Sunday, 29 January 2012

MENGINTIP KEPRIBADIAN & KEBERSAMAAN MAHASISWA RANTAU MELALUI PERBANDINGAN PENGALAMANKU


Kembali lagi tangan ini berkarya, setelah beberapa bulan meninggalkan kebiasaan saya yaitu  menulis


Selamat membaca hati dan pikiran saya

Dipersembahkan kepada teman2 Kost Patimura 85 C & Teman angakatan progdi sosiologoi 09


Makna etis yang akan hadir

Dalam perkembangan jaman dari tahun ke tahun semakin memaksa kita untuk masing-masing membekali diri untuk bisa tetap tampil eksis dalam kompetisi kehidupan. Salah satu bekal yang cukup manjur yang digunakan dalam kompetis tersebut adalah pembekalan ilmu pengetahuan, yang itu bisa di dapat dari berbagai macam metode, salah satunya adalah di bangku pendidikan. Dimensi pendidikan ini memang sangat penting bagi generasi penerus dalam organisasi-organisasi sosial , itu alasanya bagi banyak orang berusaha untuk meperioritaskan pendidikan untuk tetap bisa membentengi keturunanya mereka, karena kenapa, ini lagi-lagi terkait dengan prospek untuk  tetap bisa bertahan hidup, dan juga tetap survaiv.

            Dalam pendidikan memang yang dituntut adalah mutu sebuah pendidikan, agar ini bisa menjadi basis stimulus mereka sebagai motto perubahan, hal ini jugalah yang mejadikan sebagian orang melakukan seleksi terhadap pilihan untuk mereka jadikan ruang share untuk pembekalan diri mereka, itulah yang menjadikan sebagian orang memilih untuk keluar daerahnya mereka, demi mengejar suatu makna yaitu mutu. Perlu ada pengakuan bahwa di dalam pencarian bekal tersebut terjadi persaingan intelektual yang cukup kritis, namun persaingan tersebut di bawa iringan nilai-nilai normatif yang bersifat formal. Tetapi dari persaingan tersebut yang juga menjadi sebuah eksperimen terhadap apa yang sudah kita raih dari bangku pendidikan tersebut.

            Sebuah ruang share tersebut yang disebut dengan universitas, kini menyediakan berbgai macam penunjang pendidikan yang itu juga menjadi sebuah ruang di mana para mahasiswa membangun sebuah relasi dengan lingkungan akademik, mereka saling bertukar pikiran dengan pengalaman mereka masing,-masing yang itu sudah menjadi modal sosial mereka. Berangkat dari sebuah pengalaman menjadi seorang mahasiswa rantau, yang hidup berdampingan dengan orang-orang yang berbeda budaya. Dan pada akhirnya kita akan dipaksa oleh lingkungan untuk bisa membangun sebuah  integrasi dengan teman mahasiswa yang lainya, dan juga masyarakat setempat, lalu apa yang bisa kita maknai dalam hal tersebut, ini tidak lain sebagai tempat untuk melakukan sebuah pengenalan tentang keporibadan kita terhadap lingkungan terbaru. Hal ini terasa dalam pergumulan saya bahwa di situ jugalah saya sedikit mengerti tentang siapakah aku sebenarnya, sejauh mana saya melihat kualitas kepribadianku, ketika saya bisa membangun sebuah relasi yang etis dengan teman se akademik saya. Tidak hanya itu saat masyarakat melihat sosok saya dan mereka memberikan hasil pengamatanya tentang kepribadian saya dan kemudian saya rangkum dalam catatan-catan yang sebut sebagai diariy pengalaman. Penelian tersebut datang dalam waktu yang tak terduga dan juga tanggapan yang begitu beraneka ragam. Entah itu kritik apresiasi, pelajaran, semuanya saya hanya memberika satu makna saja itulah yang saya sebut proses pembentukan saya.

            Saya juga membayangkan pengalaman saudara yang lainya yang hidup di tempat rantau, bahwa pergumulan saya pun akan hadir dalam proses saudara-saudara, namun yang mungkin membedakan hanyalah respon terhadap pengalaman tersebut, tetapi setidaknya kita pasti menemukan paling tidak sejauh mana kemampuan kita mengelolah hal tersebut. Tetapi saya kembali lagi terhadap asumsi tentang keberadaan kita di tempat yang saya sebut rantau, bahwa tentunya kita semua punya pesan dari pertama kita melangka menuju ke tujuan tersebut, pastinya hal tersbut tidak terlepas dari peran orang tua, mereka memberikan kita berupa harapan yang akan memacu spirit kita dalam perjuangan tersebut. Entah itu kita pegang erat pesan tersebut atau nda itu kembali lagi kepada kepribadian si perantau tersebut, gagal dan berhasil adalah dua hal yang akan pasti hadir dalam kompetisi kehidupan tersebut, dua hal itu adalah konsekuensi terhadap apa yang kita lakukan. Jadi berpikirlah sebelum anda bertindak supaya konsekuensi yang ada raih adalah selalu baik.


