Tuesday, 28 February 2012

GAGALNYA PENERAPAN ETIKA MODERNISASI DI MAMASA


(Paradigma Budaya)

Boleh saja Anda melihat apa yang tidak Anda inginkan kerena ini memperjelas Anda utnuk berkata “inilah saya inginkan”. Tetapi kenyataanya, semakin anda membicarakan apa yang tidak Anda inginkan atau membicarakan bagaimana buruknya hal itu, atau selalu membaca segala sesuatu tentangnya, anda menciptakan lebih banyak hal yang tidak anda inginkan, maka itu bacalah yang kami tidak inginkan ini

Masyarakat yang kebudayaanya diwarnai oleh tradisionalisme cenderung untuk menengok ke masa yang lampau apabila harus memecahkan sebuah masalah dalam hidupnya. Tradisi, atau kalu di indonesia lebih umum dikenal dengan isitilah adat, menjadi pedoman dalam mengatur tata hidupnya, baik tata hidup dalam keluarga di dalam masyarakat, dalam hubunganya dengan orang-orang lain dari luar masyarakatnya.  Dengan pegangan pada adat maka masyarakat dapat mengatur kehidupanya dengan mantap dan kuat sehingga kehidupan itu menjadi stabil. Adat itu menjadi bertambah kuat oleh karena menurut pendapat masyarakat mengandung “restu” dari para leluhurnya baik yang masi ada dalam dunia fana maupun yang sudah pindah ke dunia baka. Lebih kuat logika karena adat dipahami, dihayati dan diamalkan oleh semua anggota masyaraka. Oleh karena itu tidak mengherankan kalu adat itu sukar sekali diubah atau diganti dengan unsur-unsur kebudayaan lain. Padahal ada unsur-unsur adat yang tidak dapat dipertahankan apabila masyarakat hendak membangun ekonominya sesuai dengan dalil-dalil ekonomi modern.

                Lalu jika dalil ini dibangun dengan mengunakan pemahaman kebudayaan yang diwarnai dengan tradisionalisme, Mamasa tepatnya menjadi bagian dalil tersebut, perlu diakui sebagai putra/putri daerah, bahwa benar Mamasa adalah daerah yang sangat homogen, tingkat akulturasi, asimilasi, belum menjadi sebuaha tantangan, di daerah tersebut. Mamasa dalam tatanan sosia yang terbangun sangat kental dengan adat istiadat. Lalu pertanyaan yang akan muncul jika hipotesis ini benar, adalah apakah kita sebagai putra/putri daerah Mamasa telah memanfaatkan dalil kebudayaan sebagai salah satu indikator pembangunan, atau dalam hal ini dikenal dengan proses ketahanan sosial, jika ia apa kontribusi pembanguna yang telah diberikan, jika tidak mengapa..?, pertanyaan mendasar ini sangatlah patut untuk dikaji bersama, agar ini menjadi sebuah catatan penting bagi proses pembanguna di Mamasa. saya membayangkan jika benar-benar kita mengamalkan nilai adat-istiadat dalam kedaerahan, taka terpungkiri akan tercipata sebuah komunitas  masyarakat yang kokoh dan punya integritas yang berwibawa.

                Karena tulisan ini lebih mengarah pada proses transformasi, maka penulis mencoba mengidentifikasi berbagai fenomena sosial yang terjadi dalam beberapa dasawarsa terakhir ini. Di antaranya proses transformasi kultur, sistem tata ruang (masyarakat, pemerintah, masyarakat adat). Hasil amatan saya selama hidup dibawa kebudayaan Mamasa, benar-benar tidak saya sia-siakan, meskipun harus ada pengakuan bahwa selama ini saya hanya penonton, dan juga menjadi “korban transformasi” yang keliru. Kenapa saya mengatakan demikian ini tidaklah cukup jika saya hanya menjelaskan dalam sisi tertentu, tetapi saya akan menggagasnya dari berbagai macam sisi, yang dalam hal ini adalah indikator pembangunan, baik itu pembangunan kemanusian. Kesejahteraan, sumberdaya, dan yang lebih penting adalah nilai sebuah kebudayaan. Masyarakat Mamasa telah membuktikan bahwa dasar kedaerahan dibanguna di Mamasa dengan asas UU, yaitu di bawah sub sistem pemerintahan, mulai dari sentra Kabupaten, Kecamatan, dan Desa/lurah, yang didalamnya beranggotakan masyarakat, ketika masyarakat telah menyatu dalam sebuah sistem kebijakan maka ia akan menjadi bagian yang tak terpisahkan dengan kebijakan tersebut, meskipun itu tidak ada kesepakatan awal.

                Sekilas Transformasi yang Keliru

Sejak berdirinya Mamasa menjadi kabupaten, mata kepala dari berbagai masyarakat telah tertutuju bahwa kita akan menjadi daerah yang siap bersaing, dengan sedikit mengedepankan modal kebudayaan yang kita miliki, dan juga menjadi sebuah identitas pasti. Lalu apakah benar kita sudah siap bersaing, okey jika masyarakt di tanya pasti kebanyakan mengiakan, namun persoalanya apakah kita sudah memiliki modal sosial yang cukup untuk melakukan hal tersebut. Wujud kekecewaan saya selama ini saat, ruang-ruang sosial, yang seharusnya di isi oleh orang-orang yang matang dalam prospek pembangunan ternyata di isi dengan orang-orang yang hanya bermodal ijazah tok, yang kausalitasnya tidak jelas dari menakah ijazah itu. Orang yang dulunya saya kenal sebagai orang yang hanya mondar-mandir di daerah, sekarang telah mondar-mandir di kantoran, sehingga apa yang terjadi tentunya dia akan kecenderungan memraktekkan pengalaman selama belum masuk kantor, maka keonsekuensi logisnya adalah kantoran pun menjadi ajang permainan. Bukan berarti kita tidak bersyukur dengan adanya putera daerah yang telah mengabdi untuk masa depan daerah,  namun apalah artinya jika dia hanya hadiri sebagai icon saja, bahwa dia adalah seorang PNS. Ketika di tanya kinerja yang ia telah lakukan ia hanya menjawab saya telah melakukan apa yang ada dikertas, namun substansinya tidak ada, ini kan lucu. Lalu jika ini semua merambah pada keseluruhan sektor, baik itu ekonomi, pendidikan, politik, yang hanya di isi oleh modal ijazah tok tampa punya asas yang jelas bagaiman produk masyarakat selanjutnya jika terus menerus terjadi. Maka satu kesimpulan yang akan muncul yaitu regenerasi pembodohan secara sengaja.

                Kemudian kita coba tinjau dari sisi ekonomi, benar bahwa tingkat kemiskinan di daerah Mamasa tidaklah begitu tinggi jika dibandingka dengan daerah lain, tetapi perlu diketahui bahwa seharusnya Mamasa bebas dari kemiskinan, alasanya karena Mamasa sumberdaya manusia seimbang dengan kuantitas penduduk, maka tingkat ketergantungan di Mamasa tidak nampak. Tetapi persoalan ekonomi tidak haya sampai di situ saja, perlu kita ketahuai bahwa tingkat kemandirian masyarakat dalam mengembangkan kreativitas, juga adalah bagian dari model ekonomi, lalu apakah ini telah terpenuhi. Saya rasa sangat belum, ini kenapa karena memang pendidikan yang telah diperkenalkan melalui basis pengetahuan sudah tidak tepat. Ruang pendidikan yang seharusnya hadir sebagai salah satu basis perubahan dalam membangun karakter masyarakat, telah di nodai dengan pendidikan yang tidak sampai di atas rata-rata, maksudnya adalah pendidik hanya memindahkan isi buku kepada anak didik, selebihnya tentang analisis, terabaikan, lalu murid mau tau apa jika model pembelajaran yang seperti ini. Soal-soal seperti inilah yang menjadi indikasi tentang lambannya tingkat perekonomian di Mamasa.

