Saturday, 7 April 2012

PANDANGAN UMUM TENTANG PEREMPUAN DALAM RELASI JENDER



A.     Pengertian Perempuan dalam relasi jender
Sebelum membicarakan tentang perempuan dala relasi jender , terlebih dahulu penulis menyampaikan  tentang  arti  perempuan  dan  relasi jender. 


            Dalam  Kamus  Bahasa  Indonesia  disebutkan,  perempuan  adalah  orang  (manusia)  yang  mempunyai  puka,  dapat  menstruasi,  hamil, melahirkan anak dan menyusui. Sedangkan wanita adalah perempuan dewasa. Dari  sini  dapat  diketahui,  bahwa  perempuan  adalah  manusia  yang mempunyai  puka  tidak  dibedakan  umurnya.  Tetapi  kalau  wanita    adalah perempuan yang sudah mencapai dewasa.
Sedangkan  jender,  mulai  diperbincangkan  manusia,  ketika  ada  salah satu  perubahan  yang  paling  mencolok  dalam  hal  kemanusiaan  pada    80-an adalah  timbulnya  isu  jender  sebagai  kategori  analisis.  Dalam  kebangkitan  kritisisme  feminis,  jender  telah menjadi sebuah kesadaran sebagai penentu yang sangat krusial dalam produksi, sirkulasi, dan konsumsi wacana kesusasteraan.

Teori  jender  mulai  berkembang  sejak  awal  80-an  dalam  pemikiran feminis  baik dalam  bidang  sejarah,    antropologi,      filsafat,    psikologi  dan  ilmu alam  dengan  membuat  peralihan  (perubahan)  dari  investigasi  yang  berfokus pada  perempuan  pada  tahun  70-an;  seperti  investigasi  tentang  sejarah perempuan, gynocriticism dan  psikologi  perempuan,  kepada  studi relasi  jender ,yang melibatkan  perempuan  dan  laki-laki. Perubahan  paradigma  itu  membawa pengaruh  yang  sangat  radikal  yang  tertransformasi  pada  beberapa  disiplin kajian tentang perempuan. Dari sini dapat dilihat bahwa “jender” termasuk hal yang masih baru. Berbicara  tentang  jender  berarti  berbicara  tentang  laki-laki  dan perempuan. Pengertian  tentang  jender  itu  sendiri  masih  belum  mencapai kesepakatan  resmi.  Sementara  kata  “jender”  berasal  dari  bahasa  Inggris, “gender”, berarti “jenis kelamin. Arti    demikian  sebenarnya  kurang  tepat, karena  disamakan  dengan  sex  yang  berarti  jenis  kelamin  Hal  ini  karena  kata jender  termasuk  kosa  kata  baru,  sehingga  belum  ditemukan  di  dalam Kamus Bahasa Indonesia. Tetapi kendatipun demikian, istilah tersebut biasa digunakan di kantor Menteri Urusan perempuan, dengan ejaan “jender”. Jender diartikan sebagai interpretasi mental dan kultural terhadap perbedaan kelamin, yakni laki-laki  dan  perempuan.  Jender  biasanya  digunakan  untuk  menunjukkan pembagian kerja yang dianggap tepat bagi laki-laki dan perempuan. Ann  Oakley,  salah  seorang  feminis  pertama  dari  Inggris,  yang menggunakan  konsep  jender,  mengatakan  bahwa,  ”Jender”  adalah  masalah budaya, merujuk kepada klasifikasi sosial dari laki-laki dan perempuan menjadi maskulin  dan  feminin,  berbeda  karena  waktu  dan  tempat.  Sifat  tetap  dari  jenis kelamin harus diakui, demikian juga sifat tidak tetap dari gender” .

Dari  sini  dapat  disimpulkan  bahwa  jender  tidak  memiliki  asal  usul biologis.  Hubungan  antara  jenis  kelamin  dan  jender  tidak  benar-benar “alamiah”.  Ann  Oakley  menambahkan  bahwa,  jender  adalah  perbedaan  yang bukan  biologis  dan  bukan  kodrat  Tuhan.  Perbedaan biologis,  yaitu  perbedaan jenis  kelamin  yang  bermuara  dari  kodrat  Tuhan,  sementara  jender  adalah perbedaan yang bukan kodrat Tuhan, tetapi diciptakan oleh kaum laki-laki dan perempuan, melalui proses sosial dan budaya yang panjang. Jender mengacu ke peran perempuan dan laki-laki yang dikonstruksikan secara  sosial.  Peran  tersebut    berubah  dari  waktu  ke  waktu  dan  beragam menurut budaya dan antarbudaya. Sebaliknya, identitas sex biologis ditentukan oleh ciri-ciri genetika dan anatomis Sementara  H.T.Wilson berpendapat  bahwa,  jender  merupakan  suatu dasar  untuk  menjelaskan  tentang    bagaimana  sumbangan  laki-laki  dan perempuan dalam masalah kebudayaan dan kehidupan bersama, yang berakibat ia menjadi laki-laki atau perempuan. Jender adalah seperangkat peran, seperti halnya  kostum  dan  topeng  di  teater,  menyampaikan  kepada  orang  lain  bahwa termasuk feminin atau maskulin.