Suka Duka
            Menjadi seorang mahasiswa bukanlah hal yang sulit, tetapi menyelesaikan status kemahasiswaan kitalah yang terkadang rumit, standar kelulusan mahasiswa di seluruh indonesia adalah  4 tahun itu syarat S1, lalu bagaimana jika melewati syarat tersebut, ini tentunya memunculkna pertanyaan yaitu mengapa terjadi demikian..???? hemmm tentunya jawaban yang akan diperoleh pasti beragam, bisa jadi kendala ekonomi, bablas dalam bergaul akhirinya lalai dalam perkuliahan, malas, dll. Apakah anda termasuk hehehe mudah-mudahan tidak, kalau saya si masuk yaitu malas tetapi nda terlalu kok...!!!! tetapi semua itu perlu lagi kita melakukan perenungan saat kita melakukan sesuatu, apalagi itu sudah melewati koridor tanggung jawab inti, ini yang seharusnya selalu di ingat bahwa sebgai mahasiswa rantau tanggugng jawab yang di genggam begitu besar, itu alasanya kita harus selau jelih dalam memilah apa yang seharusnya dilakukan, kira-kira ini tidak berdampak buruk dengan tujuan utama kita sebagai mahasiswa.

            Memang perlu juga ada pengakuan bahwa beberapa mahasiswa terlambat dalam menyelesaikan studinya oleh karena desakan ekonomi yang kurang memadai, sehingga si mahasiswa kulianya benar-benar sangat dikondisikan oleh finansial (uang), sepengalaman saya dengan membangun relasi di antara teman-teman mahasiswa,  kebanyakan mahasiswa yang kurang mendukunga ekonominya di level mahasiswa, justru mereka yang memiliki skil akademik yang luar biasa, ini menjadi sebuah kendala besar juga bagi sebgaian mahasiswa, jika di satu sisi secara intelektual mereka bisa namun  karena terkendala dengan keuangan akhirnya studinya terkadang tersendat. Tetapi sejauh ini di dalam pergumulan saya teman-teman yang justru keadaan seperti demikian justur mereka lebih cenderung menujukan motivasi yang sangat “eksklusif” tetapi bermakna, di sinilah aku kembali sadar bahwa ternyata uang bukanlah persoalan yang teralu serius, akal masi ada pada posisi yang tertinggi dalam proses kompetisi kehidupan.

            Tetapi suka duka yang berlaku hampir secara universal di kalangan mahasiswa adalah saat tanggal tua tiba, di mana masa-masa ini isi kantong pasti sunyi, apalgi jika kita tidak pandai mengatur keuangan pastinya kesulitan juga, jika suda melawati tanggal 20 ke atas pastinya mahasiswa suda mulai menyisip ke maisng-masing saku celananya kira-kira masi ada rece, kumpulin koin satu per satu paling tidak untuk semangkok indo mie, atau kah 2 lauk sejoli tahu tempe hehehe,, tetapi jika mahasiswa punya langganan tersendiri enak kan bisa ngutang tanggal muda baru bayar. Sunggu  suka duka yang sangat asik jika itu dapat terlewati. Tetapi satu makna kebaikan dari teman2 ketika mereka masi bisa membagi mereka punya sisa uang jika mereke masi punya, disitulah saya juga menemukan bahwa benar bahwa kitalah mahluk yang paling sempurna di antara mahkluk yang lain. Rasa ingin berbagai dalam pergumulan tersebut sangat tampak, apalagi teman 1 kost ataukah kontrakan, pastinya solidaritas benar-benar terbangun kesan-kesan seperti inilah yang pertama kali selalu mewakili cerita-cerita mahasiswa saat mereka melepaskan titelnya sebagai mahasiswa, sungguh sebuah kebersamaan yang sangat indah dan sulit terlukiskan di pengalaman-pangalaman yang lain. Saat saya menggagas tulisan ini saya sangat kagum dengan pengalaman yang saya lalui bersama dengan teman-teman se akdemikq dan juga teman kost PATIMURA 85 C (kalian adalah saudara terbaruku yang sangat baik)..

Akhir kata dari tulisan ini adalah railah cita-cita mu seuai dengan harapan mu, dan peganglah kunci kepribadian mu saat engkau berjuang sehingga tidak mudah terjatuh dalam kompetisi kehidupan. Semoga teman-teman mahasiswa yang membaca tulisan ini, menjadi mahasiswa yang benar-benar kritis inovatif dan terampil, salam perjuangan teman-teman. 

No comments:

Post a Comment