Thursday, 11 April 2013

Keagungan Cinta dan Pikiran



Didedikasikan
Kepada Mama Papaku Kakak adik, dan juga buat semu orang yang hidup dalam Cinta

Kemampuan yang paling luar biasa yang dimiliki manusia memang harus diakui yaitu kemampuanya dalam bernalar. Pikiran bisa ke mana-mana ia bahkan tak terbatas oleh apa pun ia bebas beraktivitas yang tak terkendali, namun tidak demikian bagi raga ia sangat terbatas oleh ruang dan waktu ia sangat ditentukan gerak pikiran. Saya membayangkan diriku yang sedang duduk di sebuah pojok lapangan sepak bola di taman kampusku, aku Nampak sendiri di amatan orang lain mereka tak mengerti bahwa pikiran sedang ramai, aku sedang sibuk dengan pikiranku, yang berpikir macam-macam termasuk memikirkan anak orang, memikirkan masa depan bersamanya memikirkan hal unik yang mengagumkan di saat aku bersamanya. Pikiranku sedang mengabaikan bahwa aku ini punya raga yang saat ini di pisahkan dari orang yang aku pikirkan semua Nampak nyata di hadapanku, aku larut dalam lamunan yang itu hanya dirasakan pikiranku tidak oleh ragaku. Tak terasa sekitar 15 menit aku bermain-main dengan pikiranku sendiri tiba-tiba, aku terhentak kaget dengan keramaian di sekitarku nampaknya itu suara dari mahasiswa lainya yang sedang melakukan aktivitasnya. Ehhmm aku kemudian terbangun dalam kesatuanku antara pikiran dan ragaku yang kemudian menjadikan aku sadar bahwa aku tidak sedang bersama dia inilah kesaktian pikiran yang mampu meletakan cinta di mana pun ia berada tampa ia dibatasi oleh ruang dan waktu meskipun raga terabaikan dalam rasa itu.

            Perasaan sayang, perasaan kagum adalah 2 makna besar yang dikadung keagungan cinta semua ini yang mempertanggung jawabkan adalah pikiran dan waktu. Bukan hal-hal lain yang penuh dengan syarat, karena cinta memang tak bersyarat tpi  cinta bersifat menuntut kepada pikiran untk bertindak atas rasa sukanya. Cinta dalam paham saya bukanlah lain dari pada apa yang disebut “kasih” inilah cinta sejati sesungguhnya, cinta sejati bukan ketika orang memberikan dirinya seutuhnya kepadamu, karena ingat ada 1 hal yang tak mungkin anda raih dari pasanganmu atau orang yang kamu cinta yaitu kehendaknya untuk memilih ini fakta hidup, besarnya cinta hanya bisa diukur oleh “waktu”, anda tidak akan bisa mematematikakan besarnya cinta. Tuturan bahasa cinta yang menggempur keberadaanmu di dunia adalah bagian kesadaran yang terjadi hanya sekali, Karena perlu diketahui bahwa semua manusia di dunia hanya sekali jatuh cinta lain dari pada itu hanyalah komitmen. Maka bersyukurlah kita sebagai manusia yang di anugrahi rasa cinta, karena dengan cinta manusia bisa amemancarkan gairahnya dalam segala hal. Cinta adalah rasa yang memancar dari mata air naluri-nalurinya.

            “Inti sari dari segala Sesutu adalah cinta” Seorang Filsuf bernama Plato pernah mengatakan bahwa Cinta atas kebaikan adalah dasar dari kebajikan dan kebenaran, dan dari filosifi inilah yang dijadikan dasar atas cinta platonic, yaitu hanya mencintai tampa berharap dicinta kembali. Apa yang kita pandang baik dan kita melakukan dengan penuh cinta, niscaya akan mendatangkan kebajikan dan kebenaran, begitulah inti sari cinta yang diberikan  oleh Plato. Kekagumanku terhadap cinta tidak sampai di situ, aku kemudian menggunakan pendapat yang bersifat umum dengan menggambarkan cinta dengan gambaran hati. Dan tentu itu kita dapat pahami bahwa hati adalah pusat segala perasaan untuk menerima dan mempersembahkan. Dalam setiap sendi kehidupan, hati kitalah yang menentukan apa yang harus kita persembahkan dan apa yang harus kita terimah dalam kehidupan ini. Gambaran seperti ini mirip dengan pengertian cinta, maka dapat dikatakan bahwa cinta sama dengan hati. Sumber cinta memang dari hati.

Sadarkah anda bahwa kita sebenarnya dibesarkan oleh orang tua kita atas dasar cinta? Semenjak dalam kandungan ibu kita sudah mencinta kita, semenjak dilahirkan, kita dibesarkan cinta pulah. Ayah kita pun rela bekerja keras demi kita karena atas dasar cinta.cinta mampu membuat orang tua kita mengacuhkan dirinya demi yang dicintainya, yaitu kita. Sungguh cinta yang sangat luar biasa. Begitu juga orang yang bekerja dan belajar atas dasar cinta mereka berhasil menghasilkan Sesuatu yang dapat bermanfaat bagi umat manusia, mereka rela menghabiskan waktunya demi menghasilkan Sesutu yang bermanfaat. Kita lihat saja saikking cintanya pada fisika, Albert Einstein akhirnya menemukan teori relativitas, saking cintanta kepada sastra William Shakespeare dapat membuat karyanya “abadi” sebuah cerita cinta sepanjang zaman Remeo dan Juliet Bill Gate saking cintanya pada computer ia berhasil membuat Windows yang begitu bermanfaat bagi jutaan manusia, semua ini di dasari karena kecintaanya terhadap Sesutu.

Lain halnya dalam cinta yang sering kita alami yaitu cinta antar lawan jenis, cinta yang satu ini jujur bagi saya ini bisa membuat manusia mampu bergetar hebat, dan mampu berbuat apa saja demi orang yang dicintainya, cinta membuat orang berani menempuh resiko yang tak dapat di bayangkan. Sungguh cinta merupakan pengalaman yang begitu berharga dalam hidup manusia. Manusi diberi potensi untuk untuk mencintai dan dicintai. Dan , Tuhan memang menciptakan pria dan wanita untuk salaing melindungi dan menyayangi. Sekali lagi saya katakana bahwa cinta adalah naluri manusia. Karena cinta adalah salah satu naluri maka ia berasal dari dalam hati. Jika orang sering bilang hatinya tidak tetap maka jangan heran jika cinta sering pasang surut ini akumulasi dari pergerakan  hati . cinta mengisi suatu waktu sedangkan waktu terus berlalu, karena cinta pun dapat berlalu seiring waktu berlalu. Quraish Shihab pernah menyinggung dalam buku yang pernah saya baca yang berjudul Berpikir dan Berjiwa Besar, ia mengtkan bahwa seseorang merasa dirinya adalah salah satu yang ‘ada’, tetapi ketika ia bercinta, ia dapat merasa memiliki segala yang ‘ada’  dan ketika cintanya putus, ia merasa ‘tidak ada’ dan hampa. Inilah permainan cinta kepada manusia. 

