakukan  mereka  berdasar  komunitasnya,  status maupun  kekuasaan  mereka.  Perbedaan  perkembangan  peran  jender  dalam masyarakat    disebabkan  oleh  berbagai  faktor,  mulai  dari  lingkungan  alam, hingga  cerita  dan  mitos-mitos  yang  digunakan  untuk  memecahkan  teka-teki perbedaan jenis kelamin.
Dalam  masyarakat  terdapat    bermacam-macam  kerja  yang  dilakukan oleh  laki-laki  dan  perempuan.  Pembagian  kerja  tersebut  berdasarkan  jender (gender  division  of  labour). Misalnya,  di  dalam  masyarakat  primitif,  menurut antropolog  Ernestine  Friedl,  seperti  yang  dikutip  Budiman,  bahwa  perempuan lebih penting dari laki-laki.  Pada  masyarakat  primitif,  ketika  manusia  masih  hidup  mengembara dalam  kelompok  kecil,  bahaya  yang  paling  ditakuti  adalah  musnahnya kelompok,  yang  disebabkan  matinya  anggota  kelompok.  Karena  itu,  jumlahnya harus diperbesar dengan  cara memperbanyak lahirnya bayi-bayi, tetapi jumlah anak yang lahir masih terbatas. Untuk itu laki-laki banyak dikorbankan, dengan pergi  ke  medan  perang  dan  berburu,  yang  mana  pekerjaan  tersebut  dapat membahayakan  nyawa,  maka  muncullah  pembagian  kerja  berdasarkan  seks. Perempuan bekerja di dalam rumah, laki-laki bekerja di luar.  Sedangkan  di  masyarakat  Mbuti  di  Afrika,  dan  masyarakat  Bali, memiliki  peran  jender  yang  tumpang  tindih.  Di  kalangan  orang  kerdil  dalam berburu dan dalam pengasuhan anak dilibatkan laki-laki dan perempuan.  Sementara  di  kalangan  orang  Ambara,  normanya  ayah  jarang menyentuh  anak-anaknya  selama  dua  tahun  pertama,  dan  setelah  dua  tahun pertama, mengharapkan kepatuhan sepenuhnya dari anak-anaknya. Dari  sini  dapat  diamati  bahwa,  peran  perempuan  dan  laki-laki  adalah buatan  atau  ciptaan  masyarakat.  Untuk  itu  dapat  diubah,  seperti  masyarakat primitif  berlaku  demikian,  karena  adanya  keperluan  untuk  melestarikan kelompoknya. Tetapi dewasa ini, karena sudah tidak diperlukan, peran laki-laki dan  perempuan  akan    berubah.  Perubahan  tersebut,  melalui  proses  sosialisasi penjenderan,  harus  berlangsung  terus  menerus,  dan  dilaksanakan  di  dalam keluarga dan masyarakat. 

E.     Kesimpulan
Dari paparan di atas kesimpulan yang bisa di tarik adalah bahwa jender bukanlah persoalan biologis, apa lgi jika ingin dikatakan bahwa ini adalah kodrat Tuhan. Tetapi jender adalah hasil konstruksi social yang dibuat oleh laki-laki dan perempuan itu sendiri dalam waktu yang cukup panjang. Ann  Oakley,  salah  seorang  feminis  pertama  dari  Inggris,  yang menggunakan  konsep  jender,  mengatakan juga  bahwa,  ”Jender”  adalah  masalah budaya, merujuk kepada klasifikasi sosial dari laki-laki dan perempuan menjadi maskulin  dan  feminin,  berbeda  karena  waktu  dan  tempat.  Sifat  tetap  dari  jenis kelamin harus diakui, demikian juga sifat tidak tetap dari gender” .  dari defenisi inilah bisa dikatakan bahwa femenisme adalah sebuah alat untuk menganalisis dan untuk melihat permasalahn social, yang mengarah kepada transformasi masyarakat. Posisi feminis dalam hal ini adalah ingin membantu melihat adanya bentuk ketimpangan perilaku baik yang bersifat structural maupun cultural melalui system pemikiran yang menyeluruh. Sehingga feminism dapat di anggap sebagai cara pandang yang berusah membedah dan menyelesaikan persoalan social, serta tindakan sadar antara perempuan dan laki-laki dalam merubah keadaan.





Daftar Pustaka
Ratna Megawangi,  Membiarkan Berbeda ? Sudut Pandang Baru tentang Relasi Gender (Mizan Bandung 1999)
Nani Soewondo, Kedudukan Wanita Indonesia dalam Hukum dan Masyarakat  (Ghalia 1994)
www.angelinasondakh.com/nsroom/artikel/feminisme-perjuangan.pdf

Tuesday, 28 February 2012

GAGALNYA PENERAPAN ETIKA MODERNISASI DI MAMASA


(Paradigma Budaya)

Boleh saja Anda melihat apa yang tidak Anda inginkan kerena ini memperjelas Anda utnuk berkata “inilah saya inginkan”. Tetapi kenyataanya, semakin anda membicarakan apa yang tidak Anda inginkan atau membicarakan bagaimana buruknya hal itu, atau selalu membaca segala sesuatu tentangnya, anda menciptakan lebih banyak hal yang tidak anda inginkan, maka itu bacalah yang kami tidak inginkan ini

