Tuesday, 25 March 2014

Hegemoni Senior dalam Kegiatan Ospek


Kasus kekerasan yang dilakukan sekumpulan mahasiswa yang tergabung dalam tim ospek atau yang di sering di sapa senior angkatan, menjadi momok yang Nampak menakutkan bagi beberapa siswa yang baru lulus dari banguku SMA. Tindakan-tindakan kekerasan yang dilakukan terhadap adik-adik junior sangat beragam, mulai dari kekerasan fisik, mental bahkan ada yang sudah mengarah pada tindakan asusila. tiga bulan yang lalu kultur pendidikan kembali tercoreng dengan menyebarnya berita yang memilukan yang datang dari seorang mahasiswa baru di Surabaya, di mana mahasiswa tersebut bernama Fikri asal NTT  meninggal dunia akibat beberapa tindakan kekerasan yang menimpa dirinya pada saat ospek dilakukan oleh senior dari kampus ITN. Kejadian tersebut semakin memanas ketika beberapa foto yang berhasil di kumpulkan terlihat tindakan-tindakan senior yang memperlakukan gaya-gaya erotis terhadap maba perempuan dan juga kekerasan fisik. Bahkan menurut media yang meliput ada juga yang disuru oral dengan mengunakan buah wortel yang menyerupa alat kelamin pria, sungguh tindakan yang sangat memalukan yang dilakukan oleh kaum-kaum yang dikatakn orang yang sedang mengemban pendidikan.

                Senior dalam kultur akademik tidak lagi menjadi sebuah sapaan atas yang lebih di anggap tua dan di hargai, sebagaimana dalam kultur masing-masing daerah yang di luar dari bangku pendidikan  juga sering di di terapkan bahwa bagaimana kita menghargai yang lebih tua. Namun akhir-akhir ini  senior  di maknai menjadi sesuatu yang tinggi dan dominan dalam lingkungan kampus dan juga menjadi sebuah identitas baru bagi mahasiswa-mahasiswa senior untuk berbuat seenak perutnya terhadap mahasiswa baru. Beberapa tindakan-tindakan yang merusak citra pendidikan yang dilakukan oleh beberapa pelajar-pelajar ini menjadi trauma tersendiri bagi anak-anak yang ingin melanjutkan pendidikanya, dan ini terus di warisi setiap pergantian taun ajaran, jika mereka sebelumnya saat di ospek di sajikan dengan tindakan-tindakan yang kasar dan juga keras, maka mereka pun akan melakukan hal yang sama terhadap yang baru masuk dan inilah yang mungkin saya sebut ajang balas dendam.

                Meskipun sebelumnya hal itu penulis sudah smenyadari tentang beberapa kekerasan ospek dalam perguruan tinggi, tapi penulis tetap  berprinsip bahwa saya akan menolak dan memutuskan tidak kuliah di kampus manapun jika kampus tersebut menyajikan ospek yang mengutamakan ospek fisik, namun beruntung saya berhasil masuk di salah satu universitas swasta di Jawa tengah yang menyajikan ospek yang di luar yang saya tidak inginkan. Ospek yang saya dapatkan justru menjadi semangat baru saya  dalam mengembangkan potensi yang saya ingin kembangkan dalam pendidikan saya karena ospeknya menyentuh  pada aspek sosialisasi, seperti bersih-bersi kampung dan juga perkenalan bagi warga, pembinaan yang meskipun di lakukan di lapangan yang diselimuti terik matahari tapi tidak apa –apa yang penting kepala terisi karena memang ospek demikianlah yang sekiranya menyentuh di aras pendidikan. Dan di kampus yang ini juga sangat jarang mengunakan kata senior dan junior melainkan sapaan yang lebih akrab yaitu “Kak untuk yang senior sapaan  dek untuk yang masi junior” , kata ini sesungguhnya sama saja namun terkdang beberapa orang yang keliru memakni tentang senior ketika identitas ini dilekatkan kepad sesorang.