Maka di saat itu pula lah menjeleskan cinta juga kimia berperan di mana dalam logika kimi dikatakan bahwa ketika seorang jatuh cinta, semua zat kimia dalam tubuh, terutama dopamine dan oksitoksin dalam otak, mengalam fluktuasi dalam darah. Ini yang menjelaskan mengapa ketika seorang jatuh cinta ia dapat melakukan apa saja yang dalam situasi normal tidak mungkin dilakukan. Dalam keadaan jatuh cinta kita menjadi obsesif terhadap pasangan, akibatnya kita sulit tidur, karena pikiran terfokus pada pasangan. Tetapi setelah memahami cinta yang sebigian aku tuangkan dalam tulisan ini, ada satu hal yang mesti di ingat bahwa cinta akan di uji oleh waktu. Maka dari itu buat kalian semua  marilah ktia hidup selalu dalam nuansa cinta yang penuh dengan kasih, maka bersabarlah fajar kebajika kebenaran kemenangan dan akhirnya sampai kepada kenyamanan hidup akan menghampiri karena semua itu Pancaran dari mata air naluri-naluri Tuhan yang ada dalam jiwa kita manusia (egape).

Eros (Cinta manusia semata, yang dinspirasi oleh Sesutu yang menarik dalam objeknya umpanya kecintaan kita terhadap si A atau ke B hal ini sangat di gerakkan oleh fisik)
Philia (cinta ini menyentu kepribadian manusia, intelektual,emosi dan kehendak melibatkan saling berbagi, cinta ini tumbuh dari kebersamaan dan perhatian)
Egape (ini adalah kasih Tuhan, kasih yang tidak mencari kesenangan sendiri, tetapi senang member tampa menuntut balas, misalnya cinta seorang ibu terhadap anaknya.)

Letakkanlah ketiga cinta ini di dalam proses hidup maka di saat itulah kita benar-benar hidup denga cinta.

Wednesday, 10 April 2013

Refleksi Tentang Manusia dan Alam Semesta

Dalam pengalaman sehari-hari saya, saya tentu menemukan diri saya di dunia. Ada dua cara di mana saya bisa berarti di "dunia"  hal utama adalah, Dunia seperti planet bumi atau dunia sebagai orientasi terhadap lingkungan saya. Di dunia pertama, dunia fisik, bukanlah pengalaman sehari-hari dalam totalitasnya. Ini adalah konstruksi reflektif dan kognitif dari hubungan saya dengan benda-benda fisik. Saya tidak secara langsung mengalami dunia sebagai dunia. Tetapi dalam arti dunia parsial, orientasi saya tidak terutama dan biasanya menuju dunia yang "objektif". kedua dunia adalah duniaku karena saya tinggal dan hidup di dalamnya, hidup,dunia dan saya adalah dunia makna bagi saya. Ini adalah dunia terorganisir dan ditafsirkan sesuai dengan makna saya. Ini adalah pengalaman sehari-hari keutamaan saya, yang juga masing-masing dari kita memiliki dunia itu.

Di atas telah saya katakana bahwa orientasi saya "tidak terutama dan biasanya arah ini" adalah  dunia obyektif "artinya saya adalah, bahwa benda umumnya tidak menampilkan diri kepada saya hanya sebagai obyek. Sebaliknya saya menganggap mereka sebagai makna-obyek dalam bidang saya. Manusia acap kali dikatakn oleh manusia itu sendiri sebagai mahluk istimewa di antara mahluk lainya, bahwa karena manusia di berikan Pencipta apa yang disebut “Akal Budi”. Pandangan ini jelas banyak yang meragukan bahwa jika dilihat dalam kerangka adaptisinya terhadap alam justru tumbuh-tumbuhanlah yang berhasil beradaptasi bagi alam eksistensi alam menjadi kondusif atas implikasi dari tumbuhan tersebut, lalau jika adaptasi manusi di lihat dalam kerangka aksi ko aksinya dengan alam justru alam nampak jadi chaos (kacau) kerusakan alam dalam hal ini adalah bencana alam  sebagian besar adalah keangkuahan manusia terhadap alam, lalau inikah yang disebut keistimewaan manusia di banding mahkluk lainya? Pertanyaan semcam ini bukanlah pertanyaan mudah, bahkan hal ini menjadi pusat perhatian ilmuwan, tentang siapa manusia sesungguhnya, dan bagaimana manusia benar-benar menjadi manusia yang katanya berakal budi. Ada sebuah pernyataan dari Tonybee yang menarik ia mengatakan bahwa “Manusia disebut manusia, bukanlah ketika ia bisa merubah anatomi tubuhnya, bukan ketika ia bisa memanfaatkan tehknologi yang baik dan maksimal, namun manusia disebut manusia ketika fajar kesadaranya bangkit”. Manusia yang berkesadaran akan selalu punya gambaran tentang implikasi dari tindakanya, selalu punya pertimbangan sebelumnya terkait kemungkinan-kemungkinan yang akan menjadi implikasi dari tindakan yang dilakukan inilah yang disebut “Berpikir baru bertindak”, 

Memang semua bidang ilmu mengakui bahwa objek yang paling rumit untuk dipahami dan di analisa adalah manusia. Justru bagi saya bahwa yang mewah dari manusia adalah kesulitanya untuk dipahami, jika dikatakan bahwa manusia istimewah karena ia memiliki akal budi, ia memiliki bahasa, maka pertanyaan saya adalah apakah binatang dan tumbuhan tidak memiliki hal yang sama yang dimiliki manusia. Mungkin hal itu juga ada pada mahkluk lain selain manusia, mahkluk lain dalam mempertahankan kelangsungan hidupnya tidak semata-mata di seting sang Khalik untuk ia bertumbuh dinamis yang hidup matinya di dasarkan pada soal waktu. Tetapi ia juga sanga ditentukan oleh adaptasinya dengan alam sekitar, karena satu analogi yang dapat dibuktikan kebenaranya yaitu bahwa “Tidak ada mahluk hidup yang ingin mati konyol” .analogi demikianlah yang dkemudian bisa dijadikan sebuah gambaran bahwa  mahluk hidup pada dasarnya bergerak di atas kesadaran yang sama akan eksistensi. Satu-satunya mahkluk yang berpikir adalah manusia menurut manusia. Pikiran ini yang menjadikan manusia menjadi terpandang, terhormat, bahagia, namun juga ia bisa menderita karena pikiran itu sendiri. Maka dari itu saya mengatkan bahwa tidak ada pikiran orang barat, pikiran orang timur, pikiran Kristen pikiran islam pikiran aku dan pikiran kamu, namun yang ada adalah pikiran itu saja, ia bagian dari kesadaran ia dapat menjadi besar karena kesadaran.