Masyarakat yang kebudayaanya diwarnai oleh tradisionalisme cenderung untuk menengok ke masa yang lampau apabila harus memecahkan sebuah masalah dalam hidupnya. Tradisi, atau kalu di indonesia lebih umum dikenal dengan isitilah adat, menjadi pedoman dalam mengatur tata hidupnya, baik tata hidup dalam keluarga di dalam masyarakat, dalam hubunganya dengan orang-orang lain dari luar masyarakatnya.  Dengan pegangan pada adat maka masyarakat dapat mengatur kehidupanya dengan mantap dan kuat sehingga kehidupan itu menjadi stabil. Adat itu menjadi bertambah kuat oleh karena menurut pendapat masyarakat mengandung “restu” dari para leluhurnya baik yang masi ada dalam dunia fana maupun yang sudah pindah ke dunia baka. Lebih kuat logika karena adat dipahami, dihayati dan diamalkan oleh semua anggota masyaraka. Oleh karena itu tidak mengherankan kalu adat itu sukar sekali diubah atau diganti dengan unsur-unsur kebudayaan lain. Padahal ada unsur-unsur adat yang tidak dapat dipertahankan apabila masyarakat hendak membangun ekonominya sesuai dengan dalil-dalil ekonomi modern.

                Lalu jika dalil ini dibangun dengan mengunakan pemahaman kebudayaan yang diwarnai dengan tradisionalisme, Mamasa tepatnya menjadi bagian dalil tersebut, perlu diakui sebagai putra/putri daerah, bahwa benar Mamasa adalah daerah yang sangat homogen, tingkat akulturasi, asimilasi, belum menjadi sebuaha tantangan, di daerah tersebut. Mamasa dalam tatanan sosia yang terbangun sangat kental dengan adat istiadat. Lalu pertanyaan yang akan muncul jika hipotesis ini benar, adalah apakah kita sebagai putra/putri daerah Mamasa telah memanfaatkan dalil kebudayaan sebagai salah satu indikator pembangunan, atau dalam hal ini dikenal dengan proses ketahanan sosial, jika ia apa kontribusi pembanguna yang telah diberikan, jika tidak mengapa..?, pertanyaan mendasar ini sangatlah patut untuk dikaji bersama, agar ini menjadi sebuah catatan penting bagi proses pembanguna di Mamasa. saya membayangkan jika benar-benar kita mengamalkan nilai adat-istiadat dalam kedaerahan, taka terpungkiri akan tercipata sebuah komunitas  masyarakat yang kokoh dan punya integritas yang berwibawa.

                Karena tulisan ini lebih mengarah pada proses transformasi, maka penulis mencoba mengidentifikasi berbagai fenomena sosial yang terjadi dalam beberapa dasawarsa terakhir ini. Di antaranya proses transformasi kultur, sistem tata ruang (masyarakat, pemerintah, masyarakat adat). Hasil amatan saya selama hidup dibawa kebudayaan Mamasa, benar-benar tidak saya sia-siakan, meskipun harus ada pengakuan bahwa selama ini saya hanya penonton, dan juga menjadi “korban transformasi” yang keliru. Kenapa saya mengatakan demikian ini tidaklah cukup jika saya hanya menjelaskan dalam sisi tertentu, tetapi saya akan menggagasnya dari berbagai macam sisi, yang dalam hal ini adalah indikator pembangunan, baik itu pembangunan kemanusian. Kesejahteraan, sumberdaya, dan yang lebih penting adalah nilai sebuah kebudayaan. Masyarakat Mamasa telah membuktikan bahwa dasar kedaerahan dibanguna di Mamasa dengan asas UU, yaitu di bawah sub sistem pemerintahan, mulai dari sentra Kabupaten, Kecamatan, dan Desa/lurah, yang didalamnya beranggotakan masyarakat, ketika masyarakat telah menyatu dalam sebuah sistem kebijakan maka ia akan menjadi bagian yang tak terpisahkan dengan kebijakan tersebut, meskipun itu tidak ada kesepakatan awal.

                Sekilas Transformasi yang Keliru

Sejak berdirinya Mamasa menjadi kabupaten, mata kepala dari berbagai masyarakat telah tertutuju bahwa kita akan menjadi daerah yang siap bersaing, dengan sedikit mengedepankan modal kebudayaan yang kita miliki, dan juga menjadi sebuah identitas pasti. Lalu apakah benar kita sudah siap bersaing, okey jika masyarakt di tanya pasti kebanyakan mengiakan, namun persoalanya apakah kita sudah memiliki modal sosial yang cukup untuk melakukan hal tersebut. Wujud kekecewaan saya selama ini saat, ruang-ruang sosial, yang seharusnya di isi oleh orang-orang yang matang dalam prospek pembangunan ternyata di isi dengan orang-orang yang hanya bermodal ijazah tok, yang kausalitasnya tidak jelas dari menakah ijazah itu. Orang yang dulunya saya kenal sebagai orang yang hanya mondar-mandir di daerah, sekarang telah mondar-mandir di kantoran, sehingga apa yang terjadi tentunya dia akan kecenderungan memraktekkan pengalaman selama belum masuk kantor, maka keonsekuensi logisnya adalah kantoran pun menjadi ajang permainan. Bukan berarti kita tidak bersyukur dengan adanya putera daerah yang telah mengabdi untuk masa depan daerah,  namun apalah artinya jika dia hanya hadiri sebagai icon saja, bahwa dia adalah seorang PNS. Ketika di tanya kinerja yang ia telah lakukan ia hanya menjawab saya telah melakukan apa yang ada dikertas, namun substansinya tidak ada, ini kan lucu. Lalu jika ini semua merambah pada keseluruhan sektor, baik itu ekonomi, pendidikan, politik, yang hanya di isi oleh modal ijazah tok tampa punya asas yang jelas bagaiman produk masyarakat selanjutnya jika terus menerus terjadi. Maka satu kesimpulan yang akan muncul yaitu regenerasi pembodohan secara sengaja.