                Namun bukan berarti karena di kampus penulis kata ‘senior dan “junior” jarang digunakan akhirnya saya mengkritisi, tetapi karena saya menilai secara pribadi kata tersebut Nampak tidak etis dalam lembaga pendidikan. Dalam padangan penulis selain dalam ospek  dengan mengunakan kata senior ini sering kali mengungkung kemampuan bagi yang junior  dalam berbicara oleh karena yang senior selalu diposisikan sebagai yang tertinggi dan bahkan bisa jadi mengkalim dirinya yang selalu benar, sementara dalam lembaga pendidikan yang di utamakan adalah produktifitas berpikir, bukan sebuah identitas yang tidak jelas. Mungkin agak hiperbola jika saya katakana ini adalah ‘kasta’ yang dibangun oleh kultur pendidikan, tetapi memang nyatanya seperti demikian yang terjadi, faktalah yang meringankan penulis untuk berbicara demikian. Sangatlah tidak bijak jika ospek dalam lembaga pendidikan melampau ospek-ospek yng di gunakn oleh orang-orang militer saat pendidikan, jika militer menerapkan hal demikian tidaklah mengherankan karena memang itu adalah persyaratan untuk menguji stamina fisik dan juga mental. Tapi apa jadinya jika model tersebut di terapkan dalam lembaga pendidikan seperti kampus, ini sama sekali tidak sinkron dengan apa yang dicita-citakan lembaga pendidikan. Dalam penyelenggaran ospek yang dilakukan oleh senior mahsiswa yang tidak sesuai dengan syarat lembaga pendidikan misalkan di suruh lari di lapangan yang kapasitanya sebesar lapangan bola, dan itu dilakukan beberapa kali dan kecenderungan itu dilakuka di matahari yang panas, dan tidak disediakan air minum, lalu sisi apa yang di kemabangkan jika di korelasikan dengan pendidikan?,di botakin semabari di perintahkan oleh seniornya untuk pusap, lari, minum air di gelas kemudian di join ke beberap peserta ospek? Ada kaitan tidak dengan pendidikan ?, dan bayangkan jik hl ini terus di kembangkn dri genersi-ke generasi dan mengkar dalam kultur pendidikn kita maka berhenti kita bicara tentang pendidikan yang berbasis pengembangan pemikiran yang lebih maju.

Kasus kekerasan yang dilakukan sekumpulan mahasiswa yang tergabung dalam tim ospek atau yang di sering di sapa senior angkatan, menjadi momok yang Nampak menakutkan bagi beberapa siswa yang baru lulus dari banguku SMA. Tindakan-tindakan kekerasan yang dilakukan terhadap adik-adik junior sangat beragam, mulai dari kekerasan fisik, mental bahkan ada yang sudah mengarah pada tindakan asusila. tiga bulan yang lalu kultur pendidikan kembali tercoreng dengan menyebarnya berita yang memilukan yang datang dari seorang mahasiswa baru di Surabaya, di mana mahasiswa tersebut bernama Fikri asal NTT  meninggal dunia akibat beberapa tindakan kekerasan yang menimpa dirinya pada saat ospek dilakukan oleh senior dari kampus ITN. Kejadian tersebut semakin memanas ketika beberapa foto yang berhasil di kumpulkan terlihat tindakan-tindakan senior yang memperlakukan gaya-gaya erotis terhadap maba perempuan dan juga kekerasan fisik. Bahkan menurut media yang meliput ada juga yang disuru oral dengan mengunakan buah wortel yang menyerupa alat kelamin pria, sungguh tindakan yang sangat memalukan yang dilakukan oleh kaum-kaum yang dikatakn orang yang sedang mengemban pendidikan.

                Senior dalam kultur akademik tidak lagi menjadi sebuah sapaan atas yang lebih di anggap tua dan di hargai, sebagaimana dalam kultur masing-masing daerah yang di luar dari bangku pendidikan  juga sering di di terapkan bahwa bagaimana kita menghargai yang lebih tua. Namun akhir-akhir ini  senior  di maknai menjadi sesuatu yang tinggi dan dominan dalam lingkungan kampus dan juga menjadi sebuah identitas baru bagi mahasiswa-mahasiswa senior untuk berbuat seenak perutnya terhadap mahasiswa baru. Beberapa tindakan-tindakan yang merusak citra pendidikan yang dilakukan oleh beberapa pelajar-pelajar ini menjadi trauma tersendiri bagi anak-anak yang ingin melanjutkan pendidikanya, dan ini terus di warisi setiap pergantian taun ajaran, jika mereka sebelumnya saat di ospek di sajikan dengan tindakan-tindakan yang kasar dan juga keras, maka mereka pun akan melakukan hal yang sama terhadap yang baru masuk dan inilah yang mungkin saya sebut ajang balas dendam.