Rasio Manusia dan Akal Sehat

            Sering kali kita mendengar sebuah pernyataan bahwa yang membedakan manusia dengan binatang yang lain adalah kemampuan kita menalar. Bayak bintang yang lain kurang lebih sampai tarap tertentu, sadar akan dunia fisis, dan member respon terhadapnya, tetapi manusia mengklaim lebih dari sekedar kesadaran. Dalam budaya-budaya primitive pemahaman tentang dunia terbatas pada ururusan sehari-hari, semacam perjalanan musim, gerak ketapel atau anak panah. Pemahaman itu sepenuhnya pragmatis, dan tidask  memiliki basi teoritis, kecuali dalam istilah-istilah magis. Konsep tentang penalaran manusiaitu sendiri adalah konsep yang mengherankan. Kita sangat mudah terpesona dengan argument “yang masuk akal” dan merasa paling bahagia dengan argument-argumen yang menarik dengan “akal sehat”. Namun perlu diketahui bahwa proses-proses pemikira manusia itu bukan anugerah Tuhan. Mereka memiliki asal-usulnya dalan struktur otak manusia, dan tugas yang telah direncanakan untuk dilaksanakanya.

Apa yang kita sebut akal sehat adalah produk pola-pola berpikir yang tertanam secara mendalam dalam jiwa manusia, yang agaknya karena mereka member manfaa-manfaat tertentu dalam menanggulangi situasi-situasi keseharian, seperti menghindar dari benda-benda yang keungkinan membahyakan dirinya misalkan menghidar dari binagang –binatang buas. Hal yang menarik perlu diketahui bahwa aspek pemikiran nanusia di atur oleh kabel-kabel otak, sementara yang lainya diwariskan sebagai “perangkat lunak genetic” dari nenek moyang kita sejak dahulu, demikian pun “akal sehat” dan rasionalitas manusia adalah konsep-konsep yang terprogram secara genetic pada tingkatan terdalam di otak kita. Dalam hal ini saya bisa mengatakan bahwa dalam hal kit bisa berspekulasi bahwa apakah mahkluk asing seperti 

(alien) yang tersusun di bawah keadaan-keadaan yang sangat berbeda akan sama-sama membentuk konsep tentang akal sehat, atau sesungguhnya juga apa saja tentang pola-pola pemikiran kita. Jika seandainya apa yang pernah di renungkan oleh beberap penulis fiksi-ilmiah, kehidupan di atas permukaan sebuah binatang neutron memang ada, orang tidak dapat menebak bagaimana benda-benda semacam itu memahami dan berpikir tentang dunia. Mungkin saja bahwa konsep yang dimiliki mahkluk asing tentang rsionalitas besar perbedaanya sehingga mahkluk ini sama sekali tidak terpesona oleh apa yang kita pandang sebagai argument rasional. Lalau apakah dalam hal ini penalaran rasional di curigai? Atau  apakah memang kita terlalu picik atau terlalu patriotic degan menduga bahwa kita mampu menerapkan dengan baik pola-pola berpikir Homo Sapiens kepada isu-isu besar tentang eksistensi? Sesungguhnya tidak harus demikian. Proses-proses mental kita telah tersusun sebagaimana layaknya kerena mereka merefleksikan semacam hakikat dunia fisis yang kita huni. 

Dalam hal ini saya berpandangan bahwa penalaran manusia pada umumnya  dapat dipercaya. Adalah fakta kehidupan bahwa orang menganut kepercayaan-kepercayaan, terutama sekali dalam lapangan agama, yang mungkin dipandang irrasional. Bahwa kepercayaan-kepercayaan itu dianut  secara irrasional tidak berarti mereka salah. Boleh jadi, ada rute menuju pengetahuan (semacam lewat mistisme atau wahyu)yang melampaui ataupun mengambil jalan pintas rasio manusia ? dalam hal ini saya kemudian lebih berupaya mengambil penalaran manusia sejauh mana ia akan bergerak. Jika memang dunia  rasioanl, paling tidak dalam ukuran besar, apakah sesungguhnya asal-usul rasionalitas tersebut ? ia tidak dapat muncul dengan sendirinya dalam pikiran kita, karena pikiran-pikiran kita semata-mata merefleksikan apa yang sudah adan di sana. Haruska kkita mengandalkan penjelasan pada seorang Perancang rasional ? atau dapatkah rasionalitas “menciptakan dirinya sediri” lewat daya “kemasuk akal-an” yang dimilikinya semata?. Memang benar semakn kita mengetahui tentang alam semakin ia juga tak terbatas. Inilah bukti bahwa kita punya Perancang yang Agung yang ia ada di mana-mana tapi ia tunggal dialah yang kita kenal sebagai Tuhan.

Saturday, 24 November 2012

ANDAIKAN ALAM BISA BERBICARA





Alam sebgai tempat kita memulai karir untuk hidup, di mana kita dibesarkan dengan segala yang ada, isi-isinya menjadi aset yang bebas untuk dinikmati manusia, termasuk tempat yang kita gunakan sebagai hunian. Alam punya kelebihan yang tak kalah menarik dengan ciptaan manusia yg dikelolah dengan kebudayaan-kebudayaan peradaban manusia. sebagai mahluk yang berdiam di dalam tubuh alam, dan juga sebgai mahluk yang berpikir tentunya kita sadar tentang apa yang dibutuhkan oleh alam, agar semua isinya menjadi bermanfaat bagi kehidupan peradaban manusia, alam tak memikirkan manusia, alam hadir sebgai kesatuan yang pasti dan konstan bagi sendi kehidupan manusia. penguasa di atas alam juga adalah manusia. namun kekuasaan manusia di atas alam tak dapat dimaknai sebgai alasan untuk menjadi egois pragmatis dalam menikmati keberadaan alam. Alam sangat membutuhkan peran manusia untuk tetap dilestarikan, alam menjadi sahabat yang juga sebagai pemberi tampa pamrih jika ia dikelolah dengan baik.  Namun jika manusia memoerlakukan alam denga mengksploitasi dan tak bertanggung jawab atas kelestarianya maka alam akan menjadi ancaman besar bagi kehidupan manusia dan juga mahkluk-mahkluk lainya yang berdiam di dalamnya.

                Memperhatikan keadaan alam sesungguhnya bukan Pekerjaan besar bagi manusia, sangatlah mudah untuk menjadikan alam untuk tetap nyaman untuk di huni, cukup dengan kekuatan kesadaran tetang pentingnya hidup sehat, tentram damai. Kesadaran tetang melestarikan alam harus di mulai dari prinsip tanggung jawab pribadi, karena alam adalah semua manusia berhak menjadikan miliknya, bukan soal perseorangan. Belajar dari kegagalan-kegagalan sekolompok manusia yang mengabaikan perhatinya terhadap kelestarian alam sungguh mengerihkan resiko yang dimunculkan alam jika ia kehilangan keseimbangan hidup. Media informasi yang digagas manusia menjadi saran untuk membicarakan bencana alam, ada banyak kejadian-kejadian yang di munculkan alam akibat tidak terjaganya kondisi alam yang stabil, di Indonesia tercatat bencana alam besar yang melanda bangsa ini, di antaranya, 23 Februari 2010 di Tenjolaya tanah longsor yang menelan korban jiwa 45 orang di nyatakan meninggal, banjir Wasior di papua akibat kerusakan hutan yang menelan korban jiwa sebnyak 110 jiwa, peristiwa tanah longsor di sumatera, di Sulawesi yang menelan koraban jiwa yang begitu banyak. Tak cukup kita merenung, tak cukup kita menyesal. Mulailah sadar bahwa itu penting di tangani oleh usaha kita tetang menjadikan alam sebgai sahabat yang perlu di jaga
.
                Aku semakin prihatin dan tertarik untuk kembali berbicara lewat tulisan  saat mendegar berita bahwa 2 hari yang lalu  daerah saya Sumarorong tepatnya Kabaniran Kab. Mamasa di landa banjir yang disertai longsor, yang menelan korban jiwa kurang lebih 20 orang 11 orang dinyatakan meninggal dunia dan lainya dalm kondisi kritis. Dalam asumsi saya bahwa tak cukup jika kita hanya berpegang pada keyakinan bahwa ini kehendak yang Maha Kuasa, memang semua orang mungkin mengerti tentang keyakinan itu, namu juga harus kita sadari bahwa ada anugerah terbesar yang dikaruniakan oleh-Nya, yaitu pikiran (Akal/Budi) inilah yang sesungguhnya harus kita pertanggung jawabkan kepada sang Pencipta terkait lakon hidup yang kita praktekkan semasa hidup. Bukan dengan mudah kita melepas kalimat bahwa ini adalah “cobaan”, perlu evaluasi atas jejak yang kita lalui semasa berpijak di atas alam.

Paradigma Antroposentrisme benarkah ini salah satu pemicunya,
antroposentrisme, adalah paham yang beranggapan bahwa pusat atau sentral alam adalah manusia, atau sederhanaya kita katakan manusia yang berkuasa di atas alam. Banya yang berasumsi bahwa pola pikir ini yang kemudian menjadi stimulus bagi banyak orang untuk mengeksploitasi alam dengan semenah-menah. Namun bagi saya mungkin itu salah satunya di antara banyak factor, namun saya lebih melihat fenomena ini atas kurang terdidiknya manusia tentang pemahaman tentang alam itu sendiri. Banyak manusia menjadikan alam sebagai objeknya untuk menutupi kekurangan hidupnya dalam hal ini adalah kesiapan bertahan hidup. Akhirnya dengan seenaknya mereka menjadiknya sebagai barang yang siap pakai dan tak berpikir tentang mengembangkan bagaimana agar barang ini tetap bisa menyediakan kebutuhan di masa mendatang. Akhrinya dari generasi ke genarasi semakin terpuruk karena keadaan alam pun semakin kronis, orang kepanasan, orang kekeringan, kelaparan, gisi buruk, smeua ini adalah implikasi atas matinya sumber daya yang bermuara dari alam, kerusakan alam tak hanya berimplikasi pada bencan alam, namun juga pada aspek social adalah salah satu menifestasi dari ke ganasan alam yang tidak lagi seimbang oelh karena ulah manusia.
               

Thursday, 8 November 2012

Perempuan Merokok adalah Perempuan "Nakal" !!! Benarkah?



Kemarin hari rabu lagi asik-asiknya duduk dengan teman-teman di kafe kampus sambil menikmati kopi di temani rokok, yah karena ini memang sudah menjadi kebiasaan saya, hari-hari saya di kampus memang pasti saya luangkan untuk ke kafe kampus, di kafe ini mungkin perlu saya akui bahwa pengetahuan saya banyak terbentuk di sana, jika kami duduk bersama teman-teman pasti tetap di warnai dengan diskusi ntah itu diskusi materi kuliah atau hal lain yang penting ada bahan cerita yang sedikit bermutulah. Eemm saat itu kira-kira sekitar 10 menit saya duduk tiba-tiba datanglah  3 orang teman cewek, mereka lalu mengambil kursi lalu duduk bersama-sama dengan saya dan teman lain mereka pun ikut ngobrol dengan kami, tiba-tiba teman cewek ini liat seorang cewek yang merokok di seblah tempat kami duduk,lalu kemudian teman saya ini komentar ihhh kok di kampus ini perempuan semakin banyak yah yang ngerokok, emmm tapi kelihatan kren juga sih yah kalau cewek ngerokok  hehe,lalu kemudian teman cewek yang satu tiba-tiba bertanya ke saya kak, salah nda kalau wanita merokok,,? emm dengan spontan aku bilang dengan sedikit iseng, “ohhh tentu tidak hal itu baik apalagi ceweknya duduk sama saya lalu dia beli rokok lalu kita rokok sama-sama hehe” lalu dia bilang isst aku serius, emm lalu aku jawab dengan serius, emm bagi saya sih ini nda asing bagi saya wanita merokok itu sah-sah saja, Cuma justru yang menjadi pertanyaan saya dalm konteks ini adalah wanita-wanita merokok yang banyak saya jumpai adalah di dalam kampus, namun di luar orang yang sama saya liat di kampus ketika di luar dia tidak merokok, ini sesuatu yang perlu di pertanyakan bagi saya. Tapi jika saya liat dalam perspektif umum, bahwa kehadiran wanita-wanita mudah yang merokok, di tempat umum, aku justru menganggapnya ini bagian dari emansipasi perempuan yah mungkin saja keliru tapi itu menurut asumsi saya.
                Bahwa perempuan akhirnya membangun pandangan sendiri bahwa kenapa rokok menjadi Nampak sebagai hal yang hanya dubutuhkan kaum pria, dengan  mungkin bersandar pada pandangan tersebut, akhirnya beberapa wanita mengawali dengan mencoba mengissap rokok, akhirnya akktivitas ini menjadi terbiasa. Berawal dari satu dua orang dalam misalkan komunitas akhirnya merambah ke teman-teman yang lain, yah mungkin saja di antara mereka banyak yang hanya ikut-ikutan dengan kawanya tapi ini nda menjadi soal, intinya adalah apa yang menjadi dasar mereka itu yang perlu. Dalam budaya Indonesia, jika permpuan tua merokok itu hal yang biasa, namun anak remaja yang merokok, banyak budaya yg ada di bangsa ini menganggap hal yang kurang etis. Ada banyak persepsi tentang wanita merokok, ada yang bilang wanita merokok adalah wanita yang nakal, wanita penghuni di tempat-tempat hiburan malam. Namun di saat ini pandangan tersebut nampaknya sudah di anggap sebgai pandangan keliru, bagi banyak orang apa lagi kaum wanita yang merokok pastinya mereka tidak terimah dengan pandangan demikian. Teman saya ada banyak yang merokok, sering juga saya bertanya pada mereka, kenapa kalian merokok, justru dia nanya balik kamau juga  kenapa merokok, pertanyaan ini ketika di tanggap demikian memang membuktikan bahwa ini soal kesetaraan bahwa apakah hanya kaum pria yang tepat untuk menikmati rokok, di antara mereka juga ada yang bilang yah senang saja kalau isap rokok, ada banyak pandangan tentang wanita merokok.
                Saya kemudia berpikir mengapa hal ini nampak menjadi sebuah bahan diskusi yang menarik, aku mencoba membawa dalm perspektif budaya, bahwa di banyak masyarakat kita menganggap hal ini tidak pantas bagi kaum wanita untuk merokok, karena dalam komunitas-komunitas masyarakat sebelumnya wanita merokok sangat jarang kecuali perempuan yang sudah tua, memang ini tidak lazim namun kalau permpuan yang sudah tua. Jika wanita mudah ini yang menjadikan persepsi akan beragam. Dalam asumsi banyak orang bahwa wanita-wanita yang ada di Bar, Café Malam, Pengunjung hotel, yang kelihatan banyak wanita merokok, jadi kondisi inilah yang membawa paradigma berpikir masyarakt yang mengatakan bahwa jika ada wanita mudah yang merokok di tempat umum, itu artinya dia wanita yang tidak baik.
                Namun kita juga harus terimah dengan kebiasaan yang telah membumi, terkait dengan paradigma berpikir tersebut, mental free tidak bisa dipaksakan untuk berbaur degan kebiasaan kita, mungkin jika kita bicara dalam konteks terkait dengan kebebasan yah hal ini sah-sah saja, dalam peraturan juga tak di batasi kaum hawa untuk merokok, namun ada tata nilai yang tidak tertulis yang disebut kebiasaan yang terkonsep bagi masyarakat yang etis dan yang tidak. Anggapan ini memang Nampak sudah menjadi norma. Apapun alasanya kaum perempuan jika ia merokok dan membantah paradigma bahwa jika wanita remaja merokok, maka dia adalah wanita tidak “baik”, wanita “nakal”, hal ini tak dapat di sangkal dengan berpegang pada prinsip pribadi, jika tidak mau tau yah itu mungkin cara untuk tetap membela diri.
                Di daerah perkotaan kebebasan berekspresi  mungkin aku bilang adalah priorita kaula mudah saat ini, kaki di kepala, kepala di kaki mungkin juga tak lagi aneh. Dalam amatan saya memang wanita-wanita mudah di perkotaanlah yang memang paling banyak merokok, mereka masi duduk di SMA mereka sudah mencoba barang tersebut, apalagi anak mahasiswi, ini bukan lagi hal yang asing melainkan hal yang biasa-biasa saja, diperkotaan mungkin sesama anak mudah akan di pandang sebagai bagian dari gaya hidup, namun di kalangan orang tua ini tetap saja di anggap sebgai hal yang tidak baik. Bahkan saya masi ingat salah seorang vokalis dari Band Liyla, mengatakan aku menganggap wanita merokok itu Nampak kayak “kodratya telah hilang”, aku tidak terlalu mengerti maksudnya namun ini bisa kita katakana bahwa dia kontra terhadap hal tersebut, sekali lagi saya bilang wanita merokok tidak masalah, namun wanita saat mereka merokok harus siap menerima paradigma berpikir masyarakt. Saya pribadi pun tidak senang melihat wanita merokok, karena memang dalam kesan hidup saya bahwa wanita merokok itu memang pertama kali saya  liat di tempat-tempat hiburan malam, lalu wanita-wanita yang tidak terdidik, wanita-wanita di jalanan, mungkin dalam hati pikiran mereka juga tidak ingin demikian namun karena factor lain yang memaksa untuk masuk di lingkaran tersebut, meskipun sekarang banyak alasan yang berusaha untuk menanggapi untuk bisa menjadi hal positif.

Monday, 13 August 2012

MENGHARGAI KEYAKINAN ORANG LAIN, ITU ADALAH AMAL




Hanya karena terlibat diskusi yang tak harus aku lakukan  tapi itu aku memaknainya sebagai kekeliruan maka aku tak ingin membiarkan saudaraku larut dalam kekeliruan yang sadar maka dari itu aku menitipkan pesan melalui mulut besarku, maka bacalah bibir saya

Indahnya Perbedaan

Mungkin saat ini tak ada manusia yang tidak berkeyakinan, saya memastikan itu,  keyakinan dalam hal ini yang saya maksudkan adalah keyakinan religius, Indonesia pun telah melegitimasi secara nasional 6 agama yang di akui, yaitu Islam, Kristen, Budha, Hindu, Kongfuchu. Hal ini saya bisa katakana bahwa tujuan utamanya dari kepercayaan tersebut adalah kepada Sang Pencipta, berbuat baik adalah kewajiabnya. Cuma dalam penafsiran tentang eksistensi manusia, baik itu dari proses penciptaan, dunia kahirat, pandangan hidup itu berbeda, tapi semuanya di wakili satu kata yang bijak yaitu tujuanya semua adalah “kebaikan”. Tapi pertanyaanya adalah mengapa konflik yang bernuasa agama acap kali terjadi di belahan dunia ini, termasuk di Indonesia satu teka teki tentang eksistensi Agama.
                   Mungkin menjelaskan hal ini bukanlah hal yang mudah, karena orang yang seiman saja masi saja sering berbeda pendapat, apa lagi berbeda keyakinan berbeda pendapat itu hal yang sudah pasti ada, tpi aku selalu meyakini satu hal bahwa memang manusia adalah mahkluk yang sangat tak terprediksi dan sangat kompleks untuk di pahami, dan bahkan tak akan pernah bisa di terukur apa batasanya tentang bangunan pemikiranya pada masing-masing individus ini suatu kewajaran, tapi di samping kerumitanya tapi sebanranya semua itu bisa di konsesnsuskan untuk bisa berdiri pada rel yang sama inilah komitmen. 

Kemarin saya sempat terlibat dengan diskusi panjang yang boleh dikatakan tak akan bisa ketemu benang merahnya karena kita bicara pada topic yang sama tapi kita berdiri pada keyakinan yg berbeda, tpi anehnya beberapa di antara kami mengunakan keyakinanya sebagai kekuatan untuk menjadikan kebenaran umum, yah orang pasti tidak terimah lah karena di dalamnya terdiri keyakian yang beragam, sementara ada yang menjadikan keyakinanya sebgai patokan kebenaran, yah orang bisa perang lah tapi aku selalu berusaha tidak menanggapinya dalam perspektif agama tapi dengan segala kesadaranku aku menggagasnya dalam rana yang berbasis ilmu tapi pada akhirnya kebenaran yang kita ingin cari tak ada yang ada adalah pembenaran yang di akui sebagai kebenaran. Tapi terlepas dari itu aku Cuma belajar satu hal dari diskusi itu bahwa memang kita selalu terjebak dengan tiga hal yaitu “Benar, pembenaran, dan Kebenaran”, sering kali kita menjadikan pembenaran menjadi kebenaran, dan benar menjadi pembenaran, inilah yang selalu menjadi pemicu saat orang sedang bicara keyakinan. Mereka terlalu euphoria dengan keyakinya saat berbicara akhirnya mereka tak lagi sadar saat ia berdiri pada iklim yang berbeda.

                   Prinsip yang medasar bagi umat adalah keyakinan/iman tak di batasi oleh ruang dan waktu, tapi ingat satu hal bahwa mengkomunikasikanya harus kita mengunakan pendekatan umum, itu mengapa? karena jika kita menjelaskan secara totalitas tentang keyakinan kita mengunakan cirri khas keyakinan kita secara pribadi, serta ajaran kita sekalipun maka jangan salahkan orang jika ia menanggapimu dengan keras, karena mereka akan merasa bahwa keyakinanya tidak di selaraskan dengan keyakinamu, dan kemungkinan ia akan bilang ini doktrin agamawan jiak totalitas keyakinan dalam hal ini agama kita jelaskan kepada seiman kita nah ini jauh lebih bagus, itu tidak soal. Kembali pada diri masing-masing bahwa keyakinan adalah mutlak adanya kebenaranya dalam diri manusia, nyata adanya, tapi tidak bisa di general bahwa mutlak secara pribadi menurut kita, itu juga mutlak bagi orang lain, maka caranya adalah pakailah bahasa umum untuk menjelaskan kebaikan kepada mereka, di sinilah fungsi bahasa yang beretika di gunakan. Beragama sesungguhnya tak sekedar di yakini secara pribadi tapi juga di junjung tinggi tentang keselamatn bagi manusia-manusia lainya, karena bicara keyakinan berarti kita membicarakan hak yang paling asasi.

                   Terlepas dari etika bahasa, aku kemudia mengingat kembali tentang karya terbesar yang di anugerahkan Sang Mahakarya adalah “Akal budi”, aku bangga dan mau bilang inilah sesungguhnya CPU manusia, di dalmnya terdapat sofwere tentang aplikasi-aplikasi yang akan di tampakkan manusia dalam hidup, baik buruk itu ada di dalamnya, pertanyaanya adalah apakah semuanya akan di gunakan? Jawabanya tentu ia kabaikan akan menutupi keburukanmu maka selalulah menekankan kebaikan selagi anda masi bisa menyadari tentang hakikat hidup bahwa manusia akan berdosa jikalau melanggar kuasa Tuhan saat melakukan keburukan-keburukkan di dunia, ini jelas batasanya maka mengapa kita enggan melakukan kebaikan.

                   Saya sebagai bagian dari kuasa yang transenden itu tak mampu melakukan semua tuntutan hidup, tapi paling tidak aku sadar apa yang saya lakukan, ini yang paling penting juga kita lakukan. Sadar tentang komunikasi yang kita bangun dengan sesama umat yang berbeda agama itu sangat di butuhkan, sadar akan perbedaan itu akan menciptakan keindahan karena mereka terdiri dari corak yang berbeda-beda tapi saling mamahami, indah rasanya jika semunya kita sadar tentang hal ini. Maka konflik agama pun akan sirnah di muka bumi. Tapi ini nampaknya mustahil. Tapi inginya saya adalah paling tidak kita tidak menjadikan agama sebagai alat dominasi dengan mengorbankan isi-isi di dalamnya sebagai umpan untuk meyakinakan kepada orang lain bahwa akulah kebenaran. Kebenaran akan datang sendiri jika anda melakukanya dengan nurani yang adil tampa mengurangi kehormatan orang lain bukan kah ini yang kita impikan sesungguhnya’’? 

Peace
                   Maka dari itu melalu catatan singkat ini aku hanya ingin kita semua menciptakan kesadaran yang rasional bahwa kita bukanlah kebenaran melainkan pelaku kebenaran mungkin ini lah sedikit kalimat filsafat yang aku bisa petik. Bahwa kebenaran hanya ada pada diri kita sendiri dan kitalah yang memberinya makna. Soal itu di terimah oleh orang lain itu bukan kebenaran tapi itulah kesepakatan bahasa. Kita hanya bisa membuat benar sesuatu di depan umum, bukan kebenaran, ingin tau apa itu kebenaran? dia adalah kepercayaan itu sendiri. Maka jika ada orang bilang bahwa kebenaran itu ada di mana mungkin ia sedang di tipu dengan keyakinanya. Kalau Descartes (filsuf farancis) bilang hati hati dengan panca inderamu karena itu bisa menipumu, aku juga mau mengutip pernyataan kawan saya “hati-hati dengan keyakinamu karena itu bisa saja menipumu” (Ones HIhika, mahasiswa UKSW), dan aku juga mau bilang bahwa saat susatu yang di yakini sebagai kebenaran umum, dan ada orang yang menyangkalnya sebagai sesuatu yang di pertanyakan maka mari kita telusuri apakah benar itu kebenaran ataukah itu kesepakat bahasa.
                  