                Kemudian kita coba tinjau dari sisi ekonomi, benar bahwa tingkat kemiskinan di daerah Mamasa tidaklah begitu tinggi jika dibandingka dengan daerah lain, tetapi perlu diketahui bahwa seharusnya Mamasa bebas dari kemiskinan, alasanya karena Mamasa sumberdaya manusia seimbang dengan kuantitas penduduk, maka tingkat ketergantungan di Mamasa tidak nampak. Tetapi persoalan ekonomi tidak haya sampai di situ saja, perlu kita ketahuai bahwa tingkat kemandirian masyarakat dalam mengembangkan kreativitas, juga adalah bagian dari model ekonomi, lalu apakah ini telah terpenuhi. Saya rasa sangat belum, ini kenapa karena memang pendidikan yang telah diperkenalkan melalui basis pengetahuan sudah tidak tepat. Ruang pendidikan yang seharusnya hadir sebagai salah satu basis perubahan dalam membangun karakter masyarakat, telah di nodai dengan pendidikan yang tidak sampai di atas rata-rata, maksudnya adalah pendidik hanya memindahkan isi buku kepada anak didik, selebihnya tentang analisis, terabaikan, lalu murid mau tau apa jika model pembelajaran yang seperti ini. Soal-soal seperti inilah yang menjadi indikasi tentang lambannya tingkat perekonomian di Mamasa.

                Lalu yang paling menarik adalah bidang politik, dunia mengakui bahwa keberhasilan sebuah negara ditentukan bagaimana strategi politik yang digunakan, untuk dapat selalu menjamin masyarakatnya tetap survive dalam negaranya. Ini artinya bahwa memang yang dibutuhkan hadir dalam bidang ini benar-benar orang yang mengerti tentang etika politik, karena yang didepan yang akan unjuk gigi adalah orang-orang tersebut, keitka orang politik telah keos, maka ini akan sangat berdampak buruk bagi keadaan komunitasnya. Maka yang sangat ditekankan dalam hal ini adalah ketepatan dalam mengambil sebuah keputusan untuk orang banyak, dengan memperhatikan kaidah-kaidah normatif yang ada, baik itu aturan yang telah di atur oleh negara, maupun aturan adat-istiadat. Jika terjadi sebuah pengabaian terhadap kaidah-kaidah normatif, maka kemungkinan besar komunitas akan mengalami distorsi atau  tumbang. Relasinya dengan eksistensi perpolitikan di Mamasa, benar-benar mengabaikan ke dua kaidah-kaidah tersebut, artinya bahwa kalau memang mengerti tentang sebuah nilai maka mereka akan ekstra hati-hati dalam merumuskan sesuatu yang menjadi agenda dalam masyarakat. Tetapi nyatanya elit-elit yang berdasi benar-benar tak menjadikah hal itu menjadi sebuah kesalahan yang fatal. Mungkin inilah yang disebut sebagai euforia politik praktis, saya hanya memahami satu hal bahwa orang yang tidak mendalami ilmu politik kecenderungan menerapkan politik praktis kira-kira seperti itulah yang terjadi di Mamasa. Keberanian saya dalam mengeluarkan hipotesis seperti ini karena dampak tersebut sempat aku rasakan, maka kalau ada yang bertanya apakah anda memiliki aras pembuktian, saya Cuma menjawab buktinya telah menjadi budaya di Mamasa, maka belajarlah dari pengalaman mu.