                Lalu yang paling menarik adalah bidang politik, dunia mengakui bahwa keberhasilan sebuah negara ditentukan bagaimana strategi politik yang digunakan, untuk dapat selalu menjamin masyarakatnya tetap survive dalam negaranya. Ini artinya bahwa memang yang dibutuhkan hadir dalam bidang ini benar-benar orang yang mengerti tentang etika politik, karena yang didepan yang akan unjuk gigi adalah orang-orang tersebut, keitka orang politik telah keos, maka ini akan sangat berdampak buruk bagi keadaan komunitasnya. Maka yang sangat ditekankan dalam hal ini adalah ketepatan dalam mengambil sebuah keputusan untuk orang banyak, dengan memperhatikan kaidah-kaidah normatif yang ada, baik itu aturan yang telah di atur oleh negara, maupun aturan adat-istiadat. Jika terjadi sebuah pengabaian terhadap kaidah-kaidah normatif, maka kemungkinan besar komunitas akan mengalami distorsi atau  tumbang. Relasinya dengan eksistensi perpolitikan di Mamasa, benar-benar mengabaikan ke dua kaidah-kaidah tersebut, artinya bahwa kalau memang mengerti tentang sebuah nilai maka mereka akan ekstra hati-hati dalam merumuskan sesuatu yang menjadi agenda dalam masyarakat. Tetapi nyatanya elit-elit yang berdasi benar-benar tak menjadikah hal itu menjadi sebuah kesalahan yang fatal. Mungkin inilah yang disebut sebagai euforia politik praktis, saya hanya memahami satu hal bahwa orang yang tidak mendalami ilmu politik kecenderungan menerapkan politik praktis kira-kira seperti itulah yang terjadi di Mamasa. Keberanian saya dalam mengeluarkan hipotesis seperti ini karena dampak tersebut sempat aku rasakan, maka kalau ada yang bertanya apakah anda memiliki aras pembuktian, saya Cuma menjawab buktinya telah menjadi budaya di Mamasa, maka belajarlah dari pengalaman mu.

                Petualanga pemikiran saya tidak hanya sampai di sini, saya kemudian mencoba menganalsis tentang eksistensi kebudayaan yang dimiliki Mamasa, tidak salah lagi bahwa masyarakat Mamasa pada awalnya sangat kental adat-istiadatnya, hal ini terbukti dalam pengalaman saya saat mencoba jalan-jalan ketempat-tempat lain, di luar desaku, saya selalu saja menemukan mitos-mitos, yang hampir cirinya sama di tempat saya dan di daerah lain di wilaya Mamasa, dan itu dipraktekkan oleh kebanyakan orang tua, coba bahasa mitos kita gunakan berbicara dengan ABG, sekarang paling cap yang muncul adalah norak, kalu orang Jawa bilang “Wong Ndeso”  dan sudah dianggap usang, ini kan bentuk pergesaran paradigma, tentang sebuah identitas. Mungkin bisa dibenarkan bahwa mitos yang dulu sudah tidak relevan saat ini. Di tambah lagi hadirnya kepercayaan modern, yang kian mempengaruhi paradigma masyarakat tentang pandangan dunia. Semua ini kan indikator dari modernisasi yang keliru, saya tidak meletakkan kebudayaan dalam padangan jaman, bahwa karena ini sudah bukan lagi jaman batu (taradisional) maka sepantasnya nilai budaya tradisional pun harus ditinggalkan, dengan sepenuhnya mengacu kepada agama, atau  jika kita pinjam bahasanya Aguste Comte di sebut sebagai tahap positivistik. Saya meyakini satu hal tentang kepercayaan (Agama), bahwa salah satu  ukuran sebuah keberhasilan agama ketika ia bisa bersinergi dengan baik dengan, kebudayaan dalam sebuah masyarakat tampa terjadi reduksi nilai diantara keduanya. Lalu apa yang kita bisa bahasa terkait dengan budaya dalam tata ruang di Mamasa, seperti yang saya katakan tadi bahawa memang ada sebuah pergeseran paradigma terkait dengan kebudayaan, ini tidak hanya terjadi di kalangan generasi muda  yang sudah agak gengsi mewarisi komunikasi budaya, namun di tataran pemerintahan di Mamasa pun terjadi, kasus yang terjadi dipemerintahan tidak sama dengan paham yang terbangun di kalangan anak muda, yaitu gengsi, tetapi orang-orang elit  (pemerintah) telah melupakan  nilai adat istiadat, dengan mengedepankan euforia perpolitikan, akhirnya yang terjadi adalah pemerintah tidak lagi punya batasan dalam bertindak, berpikir dalam  mengambil sebuah kepututsan. Jika sebuah batasan tak lagi nampak maka sendi-sendi pembangunan dalam daerah akan terpengaruh, itu alasanya Mamasa hingga kini tidak pernah mencapai kesetabilan ekonomi, politik, apalagi SDM, karena aparatur yang berperan sebagai stimulus keliru dalam menginterpretasi sebuah perubahan, yang dalam hal ini adalah pemaknaan modernisasi.

Ingat bahwa pikiranmu adalah wakil dari gambaran kepribadianmu


No comments:

Post a Comment