                   Berpijak pada bumi yang sama bicara pada keyakina yang berbeda tapi hidup dan mati tetap menghampiri kita semua, ini adalah sebuah ke agungan sang pencipta bahwa saaatnya kalian sadar bahwa sesungguhnya kita semua sama

Sunday, 12 August 2012



Hanya karena terlibat diskusi yang tak harus aku lakukan  tapi itu aku memaknainya sebagai kekeliruan maka aku tak ingin membiarkan saudaraku larut dalam kekeliruan yang sadar maka dari itu aku menitipkan pesan melalui mulut besarku, maka bacalah bibir saya
Mungkin saat ini tak ada manusia yang tidak berkeyakinan, saya memastikan itu,  keyakinan dalam hal ini yang saya maksudkan adalah keyakinan religius, Indonesia pun telah melegitimasi secara nasional 6 agama yang di akui, yaitu Islam, Kristen, Budha, Hindu, Kongfuchu. Hal ini saya bisa katakana bahwa tujuan utamanya dari kepercayaan tersebut adalah kepada Sang Pencipta, berbuat baik adalah kewajiabnya. Cuma dalam penafsiran tentang eksistensi manusia, baik itu dari proses penciptaan, dunia kahirat, pandangan hidup itu berbeda, tapi semuanya di wakili satu kata yang bijak yaitu tujuanya semua adalah “kebaikan”. Tapi pertanyaanya adalah mengapa konflik yang bernuasa agama acap kali terjadi di belahan dunia ini, termasuk di Indonesia satu teka teki tentang eksistensi Agama.
                   Mungkin menjelaskan hal ini bukanlah hal yang mudah, karena orang yang seiman saja masi saja sering berbeda pendapat, apa lagi berbeda keyakinan berbeda pendapat itu hal yang sudah pasti ada, tpi aku selalu meyakini satu hal bahwa memang manusia adalah mahkluk yang sangat tak terprediksi dan sangat kompleks untuk di pahami, dan bahkan tak akan pernah bisa di terukur apa batasanya tentang bangunan pemikiranya pada masing-masing individus ini suatu kewajaran, tapi di samping kerumitanya tapi sebanranya semua itu bisa di konsesnsuskan untuk bisa berdiri pada rel yang sama inilah komitmen.
Kemarin saya sempat terlibat dengan diskusi panjang yang boleh dikatakan tak akan bisa ketemu benang merahnya karena kita bicara pada topic yang sama tapi kita berdiri pada keyakinan yg berbeda, tpi anehnya beberapa di antara kami mengunakan keyakinanya sebagai kekuatan untuk menjadikan kebenaran umum, yah orang pasti tidak terimah lah karena di dalamnya terdiri keyakian yang beragam, sementara ada yang menjadikan keyakinanya sebgai patokan kebenaran, yah orang bisa perang lah tapi aku selalu berusaha tidak menanggapinya dalam perspektif agama tapi dengan segala kesadaranku aku menggagasnya dalam rana yang berbasis ilmu tapi pada akhirnya kebenaran yang kita ingin cari tak ada yang ada adalah pembenaran yang di akui sebagai kebenaran. Tapi terlepas dari itu aku Cuma belajar satu hal dari diskusi itu bahwa memang kita selalu terjebak dengan tiga hal yaitu “Benar, pembenaran, dan Kebenaran”, sering kali kita menjadikan pembenaran menjadi kebenaran, dan benar menjadi pembenaran, inilah yang selalu menjadi pemicu saat orang sedang bicara keyakinan. Mereka terlalu euphoria dengan keyakinya saat berbicara akhirnya mereka tak lagi sadar saat ia berdiri pada iklim yang berbeda.
                   Prinsip yang medasar bagi umat adalah keyakinan/iman tak di batasi oleh ruang dan waktu, tapi ingat satu hal bahwa mengkomunikasikanya harus kita mengunakan pendekatan umum, itu mengapa? karena jika kita menjelaskan secara totalitas tentang keyakinan kita mengunakan cirri khas keyakinan kita secara pribadi, serta ajaran kita sekalipun maka jangan salahkan orang jika ia menanggapimu dengan keras, karena mereka akan merasa bahwa keyakinanya tidak di selaraskan dengan keyakinamu, dan kemungkinan ia akan bilang ini doktrin agamawan jiak totalitas keyakinan dalam hal ini agama kita jelaskan kepada seiman kita nah ini jauh lebih bagus, itu tidak soal. Kembali pada diri masing-masing bahwa keyakinan adalah mutlak adanya kebenaranya dalam diri manusia, nyata adanya, tapi tidak bisa di general bahwa mutlak secara pribadi menurut kita, itu juga mutlak bagi orang lain, maka caranya adalah pakailah bahasa umum untuk menjelaskan kebaikan kepada mereka, di sinilah fungsi bahasa yang beretika di gunakan. Beragama sesungguhnya tak sekedar di yakini secara pribadi tapi juga di junjung tinggi tentang keselamatn bagi manusia-manusia lainya, karena bicara keyakinan berarti kita membicarakan hak yang paling asasi.
                   Terlepas dari etika bahasa, aku kemudia mengingat kembali tentang karya terbesar yang di anugerahkan Sang Mahakarya adalah “Akal budi”, aku bangga dan mau bilang inilah sesungguhnya CPU manusia, di dalmnya terdapat sofwere tentang aplikasi-aplikasi yang akan di tampakkan manusia dalam hidup, baik buruk itu ada di dalamnya, pertanyaanya adalah apakah semuanya akan di gunakan? Jawabanya tentu ia kabaikan akan menutupi keburukanmu maka selalulah menekankan kebaikan selagi anda masi bisa menyadari tentang hakikat hidup bahwa manusia akan berdosa jikalau melanggar kuasa Tuhan saat melakukan keburukan-keburukkan di dunia, ini jelas batasanya maka mengapa kita enggan melakukan kebaikan.
                   Saya sebagai bagian dari kuasa yang transenden itu tak mampu melakukan semua tuntutan hidup, tapi paling tidak aku sadar apa yang saya lakukan, ini yang paling penting juga kita lakukan. Sadar tentang komunikasi yang kita bangun dengan sesama umat yang berbeda agama itu sangat di butuhkan, sadar akan perbedaan itu akan menciptakan keindahan karena mereka terdiri dari corak yang berbeda-beda tapi saling mamahami, indah rasanya jika semunya kita sadar tentang hal ini. Maka konflik agama pun akan sirnah di muka bumi. Tapi ini nampaknya mustahil. Tapi inginya saya adalah paling tidak kita tidak menjadikan agama sebagai alat dominasi dengan mengorbankan isi-isi di dalamnya sebagai umpan untuk meyakinakan kepada orang lain bahwa akulah kebenaran. Kebenaran akan datang sendiri jika anda melakukanya dengan nurani yang adil tampa mengurangi kehormatan orang lain bukan kah ini yang kita impikan sesungguhnya’’?
                   Maka dari itu melalu catatan singkat ini aku hanya ingin kita semua menciptakan kesadaran yang rasional bahwa kita bukanlah kebenaran melainkan pelaku kebenaran mungkin ini lah sedikit kalimat filsafat yang aku bisa petik. Bahwa kebenaran hanya ada pada diri kita sendiri dan kitalah yang memberinya makna. Soal itu di terimah oleh orang lain itu bukan kebenaran tapi itulah kesepakatan bahasa. Kita hanya bisa membuat benar sesuatu di depan umum, bukan kebenaran, ingin tau apa itu kebenaran? dia adalah kepercayaan itu sendiri. Maka jika ada orang bilang bahwa kebenaran itu ada di mana mungkin ia sedang di tipu dengan keyakinanya. Kalau Descartes (filsuf farancis) bilang hati hati dengan panca inderamu karena itu bisa menipumu, aku juga mau mengutip pernyataan kawan saya “hati-hati dengan keyakinamu karena itu bisa saja menipumu” (Ones HIhika, mahasiswa UKSW), dan aku juga mau bilang bahwa saat susatu yang di yakini sebagai kebenaran umum, dan ada orang yang menyangkalnya sebagai sesuatu yang di pertanyakan maka mari kita telusuri apakah benar itu kebenaran ataukah itu kesepakat bahasa.
                  