                Petualanga pemikiran saya tidak hanya sampai di sini, saya kemudian mencoba menganalsis tentang eksistensi kebudayaan yang dimiliki Mamasa, tidak salah lagi bahwa masyarakat Mamasa pada awalnya sangat kental adat-istiadatnya, hal ini terbukti dalam pengalaman saya saat mencoba jalan-jalan ketempat-tempat lain, di luar desaku, saya selalu saja menemukan mitos-mitos, yang hampir cirinya sama di tempat saya dan di daerah lain di wilaya Mamasa, dan itu dipraktekkan oleh kebanyakan orang tua, coba bahasa mitos kita gunakan berbicara dengan ABG, sekarang paling cap yang muncul adalah norak, kalu orang Jawa bilang “Wong Ndeso”  dan sudah dianggap usang, ini kan bentuk pergesaran paradigma, tentang sebuah identitas. Mungkin bisa dibenarkan bahwa mitos yang dulu sudah tidak relevan saat ini. Di tambah lagi hadirnya kepercayaan modern, yang kian mempengaruhi paradigma masyarakat tentang pandangan dunia. Semua ini kan indikator dari modernisasi yang keliru, saya tidak meletakkan kebudayaan dalam padangan jaman, bahwa karena ini sudah bukan lagi jaman batu (taradisional) maka sepantasnya nilai budaya tradisional pun harus ditinggalkan, dengan sepenuhnya mengacu kepada agama, atau  jika kita pinjam bahasanya Aguste Comte di sebut sebagai tahap positivistik. Saya meyakini satu hal tentang kepercayaan (Agama), bahwa salah satu  ukuran sebuah keberhasilan agama ketika ia bisa bersinergi dengan baik dengan, kebudayaan dalam sebuah masyarakat tampa terjadi reduksi nilai diantara keduanya. Lalu apa yang kita bisa bahasa terkait dengan budaya dalam tata ruang di Mamasa, seperti yang saya katakan tadi bahawa memang ada sebuah pergeseran paradigma terkait dengan kebudayaan, ini tidak hanya terjadi di kalangan generasi muda  yang sudah agak gengsi mewarisi komunikasi budaya, namun di tataran pemerintahan di Mamasa pun terjadi, kasus yang terjadi dipemerintahan tidak sama dengan paham yang terbangun di kalangan anak muda, yaitu gengsi, tetapi orang-orang elit  (pemerintah) telah melupakan  nilai adat istiadat, dengan mengedepankan euforia perpolitikan, akhirnya yang terjadi adalah pemerintah tidak lagi punya batasan dalam bertindak, berpikir dalam  mengambil sebuah kepututsan. Jika sebuah batasan tak lagi nampak maka sendi-sendi pembangunan dalam daerah akan terpengaruh, itu alasanya Mamasa hingga kini tidak pernah mencapai kesetabilan ekonomi, politik, apalagi SDM, karena aparatur yang berperan sebagai stimulus keliru dalam menginterpretasi sebuah perubahan, yang dalam hal ini adalah pemaknaan modernisasi.

Ingat bahwa pikiranmu adalah wakil dari gambaran kepribadianmu


Sunday, 26 February 2012

Menggali Pesan Positif di SMANSA Sumarorong


Masa sma hampir semua orang yang pernah, melewati masi ini akan memiliki kesan masing-masing, bahkan ada yang merangkumnya dalam sebuah tulisan, tentang seputar aktivitas mereka ketika ada di bangku SMA. tapi saya percaya bahwa di masa ini pula lah yang disebut dengan masa pancaroba, atau  bahasa krenya, transisi, he he..banyak orang yang mengatakan bahwa di sinilah salah satu masa pembentukan karakter kita di uji, jika kita berhasil melewati masa ini, itu artinya karakter kita suda sedikit terbentuk. nah begitu banyaknya orang yang senang mengplikasikan pengalamnya semasa di SMA, aku pun merasa tertarik dengan kegitan mereka, saat menuliskan sebuah pesan, tentang apa yang mereka kagumi dari masa itu, dengan waktu yang tersedia, saya pun hadir memanfaatkan itu untuk mengaplikasikan sedikit pengalaman dengan teman-teman, guru-guru, sewaktu masi di SMANSA SUMAROROG.
Tidak terasa suda hampir 3 tahun saya meninggalkan bangku SMA, dengan sebuah kebanggaan yang tertanam, sebagai alumni, dari sekolah tersebut,banyak referensi cerita yang di tawarkan, banyak pesan moral yang di berikan banyak relasi yang di berikan, inilah sebuah kebanggan tersendiri yg saya rasakan saat keluar dari smaq yang tercinta. Mungkin jg rasa itu di alami oleh teman-teman yang pernah bernaung di sekolah tersebut. yang menariknya adalah sifat pengajar sebagai stimulus bagi siswa, begitu familiar, yang akhirnya menjadi sebuah dorongan kebersasmaan persaudaraan, yang begitu kental, mereka adalah guru yang berkompetn di bidangya masing-masing, yah meskipun tidak semua berkopetn tetapi itu hanya sebagian kecil, dan kita juga memklumi itu, karena kondisi daerah jugalah sebgai pemicunya. meskipun di masa saya waktu itu, dan juga kk angkatan saya, fasilitas sekolah yang tersedia memang masi terbatas, mungkin hari ini suda diperhadpkan dengan peningkatan fasilitas yang memadai. tetapi di waktu itu tidak membuat semangat kami surut,untuk tetap semangat menuntut ilmu di sekolah itu. justru dengan kondisi itulah yang akhirnya menjadi sebuah topik baru kami di masa itu utk selalu di kejar, dan bisa menjadi yang terbaik. kini mungkin kita suda berada di lingkungan yang berbeda, hidup dengan orang yang berbeda, komunitas yang baru, dan ketika kita bisa memposisikan diri di komunitas baru tersebut, saya bisa menyimpulkan bahwa itu adalah sebagian ilmu yang kalian dapatkan dari SMA mu.
Dalam tulisan ini saya ingin menggli ulang pesan positif yang diberikan orang-orang yang pernah menjadi bagian dari SMANSA sumarorong, saya tidak ingin membenturkan sikap egoisme saya semasa sma, namun saya mencoba melihat dari sudut pandang eitka orang yang terdidik,bahwa tidaklah mungkin sebuah lembaga pendidikan memberikan pendidikan abmoral terhadap muridnya, saya sadar bahwa kenakalan yang dilakukan oleh siswa dan juga termasuk saya, adalalh bagian dari proses hidup, yang kemudia sekolah dihadirkan sebagai pengontrol sifat tersebut, minimal sifat itu ditempatkan pada posisi yang seimbang. sekolah memiliki aturan, sekolah memiliki tanggung jawab, hal inilah yang kemudian di tanamkan bagi kita supaya menjadi bagian yang menyatu dalam sistem, itu. di dalam sistem itu ada orang-orang pilihan yang dipercayakan sebagai motivator dan juga sebagai guru, bagi siswa.
Ada beberapa guru yang seingat saya telah memberikan sumbangan pemikiran yang berharga, yang pertama adalah, Pak Oktovianus (GURU SOSIOLOGI) dengan pesanya jadilah guru bagi dirimu sendiri, mereka selalu mengucpkan berulang dalamk kelas, Pak, Dominikus (Bhs .Indonesia) dengan pesanya "jangan engkau menjatuhkan dirimu dengan bahasa mu sendir" tpi ini dengan dialeknya sendiri, krn dia dari flores jadi cukup menarik he he. dan juga paling menarik adalah pak Enox (Matematika) dng bahasan khasnya yang melow2 (nada lambat), dan juga guru yang lain, pesan yang mereka berikan begitu banyak, tetapi sya tidak terlalu ingat.
Sifat2 Guru dalam mengajar dan di Luar sekolah (No  Intimidasi dan sentimen, Diskriminasi)
Pak Oktovianus (sosiologi)
Gaya mengajar beliau sangat kritis, membuat siswa muda mengerti, dan juga selalu membawa siswa masuk dalam pemikiranya, gaya beliau juga sangat santai dan rilex. membuat kita selalu nyaman untuk belajar.
Pak. Albert (kesenian)
Seorang guru kesenian, tentunya juka memiliki jiwa seni berbiacara yg menarik, bgaman tidak pendekatn mengajar yang digunakan adalah terbuka, artinya tidak menekan dalam mengajar, beliau selalu memunculkan sifat humornya, tetapi humor yg mutu, sehingga kita tidak terbawa dalam ketidak seriusan, dan gayan mengajar itu membuat kita tidak pernah bosan.
Pak Dominikus (bahasa/ agama katolik)
Guru bahasa, dan juga guru, Agama Katolik, beliau sangat menekankan disiplin dalam cara mengajarnya, dengan suara yang lantang membuat siswa menjadi  terfokus utk belajar, bahasa beliau yang cukup menarik krn di kombinasikan dng dialegnya yang membuat siswa terkadang tersenyum hehehe
Pak Dessaratu (matemaika)
Guru yang sudah cukup lama mengapdi si SMA ini, beliau menekankan gaya mengajar yang santai, hal ini juga di mungkinkan karena mata pelajran matematika, jadi cara yg tepat adalah cara santai sehingga tidak menjadikan siswa tidak mengerti. maklum matematika banyak yang KO di pelajaran ini heheh
Pak Henox (matematika)
Nah guru ini banyak yg senang, karena gayanya yang sangat khas, selalu memiliki kalimat yang lucu, suka bercanda, khusunya ke teman2 "cewek" guru ini mungkin saya katakan guru paling demokratis, karena kalau ingin pulang, langsung ngomong aja, pasti pelajaran langsung di tutup..hehe
Pak Harun (Geografi)
Beliau salah satu sosok guru yang saya segani, kaErna sifat disiplanya sangat tinggi, dalam mengajar, di luar sekolah pun sy sangat segan dengan beliau. ia mengajar geografi, dalam pelajaranya kita lumyan bisa memahami, karena arah perhatian kita memang di paksakan dng cara khas disiplinya.
Bu Rita (agama)
 guru yang paling di segani oleh banyak siswa, beliau punyap pendirian yang keras, dalam mendidik siswa, karisma yang di miliki cukup kuat, senakal apa pun siswa waktu itu, kalu beliau yang menangani pasti kapok...he he termasuk penulis hehe
Ibu Sin
Beliau juga saya katakan senang humor, dengan bahasanya yang khas, cara mengajar yang tidak terlalu santai, membuat siswa selalu tertawa, seingat saya saya perna di lempar kapur karena ketahuan nyontek waktu ulangan,,tetapi teman2 tertawa, beliau juga ikut tertawa..heheheh
Ibu Pulpa (Bahasa Indo)

Guru yang idola siswa pria,,he he tetapi dalam mengajar, siswa jadi tegang, karena cara mengajar beliau juga disiplin, tetapi santai, siswa dalam mengikuti pelajaran benar bersungguh2 untuk mengikuti pelajaran, dari beliau..
Pak Tonapa (Bahasa Ingris)
Guru paling desenangi banyak siswa, beliau sangat, familiar, santai humor, di senangi bayak teman2 "cewek" dalam bercerita, cara mengajar beliau sangat santai,menjadikan ruangan kelas, menjadi rilex dan penuh dengan tawa.hehehe..tetapi jangan salah kalu dia marah2 hari2 muka bis ahancur.

Pak Ahmad Yani (Sejarah)
Beliau orangnya sangat santai, ia memiliki kalimat yang khas yaitu sepata kata di akhir ucapanya pasti ada kata "YAH", terkadang ditiru2 oleh siswa, he he, cara mengajar beliau juga sangat santai, kita tidur pun di kelas tidk masalah hahaha
Pak Buntu Tasik (Penjaskes)
beliau juga terhitung disiplin, cuma jujur saja, belm profesional dalam bidangnya he he, tetapi memiliki antusiaisme yg tinggi dalam memajukan lembaga pendidikan.

ahh suda dulu capek juga kalau update semua guru yang tercinta kita di SMA, heheh nanti teman2 sendiri yang masukin. 
tetapi saya hanya ingin menekankan bahwa mereka sangat bejasah sama kita semua selaku alumni dari SMA Sumarorong, mereka sangat  menginginkan kita semua bisa dilepas dari bangku SMA dengan nilai yang memuaskan, harapan mereka pastinya, adalah ketika keluar kita bisa bersaing dalam lembaga pendidikan yang lebih tinggi. apa yang kita kenang, selain beliau2 sebagai pengajar adalah, masyarakat di sekitarnya, bahwa mereka hadir jg sebagai bagian dari kita, tetangga kantin kita, ada Omm Pak Pitto, Om Pak Ardi dan juga Nenek Eki, kantin Pak Hasan. dan juga pohon kopi yang selalu setia melindungi kita saat minum ballo ka  atau saat terlambat ka...heheheh semuanya I love U,  "I WILL NOT FORGET ALL THAT".untuk pesan humornya waktu SMA di belakang saja, baru aku tulis lagi...Salam 



Wednesday, 15 February 2012

APAKAH ILMU ITU



Ilmu......?????
Sangat dekat dengan lingkup hidup manusia, ilmu nampaknya bukan lagi sesuatu yang asing bagi kehidupan, ilmu hampir setiap hari di kelolah dengan akal budi yang kita miliki, namun semua dari itu mungkin saya katakan sebagai sebua  manifestasi dari ilmu, ada batasan-batasan tertentu yang di sebut dengan ilmu. Dalam tulisan ini saya tertarik untuk menguraikan sedikit pengetahuan saya tentang ilmu itu sendiri, dan sekaligus dibantu beberapa buku yang saya jadikan sebuah pelengkap dalam bahasan tulisan ini.

            Dalam pergumulan saya dalam dunia pendidikan saya terkadang keliru dalam menginterpretasi ilmu itu sendiri, saya kadang mengartikan sebuah ilmu itu hanyalah kegiatan berpikir yang biasa saja. Namun hakekat ilmu tidak demikian. Ketika saya menyadari bahwa ternyata salah satu jalan untuk mencari kebenaran itu di peroleh melalui jalan ilmu, bukan mutlak sebagai satu-satunya jalan pencarian kebenaran yang dapat kita tempuh. Dari sifat itulah kemudian saya selalu berusaha untuk mengembangkan ilmu pengetahuannya untuk bisa mencapai kebenaran Empirik.

Lalu Apa yang kita sebut dengan ilmu...????
Paling tidak kita mengenal dua macam ilmu pengetahuan, pertama, pengetahuan, yang dalam bahasa inggris kita sebut sebagai Knowledge. Kedua, ilmu pengetahuan atau sering kita singkat sengan sebutan ilmu, yang dalam bahasa inggris sebagai Science. Ilmu itu sendiri dimaksudkan sebagai suatu pengetahuan yang  disusun secara sistematis, serta kebenaranya dapat diperiksa dan di uji kembali orang lain. Terkait dengan bahasan dari awal saya mengatakan bahwa ilmu harus punya batasan barulah disebut sebagai ilmu, batasan yang dimaksudkan adalah ilmu harus mencakup tiga ciri atau syarat yang pertama adalah, Ilmu harus logis, atinya disusun berdasar akal pikiran manusia. Kedua Ilmu harus tersusun secara sistematis. Ketiga harus bersifat obyektif.

Untuk dapat kita lebih mengerti dan paham batasan ilmu itu sendiri saya uraikan ketiga batasan itu;
Ilmu Sebagai Pengetahuan Logis
Ilmu dimakasudkan di sini adalah implikasinya harus benar sebagai pengetahuan yang menjunjung tinggi kebenaran yang bersifat rasional. Ilmu harus diperoleh berdasarkan pada akal pikiran manusia. Dan tugas ilmu untuk menjelaskan segala hal secara masuk akal. Misalkan dalam hal menjelaskan  “Gerhana Matahari” misalanya, ilmu tidak akan menjelaskan kalau peristiwa itu diakibatkan kerena matahari tengah dimakan Sang Btara Kala. Ilmu pasti mengatakan  kalu peristiwa itu gejala alam; karena posisi matahari  sedang tidak dalam kedudukanya yang biasa, maka terjadilah Gerhana Matahari.

Ilmu Sebagai Pengetahuan Sistematis
Sistematis dimaksudkan di sini adalah bahwa ilmu harus diperileh menurut kaidah-kaidah atau aturan-aturan tertentu yang disepakati oleh semua orang yang menggeluti dunia keilmuan. Dunia ilmu adalah dunia tersendiri. Tentu saja aturan-aturan kehidupan-nya pun tersendiri pula  isinya tentu akan  berbeda dengan yang lain. Dan kesemua-nya itu dimaksudkan agar bisa berada dalam jalan yang benar guna menuju kearah tujuan keilmuanya. Aturan-aturan inilah yang selanjutnya disebut Metode Ilmu. Atau sering disebut juga sebegai metode Ilmiah.

Ilmu Sebagai Pengetahuan Obyektif
Bila ilmu hanya menggantungakan dirinya pada kreasi akal  pemikiran semata, maka obyektifitas kebenaran ilmu dapat dipercaya dan dapat menjadi pegangan setiap orang pasti tidak akan pernah ada. Setiap orang, dengan kepala dan pengetahuanya masing-masing, tampa ada yang bisa mencegah, pasti dapat menyatakan bahwa dirinya seorang ilmuwan yang mempunya kebenran yang benra meskipun kebenaran itu hanya pembenaran dirinya. Ilmu tidak menginginkan hal it, ilmu mau agar kebenran yang ada pada dirinya bisa obyektif sehingga kebenaran ilmu dapat dipercaya dan dapat menjadi pagangan semua orang. Untuk itu ilmu tidak melulu menyadarkan dirinya pada  kebenaran-kebenaran rasional yang diperoleh akal. Lebih jauh ilmu ber paling kepada kebenran yang bersifat Empiris.

Dari bahasan di atas penulis tidak hanya mengkaji tentang batasan-batan ilmu, agar tulisan ini semakin menarik dan mudah di pahami si pembaca saya akan menguraikan juga tentang ruang lingkup sebuah ilmu .
Di atas telah di bahas sebelumnya obyek telahan ilmu terbatas hanya pada obyenk-obyek yang bersifat terbatas. Ilmu hanya membahas segala hal yang dapat terindar, teraba, terasa, terdenga, terkecap dan terlihat oleh panca indera saja. Yang dipelajari ilmu tak lebih sekedar obyek-obyek konkret yang ada pada semesta alam, gunung, laut, binatang, tumbuhan, angkasa lua, hingga termasuk manusia dengan segala perilakunya. Maka yang menjadi bidang kajian ilmu sangat terbatas. Ilmu tidak sampai mempelajari, apa yang berada di luar jangkauan panca indera manusia. Apalagi kalu yang harus dipelajarinya sudah berada diluar jangkauan akal pikiranya. Ilmu misalnya tidak membahas tentang masala kehidupan akhira. Keberadaan surga dan nerak, meskipun alat bantu tehknologi yang digunakan telah begitu canggih, namun tetap takkan bisa dibuktikaan oleh manusia. Bagi ilmu, keberadaan akhirat adalah mister, dan selamnya akan tetap menjadi sebuah misteri.jalan untuk mengetahui dunia lain yang diciptakan Tuhan itu, tak ada jalan lain kecuali melalui pengetahuan agama.

            Ilmu pun tak mungkin mebahas segala pengetahuan yang dihasilkan oleh rasa manusia. Kalupun idera keenam itu tetap diakui sebagai indera manusia, namun indera keenam bukanlah suatu idera biasa. Bagaimana cara indera keenam mendaptkan pengetahuanya, sama sekali tidak diketahui oleh orang lain. Untuk itu pengetahuan yag didapat indera keenam itu tetap bukan sebagai sebuah ilmu. Jadi “konon” Teori Relativitas” bisa Einstein peroleh berkat ketajaman indera keenamny, namun tetap saja, agar teorinya itu bisa diterimah dalam dunia ilmu terlebih dahulu Einstein merubahnya menjadi rumusan-rumusan yang dapat dipahami oleh mas yarakat ilmiah. Dan Einstein pun ternyata menyadarinya. Sehingga kemudian dia merubah teorinya dalam bentuk rumusan-rumusan matematis, sehingga kemudian menjadi “Teori Relativitas” yang kita kenal sekarang yang bisa dipelajari dan diuji oleh ilmuwan-ilmuwan lainya. Karena itulah ilmu tidak bertugas menjadi seorang fotografer yang bisa memotret seluruh alam ray. Ilmu hanya bertugas sebagai penangkap fenomena atau gejala-gejala yang tersembunyi dibalik segala tingkah laku alam yang dapat terindera oleh manusia saja.  Fenomena itu lalu dipelajari dengan harapan kenapa fenomena itu sampai ada.

Dalam Filsafat hakekat sebenarnya dari ilmu itu sendiri ada tiga
Otologi ( bagaimana memperoleh pengetahuan)
Estimologi (batasan-batasan ilmu)
Aksiologi ( kegunaan ilmu pengetahuan bagi kehidupan manusia)

Referen
Apa Sih Ilmu Itu (Aat Suwanto)

Semoga Bermanfaat













Saturday, 11 February 2012

RAPOR MERAH BUAT KEPEMIMPIAN DI MAMASA (Kajian Infrastruktur Jalan)





Melalui tulisan ini saya mengawali dengan pertanyaan yang mendasar, betapa pentingnya sarana transportasi. Pertanyaan itu adalah apakah kita tidak akan terjebak jika jalan kita tersendat..? pertanyaan tersebut akan menjadi bahasan ini bahwa jalan atau saran transportasi, kini sudah menjadi slah satu kebutuhan sosial yang sangat vital, ibaratkan kalau kita lihat struktur organ tubuh manusia, jalan ibaratkan tempat aliran darah ke masing sendi yang di miliki manusia untuk bisa menghidupkan organ tubuh........




Saya membayangkan jka jalan ibartakan dengan aliran darah, ketika darah tidak lagi jalan ke organ tubuh yang lain, maka tubuh ini akan keos dan akan sakit, begitu juga dengan hal jalan jika jalan suatu daerah tidak terbenahi dengan baik maka sendi-aendi sistem sosial, seperti ekonomi,  budaya, sosio kultural/ politik, pasti akan mengalami kemandekkan atau bisa jadi stagnan skalipun, inilah yang terjadi di sala satu daerah di indonesia yaitu daerah Mamasa, jalan perintis antara polewali mamasa yang sangat memprihatinkan. Bagamana tidak hampir setiap minggu ada longsor, fisik jalan semakin parah, di daerah lain jalanya suda berlapis-lapis  aspal, jalan di mamasa sudah berlapis-lapis lubang jalanya. Sungguh sangat memprihatinkan, masyarakat hanya menjadi penonton aktiv terhadap aktor-aktor yang sedang bersandiwara akan adanya perubahan di daerah ini, benarkah akan ada perubahan ??? perubahan itu pasti, tetapi keefektifan sebuah perubahan belum tentu. Saya termasuk sala seorang penonton dalam ranah tersebut, saya hanya bisa melahirkan sebuah tulisan tentang suasana hati dalam mengamati fenomena tersebut.

Kini Mamasa sudah berdiri sekitar 7 Tahun itu artinya mamasa seharusnya melahirkan tunas baru untuk bisa menjadi nilai tawar tersendiri di level nasional. Tapi bagamna ada tunas benih saja belum ada. Saya pernah berbincang dengan salah seorang anggota DPRD Mamasa lalu membangun diskusi pendek dng beliau, saya kemudian bertanya bagamana tanggapan bapak terhadap kondisi jalan saat ini? Lalu beliau mulai menggagas dari sistem kemudian turun ke struktur hingga, beliau mengatakan bahwa pemerintah sangat berniat untuk merenovasi jln tersebut, tetapi hal itu tidak mudah karena perlu diketahui bahwa kita punya sistem jelas, maksudnya adalah bukan berarti saat Bupati ngomong bahwa jalan akan direnovasi itu langsung jadi namun herarkinya kita harus mendapat persetujuan yg lebih dari atas yaitu gubernur. Dengan penjelasan itu saya kemudian bertanya dengan agak menantang, sya bilang lalu saat kita mengajukan program trsebut kepada gubernur pasti gubernur juga ngomong bahwa masi ada yang  lebih di atas dari saya yaitu mendagri, dan setersunya pertanyaan ini akan mengalir terus hingga sampai pada pemimpin nmr 1. Apakah alasan itu tepat bagi pemerintah ketika ada yang mempertanyakan hala itu. Jika itu adalh alasan yang relevan saya cuma mau bilang bahwa untuk apa ada legitimasi bahwa bupati berhak untuk menentukan program dalam kabupatn. Jika bupati tidak mampu melakukan negosiasi tentang pembangunan yang pokok dalam sebuah daerah, saya rasa gubernur tidak terlalu bego’ amat. Cuma yang diinginkan bagaman startegi politik yang kita mainkan supaya itu terpenuhi. Itu artinya bupati telah menghilangkan esensi kepemimpinanya sebagai orang nomor satu dalam kabupaten jika ia gagal melakukan negosiasi terhadap pembangunan yang pokok.

Jalan bagiku adalah pintu untuk melangkahkan kaki untuk bisa kita gunakan menoropong dunia yang sesungguhnya. Percuma kita berteriak tentang kesejahteraan, penghapusan kemiskianan, persoalan ekonomi, politik, SDM di Mamasa. Jika jalan masi hancur berantakan seperti itu. Karena perlu diketahui bahwa SDM rendah, pendaptan ekonmi rendah, kemiskinan politik semuanya adalah konsekuensi logis dari dampak kebobrokon fasilitas jalan. Bagaman orang dapat mendapatkan kekuatan daerah jika hanya mengandalkan tehknologi, daerah sangat membutuhkan dimensi-dimensi lain seperti sumbanga pemikiran orang lain, perbandingan dengan daerah lain. Ttapi bagamana orang akan melakukan studi perbandinga jika moodnya sudah hilang saat melihat model jalan yang seperti itu. Seharunya pemimpin dan masyrakat harusnya sudah menyadari bahwa persoalan mendasar kita itu apa, tetapi toh masi aja kita berkutat di lingkaran yang sama. Tapi apa pun itu alasanya saya tetap ngotot mempersalahkan pemerintah Mamasa karena dia adalah pemimpin, stimulus bagi masyarakat, kebijakan yang dominan itu selalu dari atas itu artinya masyarakat akan melakukan apa yang telah di konsensuskan di pemerintahan. Andaikan saya bupati supaya saya tetap survive dan citraq mekar di masyarakatku, hanya 1 saja yang perlu saya paling tekankan yaitu jalan harus mulus. Karna kritikan yang terus menerus menggempar daerah ini hanya itu saja. Tetapi bukan berarti saat jalan selesai tugasku selesai tetapi minimal saya telah menghidupkan spirit masyarakat. Maka ini kan dengan sendirinya masyarakat sangat mudah diajak bersinergi untuk membangun bersama tentang ketahanan daerah. 5 tahun belakangan kepemimpinan di Mamasa benar-benar mengoleksi Rapor Merah.....