Dari  beberapa  definisi  tersebut,    dapat  disimpulkan  bahwa,  jender adalah konsep yang melihat peran laki-laki dan perempuan dari segi sosial dan budaya,  tidak  dilihat  dari  jenis  kelaminnya.    Sedangkan  relasi  jender, mempersoalkan  posisi  perempuan  dan  laki-laki  dalam  pembagian  sumberdaya dan  tanggung  jawab,  manfaat,  hak-hak,  kekuasaan  dan  previlese.  Penggunaan relasi jender sebagai suatu kategori analisis tidak lagi berfokus pada perempuan yang dilihat terisolasi dari laki-laki.


B.     Jender dan Sex
Dahulu,  pada  masyarakat  primitif,  orang  belum  banyak  tertarik  untuk membedakan  sex  dan  jender,  karena  persepsi  yang  berkembang  di  dalam masyarakat  menganggap  perbedaan  jender  (gender  differences)  sebagai  akibat perbedaan  sex  (sex  differences).  Pembagian  peran  dan  kerja  secara  seksual dipandang  sesuatu  hal  yang  wajar.  Akan  tetapi,  dewasa  ini  disadari  bahwa, tidak mesti perbedaan sex menyebabkan ketidakadilan jender (gender inequality). Dalam  wacana  feminis  term  jender  telah  digunakan beberapa  tahun  yang  lalu  dalam  bidang  makna  sosial,  budaya,  dan  makna psikologis  untuk  menentukan  identitas  sexual  biologis. 

Secara umum Gender digunakan untuk mengidentifikasi perbedaan laki-laki  dan  perempuan  dari  segi  sosial-budaya,  sedangkan sex  digunakan  untuk mengidentifikasi perbedaan laki-laki dan perempuan dari segi anatomi biologi.  Istilah sex lebih banyak berkonsentrasi kepada aspek  biologi  seseorang, meliputi  perbedaan  komposisi  kimia  dan hormon dalam tubuh, anatomi fisik, reproduksi, dan karakteristik biologi lainnya. Sementara itu, jender lebih banyak berkonsentrasi  kepada  aspek sosial,  budaya,  psikologis,  dan  aspek-aspek  non biologis lainnya. Sex  atau  jenis  kelamin  adalah  perbedaan  biologis  antara  laki-laki  dan perempuan.  Perbedaan  jenis  kelamin  berkenaan  dengan  kenyataan  bahwa  laki-laki memproduksi sperma, sementara perempuan melahirkan dan menyusui   anak.  Laki-laki  dan  perempuan  mempunyai  tubuh  yang  berbeda, hormon  yang    berbeda,  dan  kromosom  yang  berbeda.  Perbedaan  jenis  kelamin atau  sex adalah  sama di semua negara, dan merupakan fakta  mengenai  biologi  manusia, tetapi, kata “jender” digunakan untuk mengenali menjadi laki-laki atau menjadi perempuan tidak sama dari satu budaya ke budaya yang lain. Jender  menjelaskan  semua  atribut,  peran  dan  kegiatan  yang  terkait dengan “menjadi laki-laki” atau “menjadi perempuan”. Jender berkaitan dengan bagaimana dapat dipahami dan diharapkan untuk berfikir  dan bertindak sebagai.                       
                                                                                                                                               
Jender juga berkaitan dengan siapa yang memiliki kekuasaan. Semenjak  dahulu,  manusia  telah  mempunyai  kemampuan mengklasifikasikan  lingkungannya  menurut  simbol-simbol  yang diciptakan  dan  dibakukan  dalam  tradisi  dan  dalam  sistem  budayanya. Karena proses simbolisasi ini sangat terkait dengan sistem, budaya atau struktur  sosial  setiap  masyarakat,  perbedaan  jender  tidak  selalu bertumpu kepada perbedaan biologis. Istilah  jender  sekarang  telah  umum  digunakan  dalam  literatur  studi perempuan.  Namun  pembedaan  antara  jender  dan  sex  ini  bukan  tanpa persoalan,  misalnya  Maria  Mies  mengatakan  bahwa, sex  ataupun  sexualitas manusia tidak dapat dilihat semata-mata hanya sebagai masalah biologis. Fisiologi  manusia  sepanjang  sejarah  telah  dipengaruhi  dan  telah dibentuk oleh dimensi sosial budaya hubungan manusia. Demikian  juga,  kaum  feminis  radikal  mengatakan  bahwa,  pemisahan istilah  sex  dan  jender  melahirkan  klasifikasi  yang  seolah-olah  dapat  memberi batasan  tajam  antara  apa  yang  biologis  dan  apa  yang  sosial/kultural.  Hal  ini tampak  dengan  jelas  dalam  konsep  sexualitas  di  mana  sesuatu  yang  oleh kebanyakan  orang  dianggap  sebagai  hal  yang  biologis,  alamiah  dan  instinktif. Dalam  berbagai  studi  yang  dilakukan  orang  ternyata  sangat  dibentuk  oleh konteks sosial politik yang berlaku pada zaman tertentu. Dari  penjelasan  tersebut  di  atas,  kiranya  sangat  jelas  bahwa,  jender  dan sex  sangat  berbeda.  Jender  dapat  berubah,  sedangkan  sex  adalah  bersifat biologis, yang tidak mungkin diadakan perubahan.

C.     Jender dan Perempuan
Perempuan secara langsung menunjuk kepada salah satu dari dua jenis kelamin, meskipun di dalam kehidupan sosial selalu dinilai sebagai the other sex  yang  sangat  menentukan  mode  sosial  tentang  status  dan  peran  perempuan. Marginalisasi  perempuan  yang  muncul  kemudian  menunjukkan  bahwa perempuan  menjadi the  second  sex, seperti  juga  sering  disebut  sebagai “warga kelas dua” yang keberadaannya tidak begitu diperhitungkan. Pembahasan tentang perempuan sebagai suatu kelompok memunculkan sejumlah kesulitan. Konsep “Posisi perempuan” dalam masyarakat memberi kesan  bahwa,  ada  beberapa  posisi  universal  yang  diduduki  oleh  setiap perempuan  di  semua  masyarakat.  Kenyataannya  bahwa,  bukan  semata-mata tidak  ada  pernyataan  yang  sederhana  tentang  “Posisi  perempuan”  yang universal,  tetapi  di  sebagian    besar  masyarakat  tidaklah  mungkin memperbincangkan  perempuan  sebagai  kelompok  yang  memiliki  kepentingan bersama.  Perempuan  ikut  andil  dalam  stratifikasi  masyarakat.  Ada  perempuan kaya,  ada  perempuan  miskin,  dan  latar  belakang  kelas  kaum  perempuan mungkin  sama  penting  dengan  jendernya  dalam  menentukan  posisi  mereka  di masyarakat.
Dalam    masyarakat  multikultural,  latar  belakang  etnis  seorang perempuan, bahkan mungkin lebih penting daripada kelas. Istilah  jender  juga  berguna,  karena  istilah  itu  mencakup  peran  sosial kaum perempuan  maupun laki-laki.  Hubungan  antara laki-laki  dan perempuan seringkali  amat  penting  dalam  menentukan  posisi  keduanya.  Demikian  pula, jenis-jenis  hubungan  yang  dapat  berlangsung  antara  perempuan  dan  laki-laki akan  merupakan  konsekuensi  dan  pendefinisian  perilaku  jender  yang semestinya dilakukan olah masyarakat 

D.     Jender antar kultural
Struktur  sosial  masyarakat  yang  membagi-bagi  antara  laki-laki  dan perempuan  seringkali  merugikan  perempuan.  Perempuan  diharapkan  dapat mengurus  dan  mengerjakan  berbagai  pekerjaan  rumah  tangga,  walaupun mereka bekerja di luar rumah tangga, sebaliknya tanggungjawab laki-laki dalam mengurus rumah tangga sangat kecil. Sebagian masyarakat beranggapan bahwa, tugas-tugas kerumahtanggan dan  pengasuhan  anak  adalah  tugas  perempuan,  walaupun  perempuan  tersebut bekerja.  Ada  batasan  tentang  hal  yang  pantas  dan  tidak  pantas  dilakukan  oleh laki-laki  ataupun  perempuan  dalam  menjalankan  tugas-tugas  rumah  tangga. Perempuan  kurang  dapat  mengembangkan  diri,  karena  adanya  pembagian tugas  tersebut.  Peran  ganda  laki-laki  kurang  dapat  diharapkan  karena  adanya idiologi tentang pembagian tugas secara seksual.  Dalam  setiap  masyarakat,  peran  laki-laki  dan  perempuan  mempunyai perbedaan.  Perbedaan  yang  dilakukan  mereka  berdasar  komunitasnya,  status maupun  kekuasaan  mereka.  Perbedaan  perkembangan  peran  jender  dalam masyarakat    disebabkan  oleh  berbagai  faktor,  mulai  dari  lingkungan  alam, hingga  cerita  dan  mitos-mitos  yang  digunakan  untuk  memecahkan  teka-teki perbedaan jenis kelamin.
Dalam  masyarakat  terdapat    bermacam-macam  kerja  yang  dilakukan oleh  laki-laki  dan  perempuan.  Pembagian  kerja  tersebut  berdasarkan  jender (gender  division  of  labour). Misalnya,  di  dalam  masyarakat  primitif,  menurut antropolog  Ernestine  Friedl,  seperti  yang  dikutip  Budiman,  bahwa  perempuan lebih penting dari laki-laki.  Pada  masyarakat  primitif,  ketika  manusia  masih  hidup  mengembara dalam  kelompok  kecil,  bahaya  yang  paling  ditakuti  adalah  musnahnya kelompok,  yang  disebabkan  matinya  anggota  kelompok.  Karena  itu,  jumlahnya harus diperbesar dengan  cara memperbanyak lahirnya bayi-bayi, tetapi jumlah anak yang lahir masih terbatas. Untuk itu laki-laki banyak dikorbankan, dengan pergi  ke  medan  perang  dan  berburu,  yang  mana  pekerjaan  tersebut  dapat membahayakan  nyawa,  maka  muncullah  pembagian  kerja  berdasarkan  seks. Perempuan bekerja di dalam rumah, laki-laki bekerja di luar.  Sedangkan  di  masyarakat  Mbuti  di  Afrika,  dan  masyarakat  Bali, memiliki  peran  jender  yang  tumpang  tindih.  Di  kalangan  orang  kerdil  dalam berburu dan dalam pengasuhan anak dilibatkan laki-laki dan perempuan.  Sementara  di  kalangan  orang  Ambara,  normanya  ayah  jarang menyentuh  anak-anaknya  selama  dua  tahun  pertama,  dan  setelah  dua  tahun pertama, mengharapkan kepatuhan sepenuhnya dari anak-anaknya. Dari  sini  dapat  diamati  bahwa,  peran  perempuan  dan  laki-laki  adalah buatan  atau  ciptaan  masyarakat.  Untuk  itu  dapat  diubah,  seperti  masyarakat primitif  berlaku  demikian,  karena  adanya  keperluan  untuk  melestarikan kelompoknya. Tetapi dewasa ini, karena sudah tidak diperlukan, peran laki-laki dan  perempuan  akan    berubah.  Perubahan  tersebut,  melalui  proses  sosialisasi penjenderan,  harus  berlangsung  terus  menerus,  dan  dilaksanakan  di  dalam keluarga dan masyarakat. 

E.     Kesimpulan
Dari paparan di atas kesimpulan yang bisa di tarik adalah bahwa jender bukanlah persoalan biologis, apa lgi jika ingin dikatakan bahwa ini adalah kodrat Tuhan. Tetapi jender adalah hasil konstruksi social yang dibuat oleh laki-laki dan perempuan itu sendiri dalam waktu yang cukup panjang. Ann  Oakley,  salah  seorang  feminis  pertama  dari  Inggris,  yang menggunakan  konsep  jender,  mengatakan juga  bahwa,  ”Jender”  adalah  masalah budaya, merujuk kepada klasifikasi sosial dari laki-laki dan perempuan menjadi maskulin  dan  feminin,  berbeda  karena  waktu  dan  tempat.  Sifat  tetap  dari  jenis kelamin harus diakui, demikian juga sifat tidak tetap dari gender” .  dari defenisi inilah bisa dikatakan bahwa femenisme adalah sebuah alat untuk menganalisis dan untuk melihat permasalahn social, yang mengarah kepada transformasi masyarakat. Posisi feminis dalam hal ini adalah ingin membantu melihat adanya bentuk ketimpangan perilaku baik yang bersifat structural maupun cultural melalui system pemikiran yang menyeluruh. Sehingga feminism dapat di anggap sebagai cara pandang yang berusah membedah dan menyelesaikan persoalan social, serta tindakan sadar antara perempuan dan laki-laki dalam merubah keadaan.





Daftar Pustaka
Ratna Megawangi,  Membiarkan Berbeda ? Sudut Pandang Baru tentang Relasi Gender (Mizan Bandung 1999)
Nani Soewondo, Kedudukan Wanita Indonesia dalam Hukum dan Masyarakat  (Ghalia 1994)
www.angelinasondakh.com/nsroom/artikel/feminisme-perjuangan.pdf

No comments:

Post a Comment