                   Berpijak pada bumi yang sama bicara pada keyakina yang berbeda tapi hidup dan mati tetap menghampiri kita semua, ini adalah sebuah ke agungan sang pencipta bahwa saaatnya kalian sadar bahwa sesungguhnya kita semua sama

Monday, 6 August 2012

Siapakah Setan itu Sebenarnya?


              Tak ada kegiatan, suntuk di kamar,  terkadang membuat kita berpikir apa saja, berpikir dari hal-hal yang sederhana hingga pada hal-hal yang kompleks, smuanya bisa saja di jangkau pikiran saat kita dalam keadaan bosan inilah salah satu keagungan sebuah pikiran. Beginilah aku rasakan malam ini karena tak ada kegiatan kebetulan juga belum ngantuk, tiba-tiba muncul niat untuk menulis lagi, namun topic yang aku mau tulis saat ini adalah hala yang di anggap seram bagi kebanyakan orang, dia adalah “setan”. Bersifat tiba-tiba saja , terlintas dipikiranku tentang hal ini. Aku kemudian berdiskusi dengan pikiranku sendiri tentang eksistensi “setan”  dan pada akhirnya aku memunculkan pertanyaan Siapakah Setan itu sebenarnya..?

               Di Indonesia ada berbagai macam nama yang di kenal itu sebgai sosok setan, misalkan Pocong. Kuntilanak, Tuyul, Genderuwo, dan wujud-wujud lainya. Keberadaan mereka di pemahaman kebanyakan orang adalah mereka adalah mahluk yang menkutkan, seram, serta di anggap mengganggu kenyamanan beberapa warga. Di Indonesia  kehadiran mereka saat di saksikan oleh panca indera sering di beri nama sebgai “penampakan”. Dan mungkin saya bisa bilang bahwa 80% orang di Indonesia mengakui keberadaanya, namun adakah yang bisa menjelaskan secara rinci proses kemengaadaanya mereka yang kita kenal sebgai setan. Lalu asumsi pertama yang kita yakini bahwa ia adalah sosok yang menakutkan itu berkembang pertama di mana, hal ini hingga sekarng belum juga terjawab, semakin meenjadikan saya utnuk terus bertanya tentang “Setan “ ketika kita semua kembali mengingat tentang kepercayaan kita terhadap sang Mahakarya Tuhan, bahwa ia menciptakan dunia dengan segala isinya dan juga Sang Maha Kuasa, itu artinya mereka juga adalah ciptaanya, lalu pertanyaanya adalah apakah mungkin Jika Tuhan itu Mahakuasa, bagaimana mungkin setan telah memberontak melawan dia dan diambil kekuasaanya di bumi?, pasti di antara  kita juga sangat sering mendengar kalimat bahwa orang itu dukuasai oleh setan, mereka memuji setan, mengagungkan setan. Di dalam benakku aku hanya bilang bahwa sesungguhnya setan itu siapa..?

               Saat kita lagi bertemu teman-teman bercertita bersama, hal yang menyangkut  mahluk yang menakutkan  tersebut hal ini tak jarang luput dari pembicaraan juga. Anehnya juga orang kecenderungan lebih senang membeicarakan hal seperti ini di saat malam hari, mungkin bagiku ketika di bicarakan pada malam hari ini akan semakin menajadikan pembicaraan ,jauh lebih menegangkan dan menariik. Tapi saya tidak mengerti ketika bercerita tentang hal ini kita sudah merasa taku tapi tetap saja tertarik untuk membahasnya lebih jauh, ini berarti keberadaan mereka menjadi tanda Tanya besar bagi umat manusia karena menjadikan manusia penasaran tentang mereka.

               Dalam banyak perfilman yang menyangkut dengan setan, memang posisi setan pasti memerankan  lakon yang menakutkan bagi manusia, dan ada juga manusia dalam peranya di Film itu adalah, melawan setan, membasmi setan, yang selalu mengganggu ketenangan pada pemukiman manusia. Tak hanya di Indonesia orang bicara setan, di luar negeri pun demikian setan juga di akui keberadaanya, namun tak ada peneliti-peneliti dari luar pun yang mampu memberikan penjelasaan yang bisa di kaji secara ilmia tentang eksistensi setan. Setan hanya kita percaya sebagai Sesutu mahluk yang menakutkan termasuk saya jika bicara setan juga terkadang saya merasa takut, apalagi bicara tentang hal ini di daerah saya sendiri di Toraja saya juga sangat takut dengan setan, karena analogi tentang setan di beberapa tempat kan berbeda-beda juga, orang mengasumsikan setan itu juga bisa di akui dalam kebudayaan misalkan di tempat kelahiranku di Mamasa (Torajabarat) setan bisa berkeliaran saat ada orang yang melahirkan, ada orang yang kecelakaan bersimbah dara. Namun anehnya di toraja justru di kuburan penampakan tentang apa yang di yakini sebagai setan itu sangat jarang. Padahal di tempat lain yang menjadi objek untuk mencirikan setan adalah di kuburan.. mungkin sekian tentang rasa penasaranku tentang setan, terserah orang mau bilang saya adalah orang pemuja setan pengagum setan. Tapi aku Cuma mau bilang bahwa kekagumanku membahasa tentang setan karena aku tak mengerti asal usulnya tapi di keberadaanya di akui, dalam filsafat juga di katakana bahwa jika eksistensi Sesutu itu ada berarti ia dapat di jelaskan.