                Meskipun sebelumnya hal itu penulis sudah smenyadari tentang beberapa kekerasan ospek dalam perguruan tinggi, tapi penulis tetap  berprinsip bahwa saya akan menolak dan memutuskan tidak kuliah di kampus manapun jika kampus tersebut menyajikan ospek yang mengutamakan ospek fisik, namun beruntung saya berhasil masuk di salah satu universitas swasta di Jawa tengah yang menyajikan ospek yang di luar yang saya tidak inginkan. Ospek yang saya dapatkan justru menjadi semangat baru saya  dalam mengembangkan potensi yang saya ingin kembangkan dalam pendidikan saya karena ospeknya menyentuh  pada aspek sosialisasi, seperti bersih-bersi kampung dan juga perkenalan bagi warga, pembinaan yang meskipun di lakukan di lapangan yang diselimuti terik matahari tapi tidak apa –apa yang penting kepala terisi karena memang ospek demikianlah yang sekiranya menyentuh di aras pendidikan. Dan di kampus yang ini juga sangat jarang mengunakan kata senior dan junior melainkan sapaan yang lebih akrab yaitu “Kak untuk yang senior sapaan  dek untuk yang masi junior” , kata ini sesungguhnya sama saja namun terkdang beberapa orang yang keliru memakni tentang senior ketika identitas ini dilekatkan kepad sesorang.


                Namun bukan berarti karena di kampus penulis kata ‘senior dan “junior” jarang digunakan akhirnya saya mengkritisi, tetapi karena saya menilai secara pribadi kata tersebut Nampak tidak etis dalam lembaga pendidikan. Dalam padangan penulis selain dalam ospek  dengan mengunakan kata senior ini sering kali mengungkung kemampuan bagi yang junior  dalam berbicara oleh karena yang senior selalu diposisikan sebagai yang tertinggi dan bahkan bisa jadi mengkalim dirinya yang selalu benar, sementara dalam lembaga pendidikan yang di utamakan adalah produktifitas berpikir, bukan sebuah identitas yang tidak jelas. Mungkin agak hiperbola jika saya katakana ini adalah ‘kasta’ yang dibangun oleh kultur pendidikan, tetapi memang nyatanya seperti demikian yang terjadi, faktalah yang meringankan penulis untuk berbicara demikian. Sangatlah tidak bijak jika ospek dalam lembaga pendidikan melampau ospek-ospek yng di gunakn oleh orang-orang militer saat pendidikan, jika militer menerapkan hal demikian tidaklah mengherankan karena memang itu adalah persyaratan untuk menguji stamina fisik dan juga mental. Tapi apa jadinya jika model tersebut di terapkan dalam lembaga pendidikan seperti kampus, ini sama sekali tidak sinkron dengan apa yang dicita-citakan lembaga pendidikan. Dalam penyelenggaran ospek yang dilakukan oleh senior mahsiswa yang tidak sesuai dengan syarat lembaga pendidikan misalkan di suruh lari di lapangan yang kapasitanya sebesar lapangan bola, dan itu dilakukan beberapa kali dan kecenderungan itu dilakuka di matahari yang panas, dan tidak disediakan air minum, lalu sisi apa yang di kemabangkan jika di korelasikan dengan pendidikan?,di botakin semabari di perintahkan oleh seniornya untuk pusap, lari, minum air di gelas kemudian di join ke beberap peserta ospek? Ada kaitan tidak dengan pendidikan ?, dan bayangkan jik hl ini terus di kembangkn dri genersi-ke generasi dan mengkar dalam kultur pendidikn kita maka berhenti kita bicara tentang pendidikan yang berbasis pengembangan pemikiran yang lebih maju.

1